Berhasil Menjadi Ibu Berkat Bayi Tabung


Perjuangan Mempertahankan Harapan: Kisah Program Bayi Tabung

Heading 2: Keputusan Mengikuti Program Bayi Tabung
Kehamilan adalah anugerah yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan suami istri. Namun, tidak semua perempuan memiliki kemudahan untuk mengandung dan melahirkan anak. Beberapa di antaranya menghadapi hambatan dan rintangan yang membutuhkan perjuangan ekstra. Salah satu metode yang dapat dijadikan pilihan adalah program Bayi Tabung atau In Virto Fertilization (IVF).

Pada tahun kelima pernikahan kami, saya dan suami memutuskan untuk mengikuti program bayi tabung. Keputusan ini tidak diambil dengan mudah, mengingat biaya yang cukup menguras dan proses yang tidak mudah. Namun, kami yakin bahwa hasilnya akan sepadan dengan perjuangan yang kami lakukan.

Heading 2: Perjuangan Mengatasi Hambatan PCOS
Sebelum memulai program bayi tabung, saya menghadapi kendala polycystic ovary syndrome (PCOS). Kondisi ini membuat proses kehamilan menjadi sulit. Namun, kami tidak menyerah dan tetap mempertahankan harapan untuk memiliki anak.

Pada tahun 2015, menjelang akhir bulan Ramadhan, kami memulai program bayi tabung. Selama dua minggu, saya menjalani rangkaian pengobatan dengan diberikan suntikan untuk merangsang perkembangan sel telur agar siap untuk dibuahi. Dokter memberikan dosis yang berbeda dibandingkan dengan program inseminasi sebelumnya, mengingat rekam jejak kegagalan yang pernah saya alami.

Heading 2: Proses Ovum Pick Up (OPU)
Proses program bayi tabung tidaklah mudah. Selama dua minggu, saya harus bolak-balik ke rumah sakit untuk melakukan tes darah guna memantau perkembangan hormon dan kondisi sel telur. Setelah hari ke-12, saya menerima kabar bahwa Ovum Pick Up (OPU) akan dilakukan di hari ke-14.

Pagi hari di hari yang ditentukan, saya datang ke rumah sakit. Sebelum masuk ruang operasi, seorang suster memasangkan jarum untuk menginfus obat bius yang akan digunakan. Sementara itu, suami diminta untuk pergi ke ruang khusus guna mengambil sampel sperma.

Baca Juga:  5 Tips Ajak si Kecil Nonton Film di Bioskop

Setelah tidur selama kurang lebih satu jam, saya terbangun dengan bantuan suster. Mereka memberitahukan bahwa telah berhasil mengambil 19 sel telur. Kabar ini membuat saya berharap agar hasilnya akan baik ketika sel telur tersebut disatukan dengan sperma.

Heading 2: Proses Embryo Transfer (ET)
Setelah proses OPU selesai, langkah selanjutnya adalah proses Embryo Transfer (ET). Kami bertemu dengan embryologist pada hari ketiga setelah OPU. Layar komputer menampilkan foto-foto embrio yang terbentuk. Ada 14 embrio yang siap untuk dipindahkan ke dalam rahim.

Kami merasa senang dengan perkembangan ini, namun embryologist menyarankan untuk melakukan ET pada hari kelima. Embrio yang mencapai tahap blastocyst memiliki daya tahannya yang lebih kuat. Akhirnya, pada hari kelima, kami melakukan proses ET. Prosesnya relatif cepat dan tidak menyakitkan, meskipun ada ketidaknyamanan karena harus mempertahankan kandung kemih yang penuh agar rahim dapat terlihat jelas saat USG.

Heading 2: Masa Penantian dan Harapan
Setelah proses ET, dimulailah masa penantian selama dua minggu. Selama masa ini, saya diwajibkan untuk bersantai, makan secara sehat, dan menjauhkan diri dari stres. Meskipun terdengar mudah, tetapi menjalani masa penantian ini tidaklah semudah yang dibayangkan.

Saya harus membatasi diri dalam berbicara dengan orang lain dan tidak mengakses informasi mengenai tanda-tanda kehamilan. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga mood dan menghindari perubahan hormon yang dapat memengaruhi hasil program bayi tabung.

Heading 2: Tes Kehamilan dan Hasil Positif
H-2 sebelum tes kehamilan, saya terbangun tengah malam dengan perasaan cemas dan sedih. Saya merasa bahwa saya tidak hamil dan tidak merasakan tanda-tanda kehamilan sama sekali. Tubuh saya kembali seperti semula sebelum menjalani semua proses ini. Suami dengan sabar mencoba menenangkan saya dan mengatakan bahwa hasilnya tidak menjadi masalah. Jika hasilnya negatif, kami masih memiliki sisa embrio yang telah dibekukan untuk mencoba kembali.

Baca Juga:  Rahasia Membesarkan Anak Cerdas

Pagi-pagi, ibu dan saya pergi ke laboratorium untuk tes kehamilan yang terdiri dari tes darah dan urin. Hasilnya baru akan diberikan pada sore hari. Saya sudah pasrah dengan apapun hasilnya. Ketika kurir datang mengantarkan hasilnya, suami membukanya dengan muka sok cool. Dan betapa terkejutnya kami saat suami berkata bahwa tulisannya positif. Saya tidak bisa mempercayainya dan langsung menelepon laboratorium untuk memastikan. Sumringah terpancar dari wajah saya saat mendengar jawaban yang membenarkan bahwa saya hamil.

Heading 2: USG Pertama dan Keajaiban Satu Janin
Dua minggu setelah tes kehamilan, kami menjalani USG pertama untuk mengetahui jumlah janin yang berkembang. Mata kami tertuju pada layar yang menampilkan isi rahim. Sebuah bulatan hitam dengan detak jantung yang terlihat jelas adalah calon bayi kami. Meskipun hanya satu janin, kebahagiaan yang kami rasakan tidak terhingga.

Semoga kisah perjuangan kami dalam program bayi tabung ini dapat menjadi inspirasi dan semangat bagi pasangan lainnya yang sedang berjuang untuk memiliki anak. Teruslah berdoa, berusaha, dan tidak menyerah. Keajaiban bisa datang pada setiap orang dengan cara yang berbeda.

Ditulis oleh: Monik Wulandari


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com