3 Mitos dan Fakta Bayi Prematur yang Wajib Ibu Ketahui

3 Mitos dan Fakta Bayi Prematur yang Wajib Bunda Ketahui

Sebagai seorang ibu yang sedang hamil, tentunya Anda ingin memberikan yang terbaik bagi bayi yang ada di dalam kandungan Anda. Namun, terkadang ada hal-hal yang membuat Anda khawatir, salah satunya adalah kelahiran prematur. Bayi prematur seringkali dianggap memiliki banyak keterbatasan dan membutuhkan perawatan yang lebih intensif. Namun, apakah semua anggapan tentang bayi prematur tersebut benar? Mari kita simak beberapa mitos dan fakta seputar bayi prematur yang perlu Anda ketahui.

Mitos: Bayi Prematur Harus Berada di Inkubator
Faktanya, dibandingkan harus berada di dalam inkubator, justru bayi sebaiknya diketahui lebih stabil secara metabolik jika berada di pelukan orang tua. Kondisi itu pun berlaku pada bayi prematur. Pelukan ibu dengan si kecil bisa membantu meningkatkan hubungan emosional yang baik. Namun, pada beberapa kondisi, ada bayi prematur yang memang perlu masuk ke inkubator terlebih dahulu. Oleh karena itu, konsultasikan dahulu dengan dokter dan tanyakan apakah si kecil memang harus berada di inkubator atau tidak. Jika kondisi si kecil sangat lemah dan berat badannya di bawah rata-rata, biasanya dokter akan menyarankan agar si kecil masuk ke dalam inkubator untuk beberapa waktu.

Mitos: Bayi Prematur Tidak Bisa Menyusu ASI
Anggapan tersebut kurang akurat. Pasalnya, tidak semua bayi prematur sulit menyusu ASI secara langsung. Faktanya, bayi prematur tetap dapat meraih payudara ibu untuk menyusu. Bahkan, bagi bayi yang lahir di usia kandungan 28 minggu sekali pun. Pada beberapa kondisi, bayi yang lahir di minggu 32 justru dapat menyusu ASI dengan baik, tanpa bantuan alat tambahan, seperti botol atau selang. Oleh karena itu, sebaiknya setelah bayi lahir, ibu langsung mengenalkannya cara menyusu ASI. Meski terlihat mudah, tetapi cara ini akan berbeda antara masing-masing bayi prematur. Sebab, beberapa bayi prematur mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama dalam membiasakan diri untuk menyusu secara langsung tanpa bantuan apapun.

Baca Juga:  [7 Tips] Merayakan Ulang Tahun Anak di Era New Normal

Mitos: Semua Bayi Prematur Pertumbuhannya Terhambat
Faktanya, bayi prematur memang lahir dengan berat badan rendah dan bila kondisinya kurang baik, maka bayi akan mengalami beberapa masalah pada tumbuh kembang. Namun, tidak semua bayi prematur pertumbuhannya jadi terhambat. Pada kenyataannya, banyak juga bayi prematur dapat berkembang secara normal. Bahkan, sebagian bayi sudah tumbuh layaknya seperti bayi yang lahir normal. Oleh karena itu, penting bagi ibu untuk selalu memantau tumbuh kembang si kecil dan konsultasi dengan dokter untuk mendeteksi komplikasi awal yang mungkin terjadi.

Penyebab Kelahiran Prematur
Terkadang penyebab kelahiran bayi prematur tidak diketahui secara pasti. Namun, salah satu penyebab utama yang sering muncul adalah pecahnya ketuban lebih awal yang dialami oleh ibu hamil. Selain itu, faktor pemicu kelahiran prematur juga bisa dibedakan ke dalam tiga kategori, yaitu faktor kesehatan ibu, faktor janin dan kehamilan. Faktor kesehatan ibu meliputi penyakit infeksi, penyakit kronis, kelainan bentuk rahim, ketidakmampuan serviks menutup selama masa kehamilan (inkompetensi serviks), preeklamsia, stres, kebiasaan merokok sebelum dan selama masa kehamilan, penyalahgunaan NAPZA, dan pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya. Sedangkan faktor janin dan kehamilan meliputi kelainan atau menurunnya fungsi ari-ari, kelainan posisi ari-ari, ari-ari yang lepas sebelum waktunya, terlalu banyak cairan ketuban, ketuban pecah lebih awal, kehamilan kembar, dan kelainan darah pada janin.

Gejala Kelahiran Prematur
Biasanya gejala kelahiran prematur mirip dengan gejala yang ibu rasakan saat mau melahirkan. Namun, untuk memastikan gejala kelahiran prematur tidak berbahaya bagi ibu hamil dan janin, maka ibu dianjurkan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Beberapa gejala kelahiran prematur antara lain mual, muntah, hingga diare, kram dan nyeri di perut bagian bawah, kontraksi setiap 10 menit, keluar cairan dan lendir dari vagina yang semakin banyak, perdarahan vagina, dan tekanan di bagian panggul dan vagina.

Baca Juga:  3 Manfaat Minyak Ikan untuk Anak dan Sumber Makanannya

Ciri-ciri Bayi Prematur
Seperti yang telah dijelaskan, bayi yang lahir prematur akan terlihat berbeda dari bayi yang lahir normal. Tubuh bayi prematur cenderung berukuran kecil dengan ukuran kepala yang sedikit lebih besar. Selain itu, ibu juga bisa melihat ciri bayi prematur dari tanda berikut ini. Bayi yang lahir prematur biasanya diselimuti bulu halus yang tumbuh lebat di seluruh tubuh, bentuk mata tidak sebulat bayi normal karena kekurangan lemak tubuh, suhu tubuh yang rendah, sulit bernapas karena perkembangan paru yang belum sempurna, dan belum bisa mengisap dan menelan dengan sempurna, sehingga sulit menerima asupan makanan.

Pencegahan Kelahiran Prematur
Setelah mengetahui beberapa penyebab dan gejala kelahiran prematur, penting bagi ibu hamil untuk mulai melakukan pencegahan. Hal ini penting dilakukan untuk membantu ibu untuk terhindar dari risiko kelahiran prematur. Beberapa cara mencegah kelahiran bayi prematur yang bisa ibu lakukan antara lain:

1. Rutin lakukan pemeriksaan kehamilan
Dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, maka dokter dapat memantau kesehatan ibu hamil dan janin dalam kandungan. Selain itu, dokter juga akan mendeteksi apakah ada kelainan yang mungkin terjadi selama kehamilan.

2. Hindari paparan bahan kimia berbahaya
Bunda hamil sebaiknya menghindari paparan bahan kimia berbahaya, seperti asap rokok, makanan kaleng, perawatan kulit dan kosmetik yang tidak aman, alkohol, dan NAPZA. Namun, jika ibu masih ingin menggunakan perawatan kulit dan kosmetik, pastikan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui jenis produk yang aman sesuai kondisi kesehatan ibu.

3. Pertimbangkan jarak kehamilan
Tahukah ibu bahwa jarak kehamilan terakhir dengan kehamilan selanjutnya bisa memengaruhi kelahiran janin? Pasalnya, kehamilan yang hanya berjarak kurang dari 6 bulan dari persalinan terakhir dapat meningkatkan kelahiran prematur.

Baca Juga:  Catat! Ini Tahap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini

4. Konsumsi makanan kaya akan kalsium
Kalsium termasuk salah satu nutrisi yang dapat mengurangi risiko kelahiran prematur. Asupan zat gizi ini bisa ibu dapatkan dari sumber makanan kaya akan kalsium, seperti susu, yoghurt, keju, makanan laut, sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, dan makanan yang diperkaya kalsium. Namun, pada beberapa kondisi, mungkin ada ibu hamil yang memerlukan tambahan suplemen kalsium untuk mengurangi risiko kelahiran prematur. Pastikan ibu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui takaran yang tepat dan aman sebelum mengonsumsi suplemen ini.

Dengan mengetahui mitos dan fakta seputar bayi prematur serta melakukan langkah-langkah pencegahan yang tepat, ibu dapat mengurangi risiko kelahiran prematur. Ingatlah selalu untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dan spesifik sesuai dengan kondisi ibu dan janin dalam kandungan.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com