4 Penyebab Bayi Muntah Menyembur yang Perlu Diwaspadai


Ciri-ciri Muntah Menyembur pada Bayi

Bayi mengalami gumoh setelah menyusu adalah hal yang wajar terjadi sebab sistem pencernaannya memang masih belum berkembang dengan sempurna. Saat gumoh, bayi akan mengeluarkan kembali sedikit ASI atau susu yang telah ia minum sebelumnya yang terlihat seperti menetes atau mengalir dari mulutnya.

Setelah gumoh, bayi akan kembali membaik dengan cara digendong berdiri untuk disendawakan. Lain halnya dengan muntah menyembur atau yang disebut juga dengan muntah proyektil.

Bayi muntah menyembur mempunyai ciri yang berbeda dengan gumoh. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Muntah terjadi dengan kuat dan cepat.
2. Cairan muntah menyembur jauh.
3. Kadar cairan yang dimuntahkan cenderung banyak.
4. Tidak ditemui tanda rewel sebelum muntah.
5. Dapat terjadi setelah menyusu atau beberapa jam setelahnya.
6. Sangat jarang buang air kecil dan buang air besar.
7. Berlangsung terus-menerus seolah bayi menolak diberi asupan cairan.

Ketika Bunda melihat bayi sering muntah, perhatikanlah gejala yang ditampakkan. Apabila bayi terus menolak menyusu, sebaiknya segera periksakan ke dokter karena dikhawatirkan ia akan terkena dehidrasi karena kekurangan asupan cairan.

Apa Penyebab Bayi Muntah Menyembur?

Bayi yang muntah menyembur bisa terjadi karena beberapa alasan berikut:

1. Stenosis pilorus

Penyebab bayi muntah menyembur lebih sering disebabkan oleh stenosis pilorus. Apa itu? Ini adalah sebuah kondisi saat pilorus (saluran antara usus kecil dan lambung) mengalami penyempitan. Sebagai akibatnya, bayi akan kesulitan mencerna cairan dan nutrisi yang masuk ke tubuhnya.

Kondisi tersebut kemudian akan menutup jalur makanan bayi dari perut ke usus kecil. Kondisi stenosis pilorus pada bayi ini biasanya bisa diatasi dengan jalan operasi kecil agar bayi dapat menerima asupan nutrisi pada tubuhnya dengan baik. Bunda tak perlu khawatir, karena operasi ini minim risiko.

Baca Juga:  Etika Makan Siang untuk Para Pekerja, Idealnya Harus Seperti Apa?

2. Terlalu Banyak Menyusu

Bayi yang terlalu banyak minum ASI atau susu juga bisa mengalami muntah proyektil. Pada kondisi ini, bayi harus menelan cepat dan menyebabkan udara yang masuk ke mulutnya menjadi terlalu banyak sehingga akan berpotensi memicu muntah. Untuk bayi yang mengonsumsi susu, udara yang masuk ke perutnya dapat terjadi ketika ia menyusu dari botol dot yang ukurannya terlalu besar bagi usianya.

3. GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

GERD merupakan sebuah gangguan pencernaan yang memiliki gejala kenaikan asam lambung yang terjadi secara berulang dan dalam jangka panjang. GERD tidak hanya bisa menimpa dewasa, tapi juga bayi.

Kondisi ini akan membuat ASI yang masuk ke lambung kembali naik ke kerongkongan bersamaan dengan cairan asam lambung. Jika bayi muntah menyembur karena GERD, cairan yang dimuntahkan akan berwarna hijau atau kuning. Bayi juga akan tampak kesulitan bernapas dan menolak untuk menyusu atau makan.

4. Alergi

Bayi yang mengalami alergi tak mesti selalu muncul gatal, ruam, atau memerah pada kulitnya. Respon alergi bayi terhadap makanan tertentu juga bisa berupa muntah proyektil. Bunda perlu berkonsultasi kepada dokter untuk kemungkinan tersebut. Untuk bayi yang menyusu secara langsung, coba ingat kembali makanan apa yang Bunda konsumsi sebelum menyusui sebagai cara mendeteksi alergi yang dialami bayi.

Cara Mencegah Bayi Muntah Menyembur

Gerak usus (refluks) yang dialami oleh bayi sebenarnya mampu dicegah dengan mengetahui posisi yang benar saat bayi makan atau menyusu. Bunda bisa mencoba beberapa hal berikut ini:

1. Posisikan bayi di sebelah kiri.
2. Menyusui bayi pada posisi tegak.
3. Jangan menggoyang bayi setelah menyusu atau makan.
4. Angkat posisi bayi setelah menyusu atau makan.

Baca Juga:  Hewan apakah aku?

Hal yang Perlu Diwaspadai saat Bayi Muntah Menyembur

Bunda harus waspada saat bayi muntah dengan kuat dan disertai keluarnya cairan selain susu, seperti darah, cairan berwarna kuning atau hijau, atau yang mengandung material yang tampak seperti bubuk kopi.

Jika akibat dari muntah proyektil mengakibatkan bayi terlihat tidak nyaman, seperti terus muntah, tampak pucat, malas menyusu, menangis kesakitan, kurang cairan, dan lemas, segera ambil tindakan dengan membawa bayi ke dokter.

Pada bayi yang sudah makan makanan padat, refluks ringan bisa diatasi dengan cara mengentalkan makanan bayi menggunakan pengental makanan bayi atau tepung jagung.

Pada dasarnya, bayi dan anak-anak memang cenderung kerap muntah dan umumnya akan sembuh dengan sendirinya. Setelah bayi muntah menyembur, ia mungkin akan merasa lapar dan haus.

Agar mencegah ia terserang dehidrasi, maka Bunda bisa memberikan air. Tak hanya mampu mencegah dehidrasi, air juga mampu membersihkan asam lambung di dalam tubuh bayi.

Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang si Kecil selama periode 0-12 bulan, sebaiknya Bunda tetap memberikan si Kecil ASI secara rutin. Sebab, ASI mengandung berbagai nutrisi penting yang dibutuhkan dalam masa tumbuh kembang.

Agar produksi ASI meningkat baik dalam jumlah maupun kualitasnya, Bunda harus mendapatkan energi tambahan sebanyak 500 kalori setiap harinya (AKG 2019) begitu juga dengan protein dan nutrisi penting lainnya. Selain mengonsumsi makanan bergizi, Bunda juga perlu mengonsumsi susu ibu menyusui yang mengandung tinggi DHA untuk mendukung perkembangan otak si Kecil, 9 Asam Amino Esensial (AAE), yaitu protein penting yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh dan harus didapat dari makanan setiap harinya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil yang optimal di 1000 Hari Pertama Kehidupannya serta 9 nutrisi penting lainnya seperti; tinggi asam folat, omega 3 (ALA), Omega 6 (LA), tinggi zat besi, serat pangan inulin, tinggi vitamin C, protein, tinggi kalsium dan tinggi seng untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh Bunda selama periode menyusui dan mendukung produksi ASI.

Baca Juga:  Single Mother itu… Seru!

Namun jika Bunda atau si Kecil mengalami kondisi yang tidak memungkinkan pemberian ASI, Bunda bisa memberikan susu pendamping ASI sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan ya Bu. Pastikan Bunda memilih susu yang mengandung 9 protein asam amino esensial lengkap dan tinggi DHA, karena protein adalah komponen yang penting untuk mendukung tumbuh dan kembang bayi ya, Bu!


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com