2 Kategori Gejala Autisme yang Perlu Diketahui

2 Kategori Gejala Autisme yang Perlu Diketahui

Apa itu penyakit autisme? Autisme adalah sebuah gangguan yang menyerang perkembangan saraf. Gangguan yang saat ini disebut dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) ini akan mempengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan anak untuk berperilaku, berkomunikasi, serta berinteraksi.

Menurut penelitian, gejala autisme bisa terdeteksi saat anak berusia 1-2 tahun. ASD sendiri mencakup beberapa gangguan, seperti sindrom Asperger, childhood disintegrative disorder, gangguan autistik, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS). Jika pertanyaan Bunda mengenai apa itu penyakit autisme sudah terjawab, mari simak beberapa info lainnya mengenai kondisi ini.

Faktor Penyebab Autisme

Ada beberapa faktor penyebab autisme, diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Faktor keturunan. Orang tua yang mengalami autisme lebih berisiko memiliki keturunan dengan autisme juga.
2. Jenis kelamin. Dibandingkan anak perempuan, anak laki-laki memiliki risiko 4 kali lebih tinggi terserang autisme.
3. Kelahiran prematur. Bayi yang terlahir prematur, terutama yang lahir di usia kehamilan 26 minggu atau kurang juga berisiko mengalami autisme.
4. Penularan selama kehamilan. Efek samping terhadap obat-obatan (khususnya obat epilepsi bagi ibu hamil) atau minuman beralkohol yang terjadi selama kehamilan dapat memicu janin di dalam kandungan mengidap autisme.
5. Pengaruh dari gangguan lainnya. Si Kecil bisa mengalami gejala autisme akibat terkena pengaruh dari gangguan lainnya, seperti sindrom Rett, lumpuh otak (cerebral palsy), distrofi otot, sindrom down, sindrom Tourette, dan neurofibromatosis.

Penyebab Autisme

Hingga kini, penyebab autisme masih belum bisa diketahui secara pasti. Meski begitu, para peneliti menemukan adanya beberapa gen mungkin berkaitan dengan ASD. Terkadang gen-gen tersebut muncul lalu bermutasi dengan spontan. Namun pada beberapa kasus lain, penderita juga dapat mewarisi gen tersebut dari orang tuanya.

Baca Juga:  Cacar Air pada si Kecil? Simak Tips Pencegahan dan Penanggulangannya

Pada kasus kelahiran kembar, gejala autisme dapat terjadi karena adanya gen kembar. Contohnya saja jika salah satu anak kembar mengalami autisme, maka kembarannya akan berisiko mengalami gangguan yang sama sekitar 36-95 persen. Area utama otak penderita autisme juga dapat mengalami perubahan sehingga akan berpengaruh pada perilaku dan cara berbicaranya.

Apa Saja Gejala Autisme?

Autisme dapat memiliki efek sosial dan perilaku pada individu. Adapun gejalanya adalah sebagai berikut:

Gejala autisme berdasarkan interaksi sosial
Kategori ini merujuk pada penyandang yang mengalami gangguan dalam berkomunikasi dan berinteraksi sosial. Gejala autisme pada kategori ini meliputi pemakaian bahasa verbal dan nonverbal serta kepekaan terhadap lingkungan sosial.

Gejala autisme berdasarkan perilaku
Kategori ini merujuk pada penyandang yang memiliki gangguan meliputi gerakan berulang yang kaku, pola pikir, dan minat. Gejala autisme berupa gerakan berulang contohnya seperti meremas dan mengetuk-ngetukkan tangan. Ketika rutinitas tersebut terganggu, maka si Kecil akan merasa kesal.

Selain menunjukkan gejala autisme atau ciri-ciri autisme di atas, penyandang kondisi ini umumnya juga cenderung mempunyai masalah di dalam belajar dan kondisi kejiwaan lainnya, seperti depresi, gangguan kecemasan, dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Diagnosa Autisme

Dokter tidak akan melakukan tes khusus untuk mendiagnosa autisme, tapi dari pengamatan dan laporan perilaku. Pada setiap kasus, gejala autisme memiliki tingkatan yang berbeda-beda, tergantung pada:

1. Usia
2. Intelegensi (kemampuan dalam memecahkan masalah, beradaptasi, serta belajar dari pengalaman)
3. Berbagai kebiasaan pribadi lainnya
4. Pengaruh pengobatan

Terdapat setidaknya empat gejala autisme utama jika si Kecil terdiagnosa, yaitu:

1. Tidak peduli terhadap lingkungan sosialnya.
2. Tidak mampu bereaksi normal di dalam pergaulan sosial.
3. Memiliki perkembangan bahasa dan bicara yang tidak normal.
4. Terbatasnya pengamatan atau reaksi terhadap lingkungan atau berulang-ulang.

Baca Juga:  6 Alasan Kenapa Saya Melarang Anak Saya Berteman dengan Siapa Saja

Pengobatan Autisme

Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan. Langkah yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah waspada terhadap gejala autisme sedini mungkin. Walaupun begitu, orang tua masih bisa melakukan beberapa penanganan untuk membantu buah hati yang menunjukkan gejala autisme supaya bisa menyesuaikan diri di kehidupan sehari-hari serta secara optimal mengembangkan potensi yang ada di dalam diri mereka. Masing-masing pengidap bisa mendapatkan tindakan penanganan yang berbeda-beda, tergantung pada gejala autisme yang ditampakkan. Namun penanganan yang umumnya diberikan pada penyandang autisme adalah berupa terapi dengan beberapa pilihan metode sebagai berikut:

1. Terapi keluarga. Metode terapi ini ditujukan bagi orang tua dan keluarga penyandang autisme yang bertujuan agar keluarga dapat mempelajari cara berinteraksi dengan penyandang. Terapi keluarga juga akan mengajari pengidap cara berperilaku dan berbicara secara normal.
2. Terapi komunikasi dan perilaku. Metode terapi ini memberikan berbagai pengajaran pada penyandangnya, seperti kemampuan dasar untuk sehari-hari, baik secara verbal maupun nonverbal.
3. Dengan obat-obatan. Pemberian obat tidak dapat menyembuhkan, tapi bisa mengendalikan gejala autisme. Sebagai contoh adalah obat untuk mengobati depresi, gangguan tidur, kejang, atau masalah perilaku.

Mencegah Autisme

Ketika Bunda melihat si Kecil menunjukkan gejala autisme, maka Bunda harus segera membawanya ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan. Jika si Kecil mendapatkan penanganan secepatnya, maka perkembangan kondisinya akan lebih meningkat secara efektif serta dapat meminimalisir gejala autisme yang lebih buruk.

Mengetahui gejala autisme adalah hal yang penting karena sangat membantu Bunda untuk mengetahui apakah buah hati memiliki tanda mengidap autisme atau tidak. Dengan begitu, Bunda dapat segera melakukan langkah selanjutnya supaya dapat meminimalisir gejala autisme pada si Kecil. Tetap berpikir positif ya, Bu, karena penyandang autisme juga masih bisa berperilaku normal layaknya anak sehat lainnya jika ditangani dengan tepat.

Baca Juga:  Jaga Alat Kelamin Bayi agar Tetap Bersih, Yuk!

Memastikan asupan nutrisi yang sehat bisa jadi salah satu cara untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan si Kecil ke arah yang baik. Jika perlu, Bunda bisa berikan asupan nutrisi pendukung untuk si Kecil.

Dengan mengetahui gejala-gejala autisme dan melakukan penanganan yang tepat, Bunda dapat membantu si Kecil untuk menghadapi kondisi tersebut dengan lebih baik. Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli terkait untuk mendapatkan informasi dan saran yang lebih lanjut. Semoga tulisan ini dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai autisme dan membantu Bunda untuk memberikan perhatian dan penanganan yang tepat bagi si Kecil.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com