Plus Minus Menyekolahkan Anak di Boarding School

Plusnya sekolah di boarding school

Anak dapat mengembangkan kemandiriannya

Salah satu keuntungan utama dari sekolah di boarding school adalah anak dapat mengembangkan kemandiriannya dengan baik. Ketika tinggal di sekolah asrama, anak tidak lagi memiliki bantuan langsung dari orang tua. Mereka harus belajar untuk mengurus diri sendiri, mulai dari mencuci pakaian, merapikan tempat tidur, hingga merencanakan jadwal belajar mereka sendiri. Selain itu, mereka juga harus menghadapi tugas dan tanggung jawab sehari-hari yang harus mereka lakukan dengan mandiri.

Tidak hanya itu, keberadaan teman sebaya di sekolah asrama juga dapat menjadi faktor pendukung dalam mengembangkan kemandirian anak. Teman sebaya yang memiliki tanggung jawab yang serupa dapat memicu motivasi anak untuk melakukan berbagai tugas dengan mandiri. Mereka dapat saling memotivasi dan mendukung satu sama lain dalam menghadapi tantangan sehari-hari di sekolah asrama.

Melalui pengalaman hidup di sekolah asrama, anak-anak juga akan belajar untuk menghadapi berbagai masalah dan tantangan dengan mandiri. Ketika mereka berada jauh dari orang tua, mereka dituntut untuk mencari jalan keluar dan solusi secara mandiri. Mereka menjadi lebih terampil dalam memecahkan masalah dan menghadapi situasi yang sulit. Hal ini akan membantu mereka dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Rasa percaya diri anak juga akan meningkat melalui pengalaman hidup di sekolah asrama. Ketika anak berhasil melakukan berbagai hal secara mandiri dan mendapatkan apresiasi atas usahanya, rasa percaya dirinya akan tumbuh. Mereka akan merasa bangga dengan diri mereka sendiri dan menjadi lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Minusnya sekolah di boarding school

Risiko anak merasa kesepian meningkat

Namun, di balik segala keuntungan tersebut, ada juga beberapa minus yang perlu diperhatikan ketika anak sekolah di boarding school. Salah satunya adalah risiko anak merasa kesepian. Berada di tempat asing dengan larangan untuk bertemu dengan orang terdekat, dalam jangka waktu lama dapat membuat anak merasa kesepian. Terlebih lagi, jika tidak ada sistem atau program yang membantu anak menjalin pertemanan dan membiasakan anak untuk terbuka mengenai pikiran dan perasaannya.

Baca Juga:  Yuk, Ajari si Kecil Mengucap Kata Santun Sejak Dini!

Isu kesepian ini merupakan hal yang paling sering dikeluhkan oleh anak-anak yang bersekolah di boarding school. Mereka merindukan kehadiran orang tua dan keluarga, serta merasa sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang tidak familiar. Kesepian ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak jika tidak ditangani dengan baik.

Berisiko memberikan dampak negatif pada kesehatan mental anak juga merupakan salah satu minus dari sekolah di boarding school. Ketika sekolah tidak mengakomodasi perkembangan kesehatan mental anak, hal ini dapat menyebabkan masalah mental seperti stres, kecemasan, atau depresi. Oleh karena itu, sebuah boarding school seharusnya memiliki atmosfer yang inklusif, program pengembangan emosi, serta adanya akses bagi anak untuk melakukan konsultasi atau konseling jika diperlukan.

Selain itu, sekolah di boarding school juga memiliki risiko membatasi wawasan anak dan paparan terhadap keberagaman. Umumnya, boarding school memiliki karakteristik khusus, seperti sekolah berlandaskan agama atau kelas sosial tertentu. Anak akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki latar belakang yang sama, nilai dan norma yang sama dalam jangka waktu yang cukup lama. Hal ini dapat membatasi pola pemikiran anak serta penerimaannya terhadap keberagaman.

Usia tepat masuk sekolah asrama

Menurut Kara Handali, sebenarnya tidak ada ketentuan pasti mengenai usia yang tepat untuk melepas anak ke boarding school. Namun, ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan, terutama bagi anak usia SMP dan SMA.

Anak usia SMP umumnya sedang merasakan gejolak emosi yang intens. Mood mereka bisa berubah drastis dan mereka seringkali menjadi sangat emosional tanpa memahami penyebabnya. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi selama masa pubertas. Dalam kondisi ini, lingkungan baru yang asing dan membatasi anak untuk bertemu dengan orang terdekat dapat membuat anak lebih sulit mengelola emosinya. Oleh karena itu, di usia awal SMP, anak sangat membutuhkan dukungan dari keluarga.

Baca Juga:  Pertolongan Pertama Saat si Kecil Memar

Sementara itu, pada usia SMA, gejolak emosi anak sudah lebih stabil meskipun masih cenderung naik-turun jika dibandingkan dengan usia dewasa. Anak usia SMA biasanya sudah memiliki keinginan yang lebih terarah dan lebih mampu mengambil keputusan dibandingkan dengan usia SMP. Namun, hal ini juga tergantung pada bagaimana anak dibesarkan dan diarahkan oleh orang tua. Jika anak terbiasa diarahkan untuk mengikuti keputusan orang tua, mereka bisa menjadi kurang mandiri, terlepas dari usia mereka.

Pastikan relasi antara anak dan orangtua hangat

Pandangan anak mengenai dirinya sangat dipengaruhi oleh relasi yang dibangun dalam keluarga. Anak yang memiliki relasi dekat dan hangat dengan orangtua umumnya memiliki konsep diri yang lebih positif. Mereka menjadi lebih mantap menghadapi hal-hal yang asing karena memiliki keluarga sebagai basecamp yang memberi rasa aman. Ketika anak bersekolah di tempat yang asing dan tinggal sendirian jauh dari orang tua, ia akan lebih merasa nyaman dan mampu berkembang lebih optimal.

Sebaliknya, jika relasi antara anak dan orangtua renggang, anak cenderung merasa lebih kesepian dan merasa tidak diharapkan ketika dikirim ke boarding school. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memastikan bahwa relasi antara anak dan orangtua tetap hangat dan dekat. Membangun komunikasi yang baik, saling percaya, dan memberikan dukungan emosional kepada anak sangatlah penting. Dengan begitu, anak akan merasa lebih aman dan termotivasi untuk berkembang di sekolah asrama.

Telaah kembali alasan mengirim anak ke boarding school

Salah satu alasan yang seringkali menjadi pertimbangan orang tua untuk mengirim anak ke boarding school adalah harapan bahwa sekolah tersebut dapat menjadi solusi untuk memperbaiki moral atau agama anak. Misalnya, ada yang meyakini bahwa anak-anak yang dianggap nakal atau berperilaku buruk sebaiknya dikirim ke boarding school agar menjadi anak yang lebih baik.

Baca Juga:  Cara Hadapi Mom Shaming untuk Para Ibu Baru

Namun, alasan ini sebenarnya tidak tepat. Mengirim anak ke boarding school dengan harapan seperti ini justru dapat menghambat perkembangan anak. Anak akan menganggap boarding school sebagai sebuah hukuman dan merasa terancam selama bersekolah. Hal ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental anak dan menghambat perkembangan akademis serta sosial-emosionalnya.

Keputusan untuk mengirim anak ke boarding school sebaiknya tidak hanya didasarkan pada harapan untuk memperbaiki moral atau agama anak, tetapi juga harus mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan anak secara keseluruhan. Diskusikanlah keputusan tersebut dengan anak, terlepas dari usianya, dan usahakan untuk membuat keputusan bersama. Jika masih merasa ragu, mintalah bantuan dari seorang psikolog untuk mendapatkan panduan yang lebih baik.

Dalam kesimpulan, sekolah di boarding school memiliki plus dan minus yang perlu diperhatikan. Keputusan untuk menyekolahkan anak di boarding school sebaiknya didasarkan pada pemahaman yang jelas mengenai keuntungan dan risiko yang terkait. Pastikan juga untuk mempertimbangkan usia anak dan kesiapan mereka secara keseluruhan. Terlebih penting lagi, pastikan bahwa relasi antara anak dan orangtua tetap hangat dan dekat, sehingga anak merasa aman dan mampu berkembang optimal di sekolah asrama.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com