12 Jenis Vaksin Anak Usia 5-17 Tahun dan Kisaran Biayanya


Ternyata, pemberian vaksin pada anak tidak dilakukan saat bayi dan balita saja, namun hingga anak memasuki usia remaja. Ini 12 jenis vaksin anak dan kisaran biayanya.

Masih banyak orangtua yang menganggap vaksin pada anak hanya dilakukan pada anak yang masih bayi hingga balita. Pada umumnya, imunisasi dasar memang harus diberikan pada anak usia 1-4 tahun. Namun, beberapa jenis imunisasi juga ada yang diulang pada usia 5-12 tahun. Sedangkan pada usia 13-18 tahun biasanya berupa imunisasi tambahan.

Perlu diketahui para orangtua bahwa mendapatkan vaksin yang tepat sesuai dengan usia anak penting dilakukan. Berikut adalah jenis imunisasi dan vaksin yang disarankan dokter sesuai dengan kelompok usia anak.

Usia 5-12 tahun: DPT, campak, MMR, tifoid, Hepatitis A, varisela, influenza, pneumokokus.
Usia 12-18 tahun: Td, hepatitis B, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, influenza, pneumokokus, HPV.

Selain itu, terdapat juga Vaksinasi Dengue yang direkomendasikan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mulai usia 9 tahun. Agar lebih jelas, yuk simak penjelasan dari masing-masing jenis vaksin anak di bawah ini.

Vaksin DPT
Vaksin DPT adalah vaksin kombinasi terhadap difteri, pertussis (batuk rejan), dan tetanus. Di Indonesia, vaksin DPT merupakan salah satu vaksinasi wajib bagi anak-anak usia 2-6 bulan. Booster pertama diberikan pada usia 18 bulan dan booster kedua pada usia 5-7 tahun.

Vaksin DPT memiliki efek samping yang umum seperti demam ringan, bengkak dan merah pada bagian suntikan, anak menjadi terlihat lelah dan rewel. Biaya vaksin DPT berkisar dari Rp250.000-Rp500.000.

Vaksin Campak
Vaksin campak adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah penyakit campak atau measles. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan vaksin campak untuk masuk dalam program imunisasi rutin lengkap. Ada dua jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah penyakit campak yaitu vaksin MR dan vaksin MMR.

Vaksin MR diberikan untuk mencegah penyakit campak dan rubella (campak Jerman).
Vaksin MMR diberikan untuk mencegah penyakit campak, rubella, dan gondongan (mumps).

Efek yang dirasakan setelah mendapat vaksin campak seperti demam atau pusing, tidak nafsu makan, mual atau muntah, nyeri otot, lemas, nyeri atau kemerahan pada area bekas suntikan. Biaya vaksin campak berkisar Rp131.000-Rp155.000, vaksin MR berkisar Rp 300.000-Rp450.000, vaksin MMR berkisar Rp400.000-Rp500.000.

Vaksin Tifoid
Vaksin tifoid adalah vaksin untuk mencegah penyakit tifoid. Vaksin tifoid terdiri dari beberapa jenis, seperti vaksin konjugat tifoid, Ty21a, dan vaksin polisakarida Vi capsular. Setelah diberikan pada anak di atas usia 24 bulan, vaksin tifoid bisa diberikan tiga tahun sekali. Ada juga imunisasi secara oral disarankan diberikan pada anak usia 6 tahun ke atas.

Efek samping setelah pemberian vaksin tifoid terlihat jelas pada bekas suntikan yang membengkak, demam, pusing, dan mual. Biaya vaksin tifoid berkisar dari Rp330.000.

Vaksin Hepatitis A
Vaksin hepatitis A adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah infeksi dari virus hepatitis A. Virus ini dapat memicu peradangan pada organ hati. Vaksin hepatitis A wajib diberikan sejak dini pada anak sejak balita hingga remaja dengan beberapa vaksin seperti hanya vaksin hepatitis A saja, vaksin kombinasi hepatitis A dan B, dan vaksin kombinasi hepatitis A dan tifus (demam tifoid).

Efek setelah vaksin hepatitis A biasanya ringan dan dapat berupa nyeri, eritema, indurasi pada area suntikan. Efek yang jarang terjadi seperti demam, lelah, sakit kepala, malaise, mual, dan diare. Biaya vaksin hepatitis A berkisar di Rp450.000.

Vaksin Hepatitis B
Vaksin hepatitis B adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah hepatitis B (HBV). Vaksin ini merupakan salah satu vaksinasi yang wajib diberikan pada anak. Jika tidak diberikan, virus hepatitis B yang menetap dalam tubuh dapat menimbulkan penyakit kronis dan komplikasi berbahaya, seperti sirosis dan kanker hati.

Efek setelah pemberian vaksin hepatitis B seperti kemerahan, nyeri, bengkak, sakit kepala, dan kelelahan. Biaya vaksin hepatitis B mulai dari Rp120.000.

Vaksin Varicella
Vaksin varicella adalah vaksin yang diberikan untuk mencegah cacar air atau chickenpox. Vaksin ini wajib diberikan satu kali seumur hidup dan lebih efektif diberikan saat anak masih berusia 1-18 tahun. Jika vaksin varicella baru diberikan saat anak sudah berusia di atas 13 tahun, maka pemberiannya harus dilakukan sebanyak 2 kali dengan jarak 4-8 minggu.

Efek samping ringan yang muncul dapat berupa nyeri dan bengkak pada area bekas suntikan, ruam kulit, dan demam. Biaya vaksin varicella berkisar di Rp480.000.

Vaksin Influenza
Vaksin influenza diberikan untuk menekan risiko saat terkena flu. IDAI merekomendasikan pemberian vaksin influenza mulai sejak bayi berusia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun. Untuk anak berusia sampai 8 tahun yang baru mendapatkan vaksin flu pertama perlu melakukan dua kali imunisasi dengan jarak minimal 4 minggu. Dan untuk anak di atas 8 tahun, hanya perlu satu kali dan melakukan pengulangan setiap tahun.

Efek samping yang umum terjadi setelah mendapatkan vaksin influenza atau flu adalah kulit memerah pada area suntikan, sakit kepala, nyeri otot, demam, badan terasa letih. Biaya vaksin influenza berkisar di Rp250.000.

Baca Juga:  6 Cara Agar Cuti Tidak Terganggu Pekerjaan

Vaksin Pneumokokus
Vaksin pneumokokus atau pneumococcal conjugate vaccine (PVC) adalah vaksin yang didapatkan untuk mencegah penyakit akibat infeksi bakteri streptococcus pneumoniae atau kuman pneumokokus. Penyakit ini paling rawan terhadap anak usia di bawah 5 tahun dan dapat menyebabkan penyakit pneumonia, radang telinga, dan meningitis. Jika belum diberikan pada anak usia 2-5 tahun, maka vaksin PVC10 diberikan 2 kali dengan jarak 2 bulan, serta PVC13 diberikan 1 kali.

Efek setelah mendapat vaksin pneumokokus yang sering ditemukan adalah demam ringan, kemerahan dan nyeri pada area suntikan, hilang nafsu makan, sakit kepala, dan rewel. Biaya vaksin pneumokokus berkisar di Rp600.000-Rp870.000.

Vaksin Tdap
Vaksin Tdap merupakan vaksin yang diberikan untuk perlindungan terhadap penyakit tetanus, difteri, dan pertussis. Vaksin ini direkomendasikan IDAI untuk diberikan pada anak sejak usia 2 bulan. Pada remaja, vaksin Tdap sebaiknya diberikan saat berusia 10-12 tahun dan dilakukan pengulangan atau booster setiap 10 tahun.

Efek samping setelah mendapatkan vaksin Tdap seperti nyeri, bengkak, demam ringan, menggigil, sakit kepala, lemas, mual dan muntah, diare, dan nafsu makan menurun. Biaya vaksinnya berkisar di Rp130.000-Rp400.000.

Vaksin HPV
Vaksin HPV adalah vaksin yang didapatkan untuk melindungi tubuh dari infeksi human papillomavirus (HPV). Vaksin ini pada anak mulai dari usia 9 tahun. Pada remaja, vaksin HPV perlu diberikan sebanyak 3 kali. Vaksin pertama dan kedua diberikan setelah 1-2 bulan dan vaksin ketiga diberikan setelah 6 bulan dari vaksin kedua.

Efek samping setelah mendapat vaksin HPV seperti nyeri, bengkak, gatal, kemerahan pada area bekas suntikan, sakit kepala, hingga mual dan muntah. Biaya vaksin HPV Cervarix berkisar Rp700.000-Rp800.000 sekali suntik dan vaksin HPV Gardasil berkisar Rp1.200.000-Rp1.300.000 sekali suntik.

Vaksin Dengue
Vaksin dengue adalah vaksin yang direkomendasikan IDAI untuk mencegah dan mengurangi risiko keparahan demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia 9-16 tahun. Vaksin ini diberikan 3 kali dengan jarak 6 bulan.

Efek sampingnya berupa nyeri pada daerah injeksi, demam, dan nyeri kepala. Biaya vaksin dengue berkisar Rp1.000.000 untuk satu kali dosis penyuntikan.

Vaksin Japanese encephalitis (JE)
Jenis vaksin anak selanjutnya adalah Vaksin JE yang merupakan vaksin untuk mencegah infeksi virus Japanese encephalitis yang menyebabkan penyakit radang otak. Vaksin ini dapat diberikan pada anak sejak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun selama masa imunisasi JE yang tinggal di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis.

Efek samping yang umum terjadi seperti nyeri, bengkak, kemerahan pada area suntikan, sakit kepala, nyeri otot, dan demam ringan. Biaya vaksin JE mulai dari Rp450.000-Rp1.050.000.

Dalam menjaga kesehatan anak, vaksinasi memegang peran yang sangat penting. Melalui vaksinasi, tubuh anak akan terlatih untuk melawan penyakit-penyakit tertentu dan mampu membangun kekebalan yang kuat. Vaksinasi juga berperan dalam melindungi anak dari penularan penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan komplikasi serius.

Salah satu jenis vaksin yang penting untuk diberikan pada anak adalah vaksin DPT. Vaksin ini merupakan vaksin kombinasi yang melindungi anak dari tiga penyakit sekaligus, yaitu difteri, pertussis (batuk rejan), dan tetanus. Vaksin DPT diberikan pada anak usia 2-6 bulan dan dilakukan booster pada usia 18 bulan dan 5-7 tahun. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin DPT adalah demam ringan, bengkak dan kemerahan pada area suntikan, serta anak menjadi terlihat lelah dan rewel.

Selain vaksin DPT, ada juga vaksin campak yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin campak mencegah penyakit campak atau measles. Ada dua jenis vaksin campak yang digunakan, yaitu vaksin MR yang melindungi anak dari campak dan rubella, serta vaksin MMR yang melindungi anak dari campak, rubella, dan gondongan. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin campak adalah demam atau pusing, tidak nafsu makan, mual atau muntah, nyeri otot, lemas, serta nyeri atau kemerahan pada area bekas suntikan.

Selain itu, ada juga vaksin tifoid yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin tifoid mencegah penyakit tifoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Vaksin tifoid terdiri dari beberapa jenis, seperti vaksin konjugat tifoid, Ty21a, dan vaksin polisakarida Vi capsular. Vaksin tifoid bisa diberikan pada anak di atas usia 24 bulan dan diberikan setiap tiga tahun sekali. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin tifoid adalah bekas suntikan yang membengkak, demam, pusing, dan mual.

Selanjutnya, ada vaksin hepatitis A yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin hepatitis A mencegah infeksi dari virus hepatitis A yang dapat menyebabkan peradangan pada organ hati. Vaksin hepatitis A diberikan pada anak sejak balita hingga remaja. Ada beberapa jenis vaksin hepatitis A yang tersedia, seperti vaksin hepatitis A saja, vaksin kombinasi hepatitis A dan B, serta vaksin kombinasi hepatitis A dan tifus. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin hepatitis A adalah nyeri, eritema, indurasi pada area suntikan, demam, lelah, sakit kepala, malaise, mual, dan diare.

Baca Juga:  Hipnoterapi, Penyembuhan Lewat Alam Bawah Sadar

Selain vaksin hepatitis A, ada juga vaksin hepatitis B yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin hepatitis B mencegah hepatitis B (HBV) yang dapat menyebabkan penyakit kronis dan komplikasi berbahaya, seperti sirosis dan kanker hati. Vaksin hepatitis B merupakan vaksinasi yang wajib diberikan pada anak. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin hepatitis B adalah kemerahan, nyeri, bengkak, sakit kepala, dan kelelahan.

Selanjutnya, ada vaksin varicella yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin varicella mencegah cacar air atau chickenpox. Vaksin ini diberikan satu kali seumur hidup dan lebih efektif jika diberikan pada anak usia 1-18 tahun. Jika diberikan pada anak di atas 13 tahun, vaksin varicella harus diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak 4-8 minggu. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin varicella adalah nyeri dan bengkak pada area suntikan, ruam kulit, dan demam.

Selanjutnya, ada vaksin influenza yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin influenza diberikan untuk menekan risiko saat terkena flu. Vaksin influenza direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan mulai dari bayi berusia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin influenza adalah kulit memerah pada area suntikan, sakit kepala, nyeri otot, demam, dan badan terasa letih.

Selanjutnya, ada vaksin pneumokokus yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin pneumokokus mencegah penyakit akibat infeksi bakteri streptococcus pneumoniae atau kuman pneumokokus. Penyakit ini paling rawan terhadap anak usia di bawah 5 tahun dan dapat menyebabkan penyakit pneumonia, radang telinga, dan meningitis. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin pneumokokus adalah demam ringan, kemerahan dan nyeri pada area suntikan, hilang nafsu makan, sakit kepala, dan rewel.

Selanjutnya, ada vaksin Tdap yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin Tdap melindungi anak dari penyakit tetanus, difteri, dan pertussis. Vaksin ini direkomendasikan IDAI untuk diberikan pada anak sejak usia 2 bulan. Pada remaja, vaksin Tdap sebaiknya diberikan saat berusia 10-12 tahun dan dilakukan pengulangan atau booster setiap 10 tahun. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin Tdap adalah nyeri, bengkak, demam ringan, menggigil, sakit kepala, lemas, mual dan muntah, diare, dan nafsu makan menurun.

Selanjutnya, ada vaksin HPV yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin HPV melindungi tubuh dari infeksi human papillomavirus (HPV). Vaksin ini diberikan pada anak mulai dari usia 9 tahun. Pada remaja, vaksin HPV perlu diberikan sebanyak 3 kali. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin HPV adalah nyeri, bengkak, gatal, kemerahan pada area bekas suntikan, sakit kepala, hingga mual dan muntah.

Selanjutnya, ada vaksin dengue yang direkomendasikan IDAI untuk mencegah dan mengurangi risiko keparahan demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia 9-16 tahun. Vaksin ini diberikan 3 kali dengan jarak 6 bulan. Efek sampingnya berupa nyeri pada daerah injeksi, demam, dan nyeri kepala.

Terakhir, ada vaksin Japanese encephalitis (JE) yang penting untuk diberikan pada anak. Vaksin JE mencegah infeksi virus Japanese encephalitis yang menyebabkan penyakit radang otak. Vaksin ini diberikan pada anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun selama masa imunisasi JE yang tinggal di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin JE adalah nyeri, bengkak, kemerahan pada area suntikan, sakit kepala, nyeri otot, dan demam ringan.

Dalam menjaga kesehatan anak, vaksinasi merupakan langkah yang sangat penting dan efektif. Vaksinasi dapat melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya dan mencegah penyebaran penyakit tersebut ke orang lain. Vaksinasi juga membantu melindungi anak dari komplikasi serius yang dapat mengancam nyawa.

Namun, tidak semua orangtua menyadari pentingnya vaksinasi pada anak. Masih banyak yang menganggap vaksinasi hanya diperlukan pada anak yang masih bayi atau balita. Padahal, vaksinasi juga penting dilakukan pada usia remaja. Ada beberapa jenis vaksin yang disarankan untuk diberikan pada anak usia 5-12 tahun, antara lain vaksin DPT, campak, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, influenza, dan pneumokokus. Sedangkan pada usia 12-18 tahun, anak juga disarankan untuk mendapatkan vaksin Td, hepatitis B, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, influenza, pneumokokus, dan HPV.

Vaksinasi DPT merupakan salah satu vaksinasi wajib yang harus diberikan pada anak usia 2-6 bulan. Vaksin ini melindungi anak dari difteri, pertussis (batuk rejan), dan tetanus. Selain itu, ada juga vaksin campak yang melindungi anak dari penyakit campak atau measles. Vaksin campak dapat diberikan dalam bentuk vaksin MR yang melindungi anak dari campak dan rubella, serta vaksin MMR yang melindungi anak dari campak, rubella, dan gondongan.

Baca Juga:  Yuk Belajar dari Para Tokoh Kartun Favorit Anak

Vaksinasi tifoid juga penting untuk diberikan pada anak. Vaksin ini melindungi anak dari penyakit tifoid yang disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Ada beberapa jenis vaksin tifoid yang tersedia, seperti vaksin konjugat tifoid, Ty21a, dan vaksin polisakarida Vi capsular. Vaksin tifoid bisa diberikan pada anak di atas usia 24 bulan dan diberikan setiap tiga tahun sekali.

Selanjutnya, ada vaksin hepatitis A yang melindungi anak dari infeksi virus hepatitis A. Vaksin ini penting diberikan pada anak sejak balita hingga remaja. Ada beberapa jenis vaksin hepatitis A yang tersedia, seperti vaksin hepatitis A saja, vaksin kombinasi hepatitis A dan B, serta vaksin kombinasi hepatitis A dan tifus. Vaksin hepatitis A biasanya diberikan dalam bentuk suntikan.

Vaksin hepatitis B juga penting untuk diberikan pada anak. Vaksin ini melindungi anak dari hepatitis B (HBV) yang dapat menyebabkan penyakit kronis dan komplikasi berbahaya, seperti sirosis dan kanker hati. Vaksin hepatitis B merupakan vaksinasi yang wajib diberikan pada anak. Vaksin ini biasanya diberikan dalam bentuk suntikan.

Selanjutnya, ada vaksin varicella yang melindungi anak dari cacar air atau chickenpox. Vaksin ini diberikan satu kali seumur hidup dan lebih efektif jika diberikan pada anak usia 1-18 tahun. Jika diberikan pada anak di atas 13 tahun, vaksin varicella harus diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak 4-8 minggu. Vaksin varicella juga diberikan dalam bentuk suntikan.

Vaksin influenza juga penting untuk diberikan pada anak. Vaksin ini melindungi anak dari risiko terkena flu. Vaksin influenza direkomendasikan oleh IDAI untuk diberikan mulai dari bayi berusia 6 bulan dan dilakukan pengulangan setiap tahun. Efek samping yang mungkin terjadi setelah vaksin influenza adalah kulit memerah pada area suntikan, sakit kepala, nyeri otot, demam, dan badan terasa letih.

Vaksin pneumokokus juga penting untuk diberikan pada anak. Vaksin ini melindungi anak dari infeksi bakteri streptococcus pneumoniae atau kuman pneumokokus. Penyakit ini paling rawan terhadap anak usia di bawah 5 tahun dan dapat menyebabkan penyakit pneumonia, radang telinga, dan meningitis. Vaksin pneumokokus dapat diberikan dalam bentuk suntikan.

Selanjutnya, ada vaksin Tdap yang melindungi anak dari penyakit tetanus, difteri, dan pertussis. Vaksin ini direkomendasikan IDAI untuk diberikan pada anak sejak usia 2 bulan. Pada remaja, vaksin Tdap sebaiknya diberikan saat berusia 10-12 tahun dan dilakukan pengulangan atau booster setiap 10 tahun. Vaksin Tdap umumnya diberikan dalam bentuk suntikan.

Vaksin HPV juga penting untuk diberikan pada anak. Vaksin ini melindungi tubuh dari infeksi human papillomavirus (HPV). Vaksin ini diberikan pada anak mulai dari usia 9 tahun. Pada remaja, vaksin HPV perlu diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu tertentu. Vaksin HPV biasanya diberikan dalam bentuk suntikan.

Selanjutnya, ada vaksin dengue yang direkomendasikan IDAI untuk mencegah dan mengurangi risiko keparahan demam berdarah dengue (DBD) pada anak usia 9-16 tahun. Vaksin ini diberikan 3 kali dengan jarak 6 bulan. Efek sampingnya berupa nyeri pada daerah injeksi, demam, dan nyeri kepala.

Terakhir, ada vaksin Japanese encephalitis (JE) yang melindungi anak dari infeksi virus Japanese encephalitis yang menyebabkan penyakit radang otak. Vaksin ini diberikan pada anak usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun selama masa imunisasi JE yang tinggal di daerah endemis atau yang akan bepergian ke daerah endemis. Vaksin JE juga diberikan dalam bentuk suntikan.

Dalam memilih vaksin yang tepat untuk anak, penting untuk berkonsultasi dengan dokter anak. Dokter akan memberikan rekomendasi vaksin yang sesuai dengan usia dan kondisi anak. Selain itu, penting juga untuk memperhatikan jadwal vaksinasi yang direkomendasikan agar anak mendapatkan perlindungan yang optimal.

Dalam hal biaya, harga vaksin dapat bervariasi tergantung jenis vaksin dan tempat pemberian vaksin. Biaya vaksin tersebut dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Namun, penting untuk diingat bahwa biaya vaksinasi merupakan investasi dalam menjaga kesehatan dan keselamatan anak.

Dalam kesimpulan, vaksinasi merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan anak. Melalui vaksinasi, anak dapat terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya dan mencegah penyebaran penyakit tersebut ke orang lain. Ada beberapa jenis vaksin yang disarankan untuk diberikan pada anak, seperti vaksin DPT, campak, MMR, tifoid, hepatitis A, varisela, influenza, pneumokokus, HPV, dengue, dan Japanese encephalitis. Penting bagi orangtua untuk memahami jenis vaksin yang disarankan untuk anak sesuai dengan kelompok usia dan berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com