Ayah Adalah Cinta Pertama Saya


Cinta pertama seorang anak perempuan adalah sosok ayahnya. Bagi sebagian besar anak perempuan, ayah adalah figur yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Ayah adalah sosok yang mereka lihat sebagai pahlawan, pelindung, dan panutan dalam hidup mereka. Ayah adalah orang yang pertama kali mereka cintai sebelum mereka belajar mencintai orang lain.

Bagi saya pribadi, kalimat di atas sama sekali tidak asing. Meskipun saya bukanlah anak perempuan yang memiliki kedekatan erat dengan ayah saya semasa kecil, tetapi ayah saya tetap menjadi cinta pertama dan pacar pertama dalam hidup saya. Meskipun hubungan kami tidak selalu harmonis, tetapi saya tahu bahwa ayah saya adalah sosok yang selalu ada untuk saya, yang selalu mencintai dan mendukung saya dalam segala hal.

Saya masih ingat ketika saya masih kecil, ayah saya tidak banyak bicara. Dia adalah seorang guru yang sibuk dengan pekerjaannya. Meskipun dia tidak banyak bicara, tetapi ada banyak hal baik yang dia lakukan untuk saya dan keluarga kami. Salah satu hal yang paling saya ingat adalah ketika ayah saya pulang dari bekerja, dia selalu membawakan buah tangan untuk saya. Buah tangan itu tidaklah mahal, tetapi itu adalah tanda kasih sayang dari ayah saya yang saya hargai.

Selain itu, ayah saya juga tidak pernah lupa hari ulang tahun saya dan adik saya. Meskipun kami memiliki ulang tahun yang sama, tetapi ayah saya selalu membelikan kami masing-masing kue ulang tahun. Itu adalah momen yang sangat istimewa bagi kami. Ayah saya juga selalu mengajak kami berbelanja bulanan dengan mengendarai vespa. Meskipun kami berlima harus berdesakan di vespa dan membawa pulang banyak belanjaan, tetapi itu adalah momen yang kami nikmati bersama. Ayah saya tidak pernah melupakan kami, anak-anaknya, yang membutuhkan hiburan kecil seperti mandi bola setelah belanja bulanan.

Baca Juga:  Manfaat Vitamin B1 untuk Tumbuh Kembang Anak

Selain itu, ayah saya juga adalah orang yang mengajari saya naik sepeda roda dua untuk pertama kalinya. Saya masih ingat betapa senangnya saya saat itu ketika akhirnya saya bisa naik sepeda sendiri. Itu adalah momen yang sangat berharga bagi saya. Ayah saya juga tidak pernah marah atau menghukum saya dengan kata-kata kasar. Dia lebih banyak diam ketika marah. Dan itu adalah hal yang saya pahami untuk bisa memperbaiki diri.

Ayah saya juga adalah orang yang jarang memberikan pujian atau apresiasi terhadap prestasi kami di sekolah. Meskipun kami, anak-anaknya, memiliki prestasi yang baik, tetapi ayah saya tidak pernah memberikan pujian secara langsung. Tetapi dia selalu mengajak kami makan di restoran cepat saji dekat sekolah setiap kali kami mendapatkan rapor yang baik. Itu adalah salah satu motivasi bagi kami untuk terus berprestasi di sekolah.

Selain itu, ayah saya juga tidak pernah memaksa saya untuk mengikuti keinginannya. Dia memberikan kebebasan kepada saya untuk memilih jurusan kuliah dan pekerjaan yang saya inginkan. Meskipun keluarga kami mayoritas bergerak di bidang akuntansi, guru, medis, dan teknik, tetapi ayah saya tidak pernah mengomentari pilihan saya. Dia hanya menginginkan saya menemukan lelaki yang bertanggung jawab dan bisa melindungi saya.

Ayah saya juga adalah perawat terbaik bagi kami. Setiap kali kami sakit, dia selalu berjaga-jaga untuk menjaga kami. Dia selalu siap memberikan minum dan mengganti baju kami. Bahkan ketika saya melahirkan anak pertama saya delapan tahun yang lalu, ayah saya juga ikut menemani saya. Dan ketika saya harus menjalani operasi angkat rahim dua tahun yang lalu, ayah saya meminta agar dia yang menjaga saya. Setiap kali saya mengerang kesakitan, dia selalu mengusap kening saya dengan lembut.

Baca Juga:  12 Rekomendasi Serial dan Drama Korea Baru Untuk Ditonton

Ayah saya adalah sosok yang tidak banyak bicara, tetapi dia selalu berusaha hadir dan menemani saya dalam setiap momen penting dalam hidup saya. Bahkan ketika saya harus menjalani kemoterapi dan pengobatan selama dua tahun, dia tetap ada di samping saya. Dia adalah sosok yang sangat kuat dan tabah. Dia tidak pernah menunjukkan kelemahannya meskipun hatinya sedang gundah gulana.

Tetapi ayah saya juga memiliki kelemahan. Dia adalah koki terburuk yang pernah ada. Setiap kali dia memasak telur dadar isi cabe rawit, itu selalu gosong. Tetapi saya selalu merindukan telur dadar buatannya. Itu adalah salah satu kenangan yang saya selalu ingat dan rindukan.

Semua hal itu membuat saya mengatakan bahwa ayah saya adalah cinta pertama saya. Dia adalah sosok yang memiliki cara tersendiri untuk menyayangi dan mencintai anak perempuannya. Dia tidak pernah memaksa atau menghakimi saya. Dia memberikan kebebasan kepada saya untuk menjadi diri sendiri. Saya jatuh cinta dengan caranya yang unik dan spesial.

Saya berharap bahwa suami saya akan menjadi pacar pertama dan kesatria bagi putri saya kelak. Saya ingin suami saya menjadi sosok yang bisa melindungi dan mencintai putri kami dengan tulus dan ikhlas seperti ayah saya melakukannya untuk saya. Saya berharap suami saya bisa memberikan kasih sayang dan perhatian yang sama seperti ayah saya memberikannya kepada saya.

Dalam hidup ini, ayah adalah sosok yang tidak bisa tergantikan. Mereka adalah sumber inspirasi, kekuatan, dan kehangatan bagi kita. Mereka adalah pahlawan sejati dalam hidup kita. Mereka adalah sosok yang selalu ada untuk kita, yang selalu mencintai dan mendukung kita dalam segala hal. Kita tidak bisa membalas semua kasih sayang dan pengorbanan yang mereka berikan kepada kita, tetapi kita bisa menghargainya dan mencintainya dengan segenap hati.

Baca Juga:  Mengepel Tanpa Sulit Dengan Scotch Brite

Maka dari itu, mari kita hargai dan cintai ayah kita selama mereka masih ada bersama kita. Mari kita tunjukkan rasa terima kasih kita kepada mereka dengan cara yang kita bisa. Mari kita jadikan mereka sebagai panutan dalam hidup kita. Karena cinta pertama seorang anak perempuan adalah sosok ayahnya.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com