Serba-Serbi Kehamilan Ektopik

Serba-Serbi Kehamilan Ektopik

Bunda mengalami mengalami kram perut yang sangat hebat? Kenali kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan yaitu gangguan kehamilan di saluran leher rahim.

Gejala Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan bisa terjadi karena telur yang sedang dibuahi tidak masuk dengan semestinya ke dalam rahim melainkan tertanam di dindng saluran telur seperti indung telur (ovarium), rongga perut (abdomen), rongga panggul, juga saluran leher rahim (canalis cervicalis uteri). Gangguan kehamilan ini sering terjadi karena tuba falopi rusak akibat peradangan atau bahkan cacat. Adanya ketidakseimbangan hormon atau perkembangan sel telur yang abnormal, bisa menjadi salah satu pemicunya, Bu.

Selain itu, masih ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kehamilan ektopik, seperti:

Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya
Jika Bunda pernah mengalami gangguan kehamilan semacam ini, ada kemungkinan hamil di luar kandungan ini bisa terjadi lagi meski tidak di tempat yang sama.

Peradangan atau infeksi pada rongga panggul
Saat Bunda mengalami peradangan rongga panggul, muncul kemungkinan terjadinya hamil di luar kandungan. Begitu juga dengan radang tuba falopi (salpingitis) atau infeksi rahim yang disebabkan oleh penyakit menular seksual seperti gonore atau chlamydia. Oleh sebab itu, segera periksakan kondisi Bunda sebelum merencanakan kehamilan, ya.

Operasi saluran telur
Risiko terjadinya kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan, juga berkaitan dengan riwayat operasi di bagian tuba falopi yang pernah Bunda lakukan. Biasanya, operasi ini dilakukan untuk menghilangkan kondisi hamil ektopik sebelumnya atau operasi sterilisasi yang biasa disebut dengan ligasi tuba atau “mengikat tuba”.

Perawatan kesuburan
Apabila Bunda melakukan perawatan kesuburan dengan mengonsumsi obat untuk merangsang ovulasi (pelepasan telur), risiko kehamilan ektopik dapat meningkat sekitar empat kali lipat. Selain itu, fertilisasi in-vitro (IVF) juga dapat meningkatkan risiko gangguan kehamilan ini. Hal ini bisa terjadi saat IVF tidak berhasil dan tanpa sengaja dapat menyebabkan kehamilan ektopik.

Baca Juga:  7 Rekomendasi Tempat Beli Daging untuk Malam Tahun Baru, Catat!

Penggunaan Intrauterine Device (IUD)
Kontrasepsi yang di tanam di dalam rahim ini merupakan salah satu alat pengontrol kehamilan yang memiliki peluang berhasil 99 dari 100 kasus. Namun, apabila Bunda tetap mengalami kehamilan setelah menggunakan kontrasepsi jenis ini, ada kemungkinan Bunda bisa mengalami kehamilan ektopik.

Apa Penyebabnya?

Rupanya, terdapat gangguan kehamilan di saluran leher rahimnya. Menurut dokter, kondisi ini dinamakan dengan kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan. Ingin tahu lebih lengkap seputar kondisi kehamilan ini? Yuk, simak ulasan berikut!

Gejala Kehamilan Ektopik

Mual dan muntah yang disertai dengan rasa nyeri di bagian perut bagian bawah. Terkadang juga disertai dengan diare.
Terjadi pendarahan ringan. Berbeda dengan pola menstruasi biasanya, seringkali pendarahan ini hilang dan timbul dengan warna merah yang gelap atau terang.
Nyeri pada perut bagian bawah.
Kram perut yang lebih hebat dibandingkan saat menstruasi.
Nyeri pada bahu, leher, atau rektum.
Lemas dan pusing.
Nyeri hanya pada satu sisi tubuh.
Saat tuba falopi pecah, rasa nyeri dan pendarahan yang terjadi bisa sangat parah dan dapat menyebabkan Bunda pingsan.

Apa Penyebabnya?

Kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan bisa terjadi karena telur yang sedang dibuahi tidak masuk dengan semestinya ke dalam rahim melainkan tertanam di dindng saluran telur seperti indung telur (ovarium), rongga perut (abdomen), rongga panggul, juga saluran leher rahim (canalis cervicalis uteri). Gangguan kehamilan ini sering terjadi karena tuba falopi rusak akibat peradangan atau bahkan cacat. Adanya ketidakseimbangan hormon atau perkembangan sel telur yang abnormal, bisa menjadi salah satu pemicunya, Bu.

Selain itu, masih ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kehamilan ektopik, seperti:

Baca Juga:  Bu, Ini Cara Mudah Menghitung Usia Kehamilan

Pernah mengalami kehamilan ektopik sebelumnya
Jika Bunda pernah mengalami gangguan kehamilan semacam ini, ada kemungkinan hamil di luar kandungan ini bisa terjadi lagi meski tidak di tempat yang sama.

Peradangan atau infeksi pada rongga panggul
Saat Bunda mengalami peradangan rongga panggul, muncul kemungkinan terjadinya hamil di luar kandungan. Begitu juga dengan radang tuba falopi (salpingitis) atau infeksi rahim yang disebabkan oleh penyakit menular seksual seperti gonore atau chlamydia. Oleh sebab itu, segera periksakan kondisi Bunda sebelum merencanakan kehamilan, ya.

Operasi saluran telur
Risiko terjadinya kehamilan ektopik atau hamil di luar kandungan, juga berkaitan dengan riwayat operasi di bagian tuba falopi yang pernah Bunda lakukan. Biasanya, operasi ini dilakukan untuk menghilangkan kondisi hamil ektopik sebelumnya atau operasi sterilisasi yang biasa disebut dengan ligasi tuba atau “mengikat tuba”.

Perawatan kesuburan
Apabila Bunda melakukan perawatan kesuburan dengan mengonsumsi obat untuk merangsang ovulasi (pelepasan telur), risiko kehamilan ektopik dapat meningkat sekitar empat kali lipat. Selain itu, fertilisasi in-vitro (IVF) juga dapat meningkatkan risiko gangguan kehamilan ini. Hal ini bisa terjadi saat IVF tidak berhasil dan tanpa sengaja dapat menyebabkan kehamilan ektopik.

Penggunaan Intrauterine Device (IUD)
Kontrasepsi yang di tanam di dalam rahim ini merupakan salah satu alat pengontrol kehamilan yang memiliki peluang berhasil 99 dari 100 kasus. Namun, apabila Bunda tetap mengalami kehamilan setelah menggunakan kontrasepsi jenis ini, ada kemungkinan Bunda bisa mengalami kehamilan ektopik.

Cara Mengobati Kehamilan Ektopik

Pada beberapa kasus, Bunda yang mengalami hamil di luar kandungan dan sudah tergolong parah harus segera dioperasi. Risikonya, tuba falopi dan ovarium dapat rusak karena harus diangkat. Namun, di kasus yang lebih ringan, Bunda hanya perlu menjalani operasi laparoskopi untuk

Baca Juga:  Rekomendasi Shampoo Anak yang Nggak Bikin Rambut Kering

Akan tetapi, jika kondisi ini bisa dideteksi sejak dini, maka Bunda tidak perlu melakukan operas. Melainkan, Bunda hanya perlu menerima perawatan berupa obat-obatan untuk menghentikan pertumbuhan jaringan kehamilan. Setelah itu, Bunda harus melakukan tes darah tambahan untuk memastikan bahwa kondisi hamil di luar kandungan ini sudah bersih. Caranya adalah dengan mendeteksi tingkat hCG, hormon yang diproduksi selama kehamilan pada darah Bunda.

Bagaimana, Bu? Apakah sudah ada gambaran lebih jelas mengenai kondisi ini? Apabila Bunda termasuk salah satu orang yang pernah mengalaminya, jangan berkecil hati dulu, ya. Jika ditangani dengan tepat, Bunda yang ingin hamil setelah mengalami kehamilan ektopik ini berhasil menjalani kehamilan yang normal. Namun, sebelumnya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter kandungan Bunda kapan waktu yang tepat untuk mencobanya lagi.

Selamat menjalani masa kehamilan ya, Bu. Semoga Bunda dan si Kecil sehat selalu!

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com