Ada Tantrum, Ada Sensory Meltdown, Pahami Bedanya!

Tantrum pada Anak Usia 2 Tahun

Anak usia 2 tahun seringkali menunjukkan tingkah laku yang mengejutkan dan menguji kesabaran orangtuanya. Mereka bisa terlihat sangat manja dan sulit untuk diam, terutama ketika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan. Reaksi mereka bisa beragam, mulai dari menangis dengan tersedu-sedu, merengek, hingga berteriak dengan keras. Namun, reaksi yang paling sulit ditangani adalah ketika anak tantrum dengan cara berteriak, menendang, dan bahkan mengguling-gulingkan diri di lantai.

Tentu saja, sebagai orangtua kita diharapkan untuk tetap sabar dalam menghadapi tantrum anak. Namun, tidak semua orangtua mampu melakukan hal tersebut dengan mudah. Banyak ibu-ibu yang berpendapat bahwa menghadapi tantrum anak bukanlah hal yang mudah seperti yang sering disebutkan dalam konten di media sosial.

Yasmine Nur Edwina, M.Psi., seorang psikolog anak dan keluarga, menjelaskan bahwa ada hal lain yang perlu diperhatikan oleh orangtua ketika anak mengalami tantrum. Selain mengontrol emosi kita sendiri, kita juga perlu memahami perasaan anak. Anak usia 2 tahun sedang mengalami perkembangan fisik dan motorik yang pesat. Mereka sudah bisa mengguling-gulingkan tubuhnya, menendang, dan melakukan gerakan-gerakan lain yang menunjukkan kemampuan fisik yang berkembang dengan baik.

Meskipun kemampuan sosial dan emosional anak sudah berkembang, mereka masih belum bisa mengontrol emosinya dengan baik. Mereka sudah bisa berbicara, walaupun masih terbatas, dan seringkali menggunakan kata-kata sederhana ketika mereka marah. Namun, mereka masih kesulitan untuk mengungkapkan semua perasaan mereka dengan kata-kata. Oleh karena itu, tantrum seringkali diungkapkan dalam bentuk menangis dan berteriak.

Walaupun bagian otak yang berkaitan dengan perencanaan dan kontrol diri belum berkembang optimal pada usia 2 tahun, bagian otak yang berkaitan dengan emosi sudah aktif bekerja. Anak sudah bisa merasakan emosi seperti marah dan sedih, namun mereka masih kesulitan untuk menentukan apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Baca Juga:  25 Kata Bahasa Korea Beserta Artinya di Drakor, Dari Kamsahamnida Sampai Omo!

Hal ini sebenarnya lebih penting untuk dipahami daripada cara mengontrol emosi kita saat menghadapi tantrum anak. Kita sebagai orangtua perlu memiliki kemampuan untuk memahami perasaan anak. Karena selain tantrum, anak juga mungkin mengalami sensory meltdown.

Sensory Meltdown: Ketika Anak Terlalu Overstimulasi

Amanda Morin, penulis buku The Everything Parent’s Guide to Special Education, menjelaskan bahwa tantrum adalah reaksi emosional ketika anak berusaha untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan. Sedangkan sensory meltdown adalah reaksi emosional yang terjadi ketika anak merasa tidak nyaman atau kewalahan akibat terlalu banyak rangsangan sensorik yang mereka terima.

Anak yang mengalami tantrum biasanya akan merasa tenang jika mereka diberikan kesempatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, anak yang mengalami sensory meltdown justru tidak akan berhenti menangis, berteriak, atau berbuat kerusuhan meskipun mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Hal ini terjadi karena masalah yang dihadapi anak bukanlah pada mainan atau benda yang mereka inginkan, tetapi pada gangguan respon tubuh mereka terhadap rangsangan sensorik.

Anak yang mengalami sensory meltdown tidak paham apa yang mereka inginkan dan tidak memiliki tujuan tertentu dalam perilaku mereka. Mereka merasa tidak nyaman dan kewalahan karena terlalu banyak rangsangan sensorik yang mereka terima.

Penyebab Anak Mengalami Sensory Meltdown

Anak dapat mengalami sensory meltdown ketika mereka mendapatkan terlalu banyak rangsangan atau ketika mereka merasa kurang atau membutuhkan stimulasi sensorik. Hal ini sering terjadi ketika ada perubahan situasi atau rutinitas yang dianggap menantang bagi anak, kesulitan dalam beradaptasi dengan perubahan, kesulitan dalam berkomunikasi dengan jelas, kurang tidur, dan kekurangan nutrisi.

Perubahan situasi atau rutinitas bisa membuat anak merasa tidak nyaman dan kewalahan karena mereka belum terbiasa dengan situasi baru tersebut. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menjalani masa transisi dan memerlukan waktu untuk beradaptasi.

Baca Juga:  School Review: SD Lentera Insan Depok

Ketidakmampuan dalam berkomunikasi dengan jelas juga dapat menyebabkan anak mengalami sensory meltdown. Ketika mereka tidak bisa mengungkapkan perasaan atau keinginan mereka dengan kata-kata, mereka seringkali menggunakan perilaku yang berlebihan sebagai bentuk ekspresi diri.

Kurang tidur dan kekurangan nutrisi juga dapat memengaruhi keadaan emosional anak. Ketika anak tidak mendapatkan cukup tidur atau gizi yang cukup, mereka cenderung lebih mudah marah dan sulit mengontrol emosinya.

Cara Mengatasi Sensory Meltdown pada Anak

Jika anak mengalami sensory meltdown, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka mengatasi keadaan tersebut. Pertama-tama, kita perlu mengurangi rangsangan sensorik di sekitar mereka. Jika anak berada di tempat yang ramai dan bising, kita bisa mengajak mereka pindah ke tempat yang lebih sunyi dan tenang. Ajak anak untuk menarik napas panjang sambil kita memeluk atau menggendong mereka untuk menenangkan mereka.

Selain itu, kita juga bisa membantu anak dengan terapi khusus yang disediakan oleh dokter di klinik tumbuh kembang anak. Terapi ini akan membantu anak dalam mengolah rangsangan sensorik yang mereka terima. Terutama jika anak menunjukkan tanda-tanda seperti menolak kontak mata, meludah, cenderung ingin kabur, mengumpat, meringkuk seperti posisi janin, berteriak, menutup mata dan telinga, memukul dan mendorong benda di depan mereka, serta diam dan tidak bergerak.

Dalam menghadapi sensory meltdown, penting bagi orangtua untuk tetap tenang dan sabar. Kita perlu memahami bahwa anak sedang mengalami kesulitan dalam mengolah rangsangan sensorik yang mereka terima. Dengan memberikan dukungan dan bantuan yang dibutuhkan, kita dapat membantu anak mengatasi sensory meltdown dengan lebih baik.

Kesimpulan

Tantrum dan sensory meltdown adalah dua hal yang berbeda. Tantrum terjadi ketika anak berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, sedangkan sensory meltdown terjadi ketika anak merasa tidak nyaman atau kewalahan akibat terlalu banyak rangsangan sensorik yang mereka terima.

Baca Juga:  7 Manfaat Buah Pir untuk Ibu Hamil

Sebagai orangtua, kita perlu memahami perbedaan antara tantrum dan sensory meltdown agar dapat memberikan respon yang tepat saat anak mengalami keadaan tersebut. Saat menghadapi tantrum, kita perlu bersabar dan mengajarkan anak cara mengontrol emosinya. Namun, saat menghadapi sensory meltdown, kita perlu mengurangi rangsangan sensorik di sekitar anak dan memberikan dukungan serta terapi yang dibutuhkan oleh anak.

Dalam menghadapi tantrum dan sensory meltdown, kesabaran dan pemahaman adalah kunci utama. Sebagai orangtua, kita harus selalu siap untuk mendukung dan membantu anak dalam mengatasi tantangan yang mereka hadapi dalam perkembangan mereka. Dengan memberikan perhatian dan dukungan yang tepat, kita dapat membantu anak tumbuh dan berkembang dengan baik.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com