4 Mitos Tentang Anak Belajar Jalan
Anak belajar jalan merupakan salah satu masa yang perlu dukungan orang tua. Namun ada mitos dalam aktivitas tersebut, ungkap rahasianya sekarang.
Cara Kerja Tubuh Saat Bayi Belajar Berjalan
Saat belajar berdiri dan berjalan, sebenarnya bayi tak sekadar mempelajari cara menyeimbangkan tubuh, Bu. Menurut info dari dokter, hal lain yang juga dipelajari ialah mengenali telapak kaki dan cara menapakkannya dengan tepat. Oleh karena itu, sebenarnya, bayi harus bisa melihat telapak kakinya secara langsung. Saat melihat langsung, insting alami bayi untuk memposisikan telapak kaki dan melangkah dengan baik pun semakin kuat.
Nah, agar balita kesayangan bisa melihat telapak kakinya secara langsung, dokter menyarankan saya untuk menghindari penggunaan baby walker, terutama bila si Kecil belum mampu berdiri tegak secara mandiri. Alih-alih menggunakan baby walker, dokter menganjurkan saya memapah si Kecil.
Mitos-mitos Seputar Bayi Belajar Berjalan
Agar saya lebih kritis menerima informasi dari berbagai sumber, dokter meminta saya untuk tidak langsung memercayai segala mitos yang beredar dan mencari info lebih lanjut. Dokter pun memberi tahu saya beberapa mitos seputar bayi belajar berjalan yang dipercaya oleh masyarakat umum. Sayangnya, beberapa mitos tersebut kurang tepat. Berikut selengkapnya.
Mitos #1: Waspada Bila si Kecil Berjalan Jinjit
Selama ini, ada anggapan bahwa bayi berjalan jinjit menunjukkan kelainan pada proses tumbuh kembang anak. Namun, faktanya tak selalu demikian, Bu. Faktanya:
Menurut penjelasan dokter, berjalan jinjit adalah hal wajar dalam proses perkembangan anak, terutama bila si Kecil masih belajar berjalan. Alasannya, di usia 0-3 tahun, tendon Achilles (otot besar di belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis ke tulang tumit) belum cukup relaks, sehingga secara alami, mayoritas anak akan berjalan secara berjinjit.
Hal yang perlu diwaspadai adalah bila si Kecil tetap berjalan jinjit meski usianya sudah empat tahun atau lebih, Bu. Kondisi ini bisa jadi indikasi bahwa si Kecil mengalami kekakuan otot. Kemungkinan lain, bisa jadi, ini merupakan pertanda anak mengalami autisme ataupun cerebral palsy. Sebaiknya Bunda segera konsultasi ke dokter jika si Kecil mengalami hal ini, ya.
Mitos #2: Setiap Bayi Akan Merangkak Sebelum Mulai Berjalan
Saat si Kecil mulai belajar merangkak, sebagian besar ibu di sekitar saya beranggapan bahwa ia akan mulai berjalan. Menurut anggapan yang beredar secara umum, bayi pasti merangkak sebelum belajar jalan, Bu.
Faktanya:
Menurut dokter, tidak semua anak seperti itu. Mayoritas anak memang mengalami tahap tumbuh kembang berurutan, mulai dari tengkurap, merangkak, belajar berdiri, berdiri sambil merambat, sampai belajar berjalan. Namun, tidak berarti tumbuh kembang motorik anak terhambat jika tidak melewati tahapan-tahapan ini secara berurutan. Pada dasarnya, tiap anak memiliki tahapan perkembangan yang berbeda-beda.
Mitos #3: Pakaikan Sepatu Agar Lebih Cepat Belajar Jalan
Untuk merangsang anak agar lebih bersemangat belajar berjalan, banyak orang tua memakaikan sepatu lucu ke kaki mungil balita kesayangannya. Apa Bunda pun demikian?
Faktanya:
Sebaiknya hindari hal ini mulai sekarang, Bu. Dokter tempat saya berkonsultasi menjelaskan, memakaikan sepatu pada si Kecil yang belum mampu berjalan sempurna justru menyulitkan ia mengoordinasikan gerak tubuh dan menjaga keseimbangan. Alih-alih memakaikan sepatu untuk si Kecil, dokter justru menyarankan untuk membiarkan telapak kaki anak bersentuhan langsung dengan lantai. Faktanya, bayi menggunakan telapak kaki mereka untuk “mencengkram” lantai agar tidak terjatuh selama belajar berjalan.
Mitos #4: Buat Kondisi Rumah Aman Saat Anak Belajar Berjalan
Mitos terakhir yaitu terkait keamanan di sekitar ruang gerak si Kecil di rumah. Umumnya, para orang tua beranggapan, rumah perlu dibuat lebih aman saat anak mulai belajar berjalan.
Faktanya:
Ternyata, yang satu ini bukan mitos, Bu. Dokter justru menyarankan saya membuat kondisi rumah menjadi tempat yang aman sejak si Kecil bergerak aktif tanpa bantuan. Misalnya, saat ia mulai merangkak ataupun merambat-rambat. Bagaimanapun, bayi belum bisa mengontrol gerakannya sendiri. Jika rumah belum benar-benar aman, dikhawatirkan berisiko mengalami kecelakaan dan cedera.
Bagaimana, Bu? Apakah ada mitos yang selama ini Bunda percayai? Ternyata, tak semuanya benar, ya. Semoga info ini bermanfaat, khususnya untuk Bunda yang mengkhawatirkan proses tumbuh kembang anak karena si Kecil belum juga belajar berjalan.
Jika Bunda masih punya pertanyaan lainnya seputar tumbuh kembang anak dan kesehatan anak, konsultasikan saja di laman Tanya Pakar. Para ahli di sana akan menjawab semua pertanyaan Bunda. Namun untuk bisa menggunakan fitur tersebut, pastikan Bunda sudah registrasi terlebih dulu, ya.
Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com