Apa Itu Cerebral Palsy? Ini Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Apa Itu Cerebral Palsy? Ini Gejala, Penyebab, dan Pengobatannya

Cerebral palsy adalah suatu kondisi yang terjadi akibat gangguan pada otak dan saraf, yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh. Penyakit ini bersifat permanen dan dapat menyebabkan kecacatan pada penderitanya. Cerebral palsy umumnya terjadi sejak anak masih dalam kandungan, namun bisa juga terjadi saat proses persalinan atau pada dua tahun pertama setelah kelahiran.

Gejala Cerebral Palsy
Cerebral palsy memiliki berbagai gejala yang dapat dialami oleh anak-anak yang terkena penyakit ini. Beberapa gejala umum cerebral palsy meliputi:
1. Penggunaan hanya satu sisi tubuh, seperti menyeret satu tungkai saat merangkak atau menggunakan satu tangan saat menggapai sesuatu.
2. Perkembangan motorik yang terlambat, seperti merangkak atau duduk.
3. Kesulitan dalam melakukan gerakan yang fokus dan tepat, seperti mengambil benda.
4. Gaya berjalan yang tidak normal, seperti berjinjit, berjalan dengan tungkai terbuka lebar, atau berjalan dengan gaya yang tidak stabil.
5. Otot yang kaku atau lemah.
6. Tremor pada bagian tubuh tertentu.
7. Gerakan tubuh yang tidak terkendali (athetosis).
8. Respons yang kurang terhadap sentuhan atau rasa nyeri.
9. Sulit menahan buang air kecil, sehingga sering mengompol meskipun usianya sudah di atas 5 tahun.
10. Gangguan kecerdasan.
11. Gangguan penglihatan dan pendengaran.
12. Gangguan berbicara (disartria).
13. Kesulitan dalam menelan (disfagia).
14. Air liur yang keluar secara terus menerus.
15. Kejang.

Penyebab Cerebral Palsy
Cerebral palsy disebabkan oleh gangguan pada bagian otak yang mengontrol gerakan dan koordinasi tubuh. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan cerebral palsy antara lain:
1. Perubahan pada gen yang mempengaruhi perkembangan otak.
2. Infeksi saat hamil yang menular pada janin, seperti cacar air, rubella, sifilis, toksoplasmosis, dan cytomegalovirus.
3. Gangguan pada suplai darah ke otak janin (stroke janin).
4. Perbedaan golongan darah rhesus antara ibu dan bayi.
5. Kelahiran kembar, terutama jika salah satu bayi meninggal saat lahir.
6. Berat badan bayi yang rendah saat lahir.
7. Kurangnya suplai oksigen pada otak bayi selama proses persalinan.
8. Kelahiran prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu.
9. Kelahiran sungsang, yaitu lahir dengan kaki terlebih dahulu.
10. Radang pada otak atau selaput otak bayi.
11. Penyakit kuning yang merusak otak (kernikterus).
12. Cedera parah di kepala, seperti akibat terjatuh atau kecelakaan.

Baca Juga:  Jenis Perkembangan Bayi 8 Bulan dan Stimulasinya

Jenis Cerebral Palsy
Terdapat empat jenis cerebral palsy yang perlu diketahui, yaitu:
1. Spastic cerebral palsy: Jenis cerebral palsy ini merupakan yang paling umum terjadi, sekitar 75% dari semua kasus cerebral palsy. Pada jenis ini, penderitanya mengalami otot yang kaku dan gerakan yang terbatas, terutama pada kaki, lengan, dan punggung.
2. Dyskinetic cerebral palsy: Jenis ini ditandai dengan gerakan tak terkendali yang sulit dikendalikan. Penderitanya sering mengalami kesulitan dalam bicara dan menelan, serta memiliki postur tubuh yang buruk.
3. Ataxic cerebral palsy: Pada jenis ini, penderita mengalami masalah keseimbangan dan koordinasi tubuh. Gerakan penderitanya lambat dan tidak terkendali, membuatnya sulit dalam berjalan dan duduk secara tegap.
4. Campuran cerebral palsy: Jenis ini adalah kombinasi dari dua atau lebih jenis cerebral palsy yang telah disebutkan di atas.

Faktor Risiko Cerebral Palsy
Cerebral palsy memiliki beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi ini. Beberapa faktor risiko cerebral palsy meliputi:
1. Paparan zat kimia berbahaya saat hamil, seperti herpes, toksoplasmosis, atau infeksi virus zika.
2. Cedera atau infeksi pada ibu saat hamil.
3. Gangguan kehamilan yang menyebabkan janin tidak mendapatkan cukup oksigen.
4. Bakteri meningitis pada bayi yang baru lahir.
5. Pendarahan pada otak bayi yang baru lahir.

Komplikasi Cerebral Palsy
Cerebral palsy dapat menyebabkan berbagai komplikasi pada penderitanya. Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat cerebral palsy meliputi:
1. Kekurangan nutrisi akibat kesulitan menelan makanan.
2. Gangguan kesehatan mental, seperti stres dan depresi.
3. Penyakit paru-paru.
4. Kepadatan tulang yang rendah (osteopenia).
5. Peradangan kronis pada sendi akibat kerusakan tulang rawan.
6. Gangguan penglihatan.
7. Gangguan pendengaran.

Baca Juga:  Resep Kombinasi Daging dan Gandum untuk Keluarga

Pengobatan Cerebral Palsy
Meskipun cerebral palsy bersifat permanen, namun pengobatan dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam beraktivitas secara mandiri. Beberapa metode pengobatan yang umum digunakan pada cerebral palsy meliputi:
1. Pemberian obat-obatan untuk meredakan nyeri atau melemaskan otot yang kaku.
2. Terapi fisik untuk meningkatkan kekuatan otot dan keterampilan motorik.
3. Terapi okupasi untuk meningkatkan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari.
4. Terapi bicara untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan menelan.
5. Operasi bila diperlukan untuk mengatasi kelainan pada tulang atau otot.

Pentingnya Deteksi Dini dan Perawatan yang Tepat
Cerebral palsy merupakan kondisi yang serius dan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penderitanya. Oleh karena itu, deteksi dini dan perawatan yang tepat sangat penting untuk meningkatkan kualitas hidup anak yang terkena cerebral palsy. Jika Anda melihat adanya gejala-gejala cerebral palsy pada anak, segera konsultasikan dengan dokter agar dapat dilakukan penanganan yang tepat.

Dalam hal ini, penting bagi orang tua untuk selalu memantau perkembangan anak dengan baik. Jika terdapat gejala yang mencurigakan, segera periksakan anak ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang akurat. Semakin cepat cerebral palsy terdeteksi, semakin baik pula peluang untuk memberikan perawatan yang tepat dan meningkatkan kualitas hidup anak.

Kesimpulan
Cerebral palsy adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh gangguan pada otak dan saraf, yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh. Penyakit ini bersifat permanen dan dapat menyebabkan kecacatan pada penderitanya. Gejala cerebral palsy meliputi kesulitan dalam gerakan, otot kaku atau lemah, gangguan penglihatan dan pendengaran, serta gangguan berbicara. Penyebab cerebral palsy antara lain perubahan pada gen, infeksi saat hamil, gangguan suplai darah ke otak janin, dan kelahiran prematur.

Baca Juga:  Puding Pisang Kukus

Terdapat empat jenis cerebral palsy, yaitu spastic cerebral palsy, dyskinetic cerebral palsy, ataxic cerebral palsy, dan campuran cerebral palsy. Faktor risiko cerebral palsy meliputi paparan zat kimia berbahaya saat hamil, cedera atau infeksi pada ibu saat hamil, gangguan kehamilan, bakteri meningitis pada bayi baru lahir, dan pendarahan pada otak bayi baru lahir.

Meskipun cerebral palsy bersifat permanen, pengobatan dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan anak dalam beraktivitas secara mandiri. Pengobatan yang umum digunakan meliputi pemberian obat-obatan, terapi fisik, terapi okupasi, terapi bicara, dan operasi bila diperlukan.

Deteksi dini dan perawatan yang tepat sangat penting dalam mengatasi cerebral palsy. Orang tua perlu memantau perkembangan anak dengan baik dan segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat gejala yang mencurigakan. Semakin cepat cerebral palsy terdeteksi, semakin baik pula peluang untuk memberikan perawatan yang tepat dan meningkatkan kualitas hidup anak.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com