Ketahui Makna 13 Rangkaian Upacara Adat Panggih di Pernikahan Putri Tanjung  


Resmi menikah, Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo menggunakan upacara adat Jawa yang disebut Panggih. Upacara Panggih adalah salah satu prosesi pernikahan adat Jawa yang dilakukan setelah akad nikah. Panggih bermakna bertemu, dan upacara ini bertujuan agar kedua mempelai yang baru menikah dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia disertai restu dari orangtua dan sanak keluarga.

Upacara Panggih ini terdiri dari beberapa rangkaian prosesi yang memiliki makna dan simbolisasi tersendiri. Mari kita bahas lebih detail tentang setiap rangkaian upacara ini.

1. Penyerahan Pisang Sanggan
Upacara dimulai dengan penyerahan pisang Sanggan. Sanggan adalah dua sisir pisang raja matang di pohon, sirih ayu, kembang telon yang berisi bunga mawar, melati, kenanga, dan benang lawe. Penyerahan ini dilakukan oleh orangtua mempelai pria kepada orangtua mempelai wanita sebagai bentuk tebusan untuk putri mereka.

2. Menukar Kembang Mayang
Rangkaian selanjutnya adalah menukar kembang mayang. Kembar mayang adalah anyaman janur, bunga, dan buah yang dibentuk sedemikian rupa agar terlihat indah. Kembar mayang ini melambangkan cita-cita, harapan, dan kemauan untuk bersama-sama menciptakan kebahagiaan dan keselamatan.

3. Balangan Gantal atau Lempar Sirih
Prosesi berikutnya adalah balangan gantal atau lempar sirih. Balangan berarti melempar, sedangkan gantal adalah daun sirih yang diisi dengan bunga pinang, kapur sirih, tembakau, dan gambir yang diikat dengan benang lawe. Upacara ini dilakukan dengan kedua mempelai berhadap-hadapan dengan jarak sekitar dua meter. Mempelai pria melemparkan gantal ke dahi, dada, dan lutut mempelai wanita, dan mempelai wanita juga membalas dengan melempar gantal ke dada dan lutut mempelai pria. Rangkaian ini memiliki makna saling melemparkan kasih sayang.

4. Menginjak Telur atau Ranupada
Rangkaian selanjutnya adalah menginjak telur atau ranupada. Ranupada berasal dari kata ranu yang berarti air dan pada yang berarti kaki. Perlengkapan yang digunakan untuk ranupada terdiri dari gayung, bokor, baki, bunga sritaman, dan telur ayam. Prosesi ini dilakukan dengan pemaes mengambil telur ayam yang disentuhkan di dahi mempelai pria dan wanita. Setelah itu, telur ayam dipecahkan di kaki mempelai pria dan akan dibasuh dengan air bersih oleh mempelai wanita. Prosesi ini melambangkan bentuk bakti istri kepada suami agar rumah tangga bahagia dan harmonis.

Baca Juga:  Perkembangan Sosial Emosional, Ini Tahapannya pada Bayi

5. Sindur Binayang atau Selimut Sindur
Sindur Binayang atau Selimut Sindur dilakukan dengan orangtua mempelai wanita menyelimuti kedua mempelai dengan kain sindur. Kemudian, orangtua mempelai wanita pelan-pelan berjalan bersama menuju kursi pelaminan.

6. Pangkon atau Bobot Timbang
Setelah sampai di pelaminan, ayah mempelai wanita memangku kedua mempelai di pelaminan dan disaksikan dari samping oleh ibu mempelai wanita.

7. Tanam Jero
Dilanjutkan dengan prosesi tanem jero, di mana kedua mempelai berdiri di depan kursi mempelai. Kemudian, ayah mempelai wanita akan mendudukkan kedua mempelai ke kursi pelaminan sambil memegang dan menepuk-nepuk bahu keduanya, dengan disaksikan oleh ibu mempelai wanita. Prosesi ini memiliki makna kedua mempelai telah “ditanam” bersama agar menjadi pasangan yang mandiri.

8. Kacar Kucur atau Tampa Kaya
Prosesi ini melambangkan suami yang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk memberikan nafkah kepada istri. Kacar kucur terdiri dari keba atau kantong tikar anyaman yang berisi beras kuning, kacang, kedelai, uang logam, dan kembang telon seperti bunga melati, bunga mawar, dan bunga kenangan.

9. Dahar Klimah
Dahar Klimah adalah prosesi pernikahan di mana kedua mempelai saling menyuapi satu sama lain. Makanan yang disajikan terdiri dari nasi kuning yang piringnya dipegang oleh mempelai wanita. Setelah itu, mempelai pria memberikan segelas air putih kepada mempelai pria. Prosesi ini menyimbolkan kerukunan suami istri akan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga.

10. Bubak Kawah atau Ngunjuk Rujak Degan
Prosesi dilanjutkan dengan upacara ngunjuk rujak atau minum rujak degan yang dilakukan kedua mempelai dan orangtua mempelai wanita. Minuman ini terbuat dari serutan kelapa muda yang dicampur gula merah, sehingga rasanya segar dan manis. Prosesi ini bermakna kebersamaan dan kerukunan.

Baca Juga:  Kenali Keterlambatan Bicara dan Berbahasa pada Anak

11. Mapag Besan atau Besan Datang Berkunjung
Orangtua mempelai pria tidak diperkenankan hadir di pelaminan selama prosesi panggih sampai ngunjuk rujak degan selesai. Maka dari itu, saatnya untuk mapag besan atau menjemput besan ke pelaminan.

12. Sungkeman atau Pangabekten
Pada prosesi ini, kedua mempelai bersembah sujud di pangkuan kedua orangtua untuk memohon doa restu dan memohon maaf atas segala kesalahan serta meminta didoakan agar menjadi keluarga yang bahagia. Sungkeman dilakukan sebagai bentuk berbakti dan patuh dari kedua mempelai terhadap kedua orangtua.

13. Rayahan atau Tumplak Punjen
Tumplak berarti menuang, sedangkan punjen berarti hasil usaha dan jerih payah yang dikumpulkan orangtua. Makna prosesi tumplak punjen adalah sebagai tanda telah selesainya kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya. Prosesi ini juga biasanya dilakukan orangtua mempelai wanita dengan memberikan bungkusan-bungkusan kepada anak dan menantunya. Hal ini sebagai bentuk teladan orangtua kepada anak-anaknya mengenai nilai kerelaan, hidup hemat, dan tidak suka merebut hak orang lain.

Upacara Panggih ini diakhiri dengan pemberian ucapan selamat kepada kedua mempelai dan dilanjutkan dengan resepsi pernikahan. Dalam upacara ini, Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo menggunakan adat Jawa Solo, dengan semua rangkaian prosesi yang dilakukan dengan khidmat dan penuh makna.

Pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo ini menjadi sorotan publik karena kedua mempelai berasal dari keluarga yang terkenal dan memiliki latar belakang yang sukses. Putri Tanjung adalah putri dari Chairul Tanjung, seorang konglomerat dan CEO Transmedia Digital Lifestyle. Sementara itu, Guinandra Jatikusumo juga memiliki latar belakang yang cemerlang sebagai seorang pengusaha muda.

Tidak hanya itu, pernikahan ini juga dihadiri oleh beberapa tamu terhormat, termasuk Presiden Joko Widodo dan istrinya Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, serta beberapa mantan presiden dan wakil presiden. Keberadaan para tokoh tersebut sebagai saksi pernikahan menambah kemegahan acara ini.

Dalam acara pernikahan yang mewah ini, Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo terlihat begitu bahagia dan penuh harap. Mereka berdua tampak serasi dalam balutan busana tradisional Jawa yang elegan. Semua tamu yang hadir juga terkesan dengan keindahan dan kemegahan upacara adat yang dijalankan dengan khidmat dan penuh makna.

Baca Juga:  20 Daftar Fasilitas Kesehatan Konsultasi Psikolog dan Psikiater dengan Menggunakan BPJS

Pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo ini menjadi inspirasi bagi banyak pasangan muda di Indonesia. Mereka menunjukkan bahwa pernikahan dapat dijalani dengan penuh kebahagiaan dan keharmonisan, serta tetap memegang teguh nilai-nilai adat dan budaya setempat.

Upacara adat Panggih ini juga mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya Indonesia, terutama dalam pernikahan. Meskipun zaman terus berkembang dan budaya Barat semakin mempengaruhi gaya hidup masyarakat, namun tidak ada salahnya untuk tetap mempelajari, menghormati, dan melestarikan budaya sendiri.

Dengan melaksanakan upacara adat Panggih, Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo juga memberikan contoh kepada generasi muda bahwa tradisi dan adat istiadat adalah warisan yang berharga yang harus kita lestarikan. Budaya adalah identitas kita sebagai bangsa, dan melalui pernikahan adat ini, mereka turut menjaga warisan budaya Jawa agar tetap hidup dan berkembang.

Pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo ini juga menjadi momentum bagi masyarakat Indonesia untuk semakin menghargai dan mendukung perkembangan industri kreatif dan digital di Tanah Air. Putri Tanjung sebagai CEO Transmedia Digital Lifestyle telah membuktikan bahwa wanita Indonesia juga mampu berprestasi di bidang tersebut.

Dengan adanya pernikahan ini, diharapkan masyarakat dapat melihat bahwa kesuksesan tidak hanya berada di dunia bisnis atau politik, namun juga dalam menjalin hubungan yang harmonis dan bahagia dalam pernikahan. Keberhasilan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo dalam menggelar pernikahan adat Jawa ini menjadi inspirasi bagi banyak pasangan muda untuk menjalani pernikahan dengan penuh cinta, pengertian, dan saling menghormati.

Selamat untuk Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo atas pernikahan mereka. Semoga kehidupan rumah tangga mereka penuh kebahagiaan, keberkahan, dan keharmonisan. Semoga mereka juga tetap menjadi contoh bagi banyak pasangan muda di Indonesia dalam menjalani pernikahan yang bahagia dan sukses.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com