3 Jenis Trauma Yang Bisa Memengaruhi Pernikahan. Bisakah Disembuhkan?

Trauma akut (single event)

Bagian pertama dari jenis trauma yang dapat memengaruhi pernikahan adalah trauma akut. Trauma akut adalah jenis trauma yang terjadi hanya sekali namun memiliki awal dan akhir yang jelas. Contohnya adalah kecelakaan parah, mengalami tsunami, atau kebakaran. Dalam konteks pernikahan, trauma akut dapat terjadi ketika seseorang mengalami keguguran atau kehilangan anggota keluarga.

Dampak dari trauma akut pada hubungan pernikahan dapat sangat signifikan. Misalnya, ketika seorang pasangan mengalami keguguran, mereka dapat mengalami luka psikologis yang dalam. Mungkin istri akan berusaha menghindari hal-hal yang berhubungan dengan keguguran tersebut, termasuk menghindari membicarakannya. Sementara itu, suami mungkin mengalami kondisi re-experiencing, di mana dia terus-menerus mengingat dan membicarakan kehilangan tersebut sebagai cara untuk mengatasi kesedihannya. Ketidaksesuaian ini dalam cara menghadapi trauma dapat mempengaruhi interaksi dan komunikasi antara pasangan, bahkan dapat berujung pada komunikasi yang buruk.

Trauma kronis (terjadi terus menerus)

Jenis trauma yang kedua adalah trauma kronis. Trauma kronis terjadi ketika kejadian traumatis terjadi secara terus-menerus selama bertahun-tahun. Contohnya adalah ketika seorang istri mengalami kekerasan fisik atau verbal dari pasangannya secara terus-menerus. Ada juga kasus di mana seorang perempuan mengalami kekerasan sebelum menikah, dan meskipun kemudian menemukan pasangan baru yang baik, luka psikologis dari trauma kronis masih ada.

Dampak dari trauma kronis terhadap hubungan dalam pernikahan dapat sangat kompleks. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, individu yang mengalami trauma sering kali merespons dengan respon fight, flight, atau freeze. Ketika seorang perempuan mengalami kekerasan dalam rumah tangganya, masalah yang dia hadapi sering kali tidak terselesaikan dengan baik. Individu ini mungkin memiliki pikiran negatif tentang dirinya sendiri, seperti merasa tidak layak atau tidak aman. Pikiran-pikiran ini kemudian memicu perasaan tidak nyaman seperti takut atau cemas, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perilaku mereka dalam hubungan pernikahan.

Baca Juga:  Cara Memaksimalkan Penyerapan Zat Besi agar Bayi Sehat

Trauma kompleks (sejak kecil di bawah 18 tahun)

Jenis trauma yang ketiga adalah trauma kompleks. Trauma kompleks terjadi ketika seseorang mengalami kejadian traumatis secara terus-menerus sejak kecil, sebelum usia 18 tahun. Kejadian traumatis dalam trauma kompleks dapat berupa pengabaian, seperti tidak mendapatkan perhatian yang cukup, menjadi anak terlantar, atau mengalami kekerasan fisik atau verbal berulang. Orang yang menjadi saksi kekerasan dalam rumah tangga atau memiliki orang tua yang masuk penjara juga dapat mengalami trauma kompleks. Kejadian-kejadian ini juga dikenal sebagai Adverse Childhood Experience (ACE) dalam literatur psikologi.

Dampak dari trauma kompleks dapat sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam mengatur emosi dan menjalin hubungan yang hangat saat dewasa. Individu yang mengalami trauma kompleks mungkin mengalami kesulitan dalam mengatur emosi mereka, dan sulit untuk menjalin hubungan yang intim dan sehat. Mereka juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami depresi, karena mereka memiliki pandangan negatif tentang diri mereka sendiri. Lebih buruk lagi, individu yang mengalami lebih dari empat jenis trauma kompleks di masa kecil mereka cenderung mengalami depresi yang lebih parah, kecemasan, dan bahkan memiliki risiko bunuh diri yang lebih tinggi daripada mereka yang tidak mengalami trauma kompleks. Ketika seseorang yang memiliki trauma kompleks kemudian mengalami trauma akut atau kronis di kemudian hari, proses pemulihannya biasanya akan lebih panjang.

Trauma dalam pernikahan dapat memiliki dampak yang signifikan pada hubungan dan kesejahteraan pasangan. Namun, penting untuk diingat bahwa semua jenis trauma ini dapat disembuhkan jika individu mau mengenali, memproses, dan memulihkan diri mereka. Dalam banyak kasus, terapi individu dan terapi pasangan dapat membantu individu yang mengalami trauma untuk pulih dan membangun hubungan yang sehat.

Baca Juga:  Permainan Ini Baik untuk Melatih Motoriknya


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com