Jangan Terlewat, Ini Pentingnya Imunisasi Campak untuk Bayi



Jangan Terlewat, Ini Pentingnya Imunisasi Campak untuk Bayi

Campak merupakan salah satu penyakit menular yang dapat dicegah melalui vaksinasi. Cari tahu pentingnya imunisasi campak di sini, Bu!

Dalam persepsi masyarakat, imunisasi campak dikatakan dapat menyebabkan efek samping seperti munculnya gejala kejang, demam, bahkan tidak sadarkan diri. Namun, imunisasi campak penting untuk perlindungan tubuh terhadap penyakit.

Imunisasi campak adalah vaksin yang berisi kuman penyebab penyakit campak yang sudah dilemahkan. Imunisasi campak biasanya dilakukan bersamaan dengan pemberian imunisasi MMR (Mumps, Measles and Rubella) yang berguna untuk melindungi si Kecil dari penyakit campak, gondongan, dan rubella.

Vaksin campak akan menyebabkan tubuh bereaksi karena kuman yang telah dilemahkan dalam vaksin merangsang kekebalan tubuh untuk bereaksi mengenali kuman campak. Tubuh akan membentuk “pasukan” perlawanan yang dinamakan antibodi. Proses kerja antibodi ini dapat menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI), salah satunya ditandai dengan munculnya demam.

Namun, imunisasi campak tidak dianjurkan untuk bayi dengan gangguan sistem kekebalan primer, bayi yang mendapat obat penekan kekebalan tubuh jangka panjang, alergi berat terhadap kanamisin dan eritromisin.

Campak merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Tidak ada pengobatan untuk penyakit campak, namun penyakit ini dapat dicegah melalui vaksinasi. Imunisasi adalah perlindungan terbaik untuk mencegah timbulnya penyakit campak, gondok, rubella dan cacar air. Imunisasi campak merupakan tindakan pencegahan untuk mengurangi komplikasi penyakit yang serius, seperti gizi buruk, radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, gizi buruk, hingga kematian.

Imunisasi campak yang diberikan merupakan imunisasi campak rubella sebanyak dua dosis. Berdasarkan rekomendasi Kementerian Kesehatan, pemberian dosis pertama imunisasi campak rubella dilakukan saat si Kecil berusia sembilan bulan. Setelah itu, dilanjutkan dengan dosis booster saat si Kecil menginjak usia 15-18 bulan dan sekolah dasar (usia 6-7 tahun).

Baca Juga:  Manfaat Bawang Merah Mentah untuk Demam Anak, Mitoskah?

Karena pemberian imunisasi campak juga bisa disertai vaksin gondong dan rubella, maka si Kecil kemungkinan akan menunjukkan beberapa gejala sekitar 8-12 hari setelah imunisasi. Gejalanya meliputi kenaikan suhu badan, muncul ruam kemerahan, nafsu makan menurun, dan bayi rewel yang berlangsung sekitar 2-3 hari. Sebagian bayi juga dapat mengalami gondongan 3-4 minggu setelah imunisasi, yang ditandai pembengkakan kelenjar di leher, pipi, atau bawah rahang. Efek imunisasi campak lainnya yang mungkin dialami oleh si Kecil, yaitu bercak memar kebiruan yang muncul 2-3 minggu setelah imunisasi, kejang, dan reaksi alergi.

Apabila si Kecil mengalami demam setelah imunisasi campak, yang dapat Bunda lakukan, yaitu bila suhu badan bayi > 38°C, kompres bayi dengan air biasa di lipatan selangkangan dan ketiak, kenakan pakaian yang tipis, dan berikan obat penurun panas. Jika suhu badan si Kecil tidak turun dengan pemberian obat penurun panas atau gejala lainya seperti gondong, ruam, atau memar yang tidak hilang, dan reaksi alergi, segera bawa bayi ke dokter.

Guna mendukung si Kecil tumbuh sehat, pastikan Bunda selalu memberikan si Kecil ASI yang berkualitas. Agar produksi ASI meningkat baik dalam jumlah maupun kualitasnya, Bunda harus mendapatkan energi tambahan sebanyak 500 kalori setiap harinya (AKG 2019) begitu juga dengan protein dan nutrisi penting lainnya. Selain mengonsumsi makanan bergizi, Bunda juga perlu mengonsumsi susu ibu menyusui yang mengandung tinggi DHA untuk mendukung perkembangan otak si Kecil, 9 Asam Amino Esensial (AAE), yaitu protein penting yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh dan harus didapat dari makanan setiap harinya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil yang optimal di 1000 Hari Pertama Kehidupannya serta 9 nutrisi penting lainnya seperti; tinggi asam folat, omega 3 (ALA), Omega 6 (LA), tinggi zat besi, serat pangan inulin, tinggi vitamin C, protein, tinggi kalsium dan tinggi seng untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh Bunda selama periode menyusui dan mendukung produksi ASI.

Baca Juga:  Bu, Kalau Aku Nggak Naik Kelas Bagaimana?

Namun jika Bunda atau si Kecil mengalami kondisi yang tidak memungkinkan pemberian ASI, Bunda bisa memberikan susu pendamping ASI sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan ya Bu. Pastikan Bunda memilih susu yang mengandung 9 protein asam amino esensial lengkap dan tinggi DHA, karena protein adalah komponen yang penting untuk mendukung tumbuh dan kembang bayi ya, Bu!


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com