Steril: Psikologis dan Agama


I. Latar Belakang
Pada artikel ini, saya ingin berbagi pengalaman pribadi tentang keputusan saya untuk menjalani tubektomi sebagai metode kontrasepsi permanen setelah melahirkan anak keempat. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan fisik dan psikis, serta pandangan agama dan kemajuan ilmu kedokteran. Saya ingin menjelaskan lebih detail tentang proses pengambilan keputusan ini dan bagaimana saya akhirnya memutuskan untuk menjalani tubektomi.

II. Pengalaman Kehamilan keempat
Kehamilan keempat saya sangat berbeda dengan kehamilan sebelumnya. Saya merasa lebih lelah, energi cepat habis, dan beberapa kali mengalami nyaris pingsan. Ini menjadi perhatian bagi saya karena saya merasa bahwa tubuh saya sudah sangat lelah dan tidak kuat lagi untuk menghadapi kehamilan dan persalinan yang berisiko tinggi. Selain itu, usia saya juga sudah mendekati 35 tahun, yang menjadi batas usia saya untuk tidak ingin hamil lagi. Meskipun saya sudah memiliki tiga anak, saya merasa bahwa kehamilan keempat ini menjadi lebih sulit bagi saya.

III. Pertimbangan Privilege sebagai Perempuan
Sebelum saya memutuskan untuk menjalani tubektomi, saya harus mempertimbangkan apakah saya siap melepas privilege saya sebagai seorang perempuan. Keputusan ini tidak mudah karena sterilisasi dianggap haram oleh beberapa agama karena memutus kemungkinan reproduksi secara permanen. Namun, saya merasa bahwa saya sudah memiliki cukup banyak anak dan tubuh saya sudah tidak mampu lagi untuk menghadapi kehamilan dan persalinan yang berisiko tinggi. Saya beruntung karena suami dan keluarga saya mendukung penuh keputusan saya. Ibu saya bahkan mengatakan bahwa dia lebih khawatir melihat anak saya berentetan daripada saya sendiri.

IV. Pertimbangan Risiko dan Keberhasilan Tubektomi
Sebelum menjalani tubektomi, saya mencari informasi tentang prosedur ini dan risiko serta keberhasilannya. Banyak orang memberikan saran dan pendapat, baik yang membangun maupun yang menakuti. Banyak cerita tentang orang-orang yang sudah menjalani sterilisasi tapi masih kebobolan lagi, atau cerita tentang pasangan yang sudah terlanjur memutuskan steril tapi terjadi musibah terhadap anak-anak mereka. Namun, saya menyadari bahwa ini hanyalah cerita dan belum tentu terjadi pada setiap orang yang menjalani tubektomi. Selain itu, saya juga menemukan informasi bahwa tubektomi dapat disambung kembali melalui prosedur microsurgery. Meskipun biaya untuk prosedur ini lebih mahal dari operasi caesar, namun masih terjangkau dan memungkinkan bagi mereka yang ingin hamil lagi di masa depan.

Baca Juga:  Berburu Celana Untuk Anak Perempuan

V. Keputusan Final
Setelah mempertimbangkan semua faktor dan informasi yang ada, saya akhirnya memutuskan untuk menjalani tubektomi. Saya merasa bahwa tubuh saya sudah tidak mampu lagi untuk menghadapi kehamilan dan persalinan yang berisiko tinggi. Selain itu, saya juga merasa bahwa keputusan ini tidak akan menghalangi saya untuk menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang dan memberikan perhatian kepada anak-anak saya. Saya percaya bahwa keputusan ini adalah yang terbaik bagi saya dan keluarga saya.

VI. Kesimpulan
Setiap individu memiliki pertimbangan yang berbeda dalam memilih metode kontrasepsi. Bagi saya, menjalani tubektomi adalah keputusan yang tepat karena saya merasa bahwa tubuh saya sudah tidak mampu lagi untuk menghadapi kehamilan dan persalinan yang berisiko tinggi. Saya juga merasa bahwa keputusan ini tidak akan menghalangi saya untuk menjadi seorang ibu yang penuh kasih sayang dan memberikan perhatian kepada anak-anak saya. Meskipun ada risiko dan pertimbangan agama yang perlu dipertimbangkan, saya merasa bahwa keputusan ini adalah yang terbaik bagi saya dan keluarga saya. Setiap individu memiliki hak untuk memilih metode kontrasepsi yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan mereka, dan saya berharap bahwa cerita saya dapat memberikan wawasan dan pemahaman lebih tentang proses pengambilan keputusan ini.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com