5 Manfaat Peran Orang Tua Bagi Tumbuh Kembang Anak

5 Manfaat Peran Orang Tua Bagi Tumbuh Kembang Anak

Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tua sejak dini. Apa saja manfaatnya?

Mengenal Periode Golden Age Anak

Tahukah Anda tentang periode golden age pada si Kecil? Periode ini berlangsung saat si Kecil berusia 0 hingga usia 5 tahun. Pada periode golden age akan terjadi pembentukan sistem saraf dan hubungan antara sel-sel saraf yang dapat menentukan tingkat kecerdasannya. Untuk itulah ini merupakan periode penting bagi setiap anak sehingga orang tua harus benar-benar memperhatikan setiap detail kecil dalam kehidupan buah hatinya sehari-hari.

Kedekatan Emosional Bunda dan Anak

Mengasuh dan mengawasi tumbuh kembang anak adalah tugas dari kedua orang tua. Baik Bunda maupun Ayah memiliki tugas yang sama dalam hal ini. Namun secara umum, Bunda sebagai pihak yang mengandung, melahirkan, dan menyusui akan lebih memiliki ikatan emosional dengan buah hatinya. Studi juga menunjukkan bahwa kedekatan emosional antara ibu dan si Kecil memiliki memiliki berbagai manfaat, diantaranya meningkatkan kecerdasan (IQ), mencegah penyakit, dan memperkuat sistem imun anak.

Ikatan yang ada di antara ibu dan si Kecil adalah gabungan dari aspek biologis dan psikologis yang kompleks. Oleh karenanya hubungan tersebut dapat berpengaruh pada hormon pertumbuhan, pertumbuhan otak, serta kesehatan si Kecil. Inilah mengapa seorang ibu adalah pihak yang paling utama dalam mendukung proses tumbuh kembang buah hatinya dari berbagai aspek.

Memberikan Asupan Makanan yang Bergizi

Tumbuh kembang anak yang baik dimulai dari asupan makanannya. Orang tua dianjurkan untuk selalu menyediakan makanan yang bergizi setiap hari. Di masa tumbuh kembangnya ini si Kecil akan membutuhkan nutrisi berupa protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral.

Baca Juga:  Mata Si Kecil Sering Berkedip, Tidak Selalu Gejala TIC

Tak hanya menyediakan asupan makanan bergizi, orang tua juga sebaiknya menerapkan kebiasaan makan yang baik. Berikut diantaranya:

– Selalu mengonsumsi sarapan. Sebelum memulai aktivitas, pastikan si Kecil tidak melewatkan sarapannya. Mengapa? Sebab sarapan merupakan sumber tenaga bagi tubuh dan otak si Kecil untuk memulai harinya. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang rutin sarapan memiliki kinerja yang lebih baik saat belajar serta berisiko kecil terserang obesitas.

– Buah sebagai camilan. Di samping makanan utama, si Kecil juga akan membutuhkan camilan. Namun alih-alih memberikan camilan tidak sehat yang tinggi garam, gula, atau MSG, orang tua sebaiknya menyediakan buah-buahan sebagai camilan si Kecil. Penelitian membuktikan bahwa anak yang sering diberikan buah-buahan dan sayuran oleh orang tuanya akan terbiasa untuk mengonsumsi makanan sehat.

– Makan bersama-sama. Hal lainnya yang tak kalah penting adalah agar orang tua membiasakan untuk memiliki kegiatan makan bersama si Kecil. Momen kebersamaan ini dapat orang tua manfaatkan untuk mengobrol bersama buah hati dan memberitahukan betapa pentingnya untuk selalu menyantap makanan yang sehat.

Memberikan Stimulasi

Nutrisi yang terkandung di dalam makanan mendukung tumbuh kembang secara fisik. Namun si Kecil juga membutuhkan dukungan secara mental, yaitu melalui stimulasi atau rangsangan. Tentunya pihak yang paling berperan dalam memberikan stimulasi adalah kedua orang tuanya.

Stimulasi tumbuh kembang ini mencakup perkembangan kemampuan motorik, kognitif, sosial, dan komunikasi. Masing-masing kemampuan membutuhkan stimulasi yang berbeda.

Motorik
Kemampuan motorik berkaitan dengan gerakan dan keterampilan koordinasi anggota tubuh. Kemampuan ini terbagi dua, yaitu motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar merupakan gerakan sebagian atau seluruh anggota tubuh dan melibatkan otot-otot besar, seperti berjalan, berlari, melompat, duduk, dan naik-turun tangga. Sementara motorik halus adalah keterampilan fisik yang melibatkan otot-otot kecil dan koordinasi antara mata dan tangan, seperti menulis, memasukkan benda, dan menjumput. Kemampuan motorik dapat distimulasi melalui kegiatan fisik dan bermain.

Baca Juga:  5 Essential Oil Paling Populer

Kognitif
Kemampuan kognitif merupakan konstruksi proses berpikir yang mencakup mengingat, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah. Stimulasi yang dapat diberikan untuk mengembangkan kemampuan kognitif si Kecil adalah dengan mengajaknya bermain sambil belajar.

Sosial
Kemampuan sosial erat kaitannya dengan bagaimana cara si Kecil menjalin hubungan dengan orang lain. Kemampuan ini bisa dirangsang dengan cara mengenali dan mengendalikan emosi serta membaurkan si Kecil untuk bermain dengan anak-anak lain. Beberapa jenis permainan tertentu juga bisa dilakukan untuk merangsang kemampuan sosial si Kecil, diantaranya bermain boneka, rumah-rumahan, atau masak-masakan.

Komunikasi
Kemampuan komunikasi si Kecil mencakup berbicara, menulis, dan membaca. Untuk menstimulasinya, orang tua bisa menyanyikan lagu, mengajak bicara, dan mendongeng. Bahkan sejak si Kecil masih berada dalam kandungan, orang tua sudah mulai bisa melakukan stimulasi-stimulasi tersebut.

Memantau Tumbuh Kembang Si Kecil

Orang tua juga perlu memantau tumbuh kembang anak. Caranya adalah dengan membawa si Kecil ke klinik dokter anak atau Posyandu untuk dilakukan pengukuran tinggi badan, penimbangan berat badan, pengukuran besar lingkar kepala, serta mengawasi kemajuan perkembangannya. Melalui semua tahapan tersebut dapat diketahui apakah si Kecil mengalami proses tumbuh kembang yang normal atau tidak. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko stunting yang kini banyak dialami oleh anak-anak, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Dalam kesimpulan, peran orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Dengan memberikan perhatian, asupan makanan bergizi, stimulasi, dan pemantauan yang baik, orang tua dapat memberikan kontribusi yang besar bagi perkembangan anak. Oleh karena itu, sebagai orang tua, mari kita selalu berperan aktif dalam membantu anak-anak kita tumbuh dan berkembang menjadi individu yang sehat dan berprestasi.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com

Baca Juga:  6 Alasan Kenapa Baby Walker Tidak Disarankan Untuk Anak