Si Kecil Suka Memainkan Alat Kelaminnya di Depan Umum!

Si Kecil Suka Memainkan Alat Kelaminnya di Depan Umum: Mengapa Terjadi dan Bagaimana Mengatasinya?

Pada suatu ketika, saya sedang mengajak si Kecil berkunjung ke rumah sang nenek. Setiba di sana, ia yang mengeluh ingin buang air kecil segera saya antarkan ke toilet. Setelah selesai, bukannya langsung memakai kembali celananya, ia malah mulai memegang-megang alat kelaminnya. Melihat hal itu, lantas saya dan sang nenek menegurnya baik-baik, “Hal itu tidak baik, sayang. Ayo dipakai lagi celananya.” Untunglah ia langsung menuruti perkataan kami, sembari saya bantu memakaikan celananya.

Setelah berbincang dengan suami saya, ternyata itu bukan kali pertama ia memainkan alat kelaminnya sendiri di depan umum. Sang Ayah pun pernah mendapati si Kecil tengah melakukan hal yang sama, lalu menegurnya secara halus. Karena khawatir itu bisa jadi kebiasaan si Kecil, saya menghubungi seorang kerabat yang merupakan ahli psikoanalisis. Ia menjelaskan bahwa kebiasaan si Kecil memainkan alat kelamin ini disebut sebagai fase falik. Saat masih bayi, kenikmatan si Kecil terletak di mulut (fase oral), lalu beralih ke dubur (fase anal), dan berganti pada organ reproduksi (fase falik) ketika memasuki usia 3-5 tahun.

Kenikmatan yang dimaksud adalah kebiasaan si Kecil yang didasari oleh rasa ingin tahu tinggi tentang organ seksual, sehingga ia bereksplorasi dengan alat vitalnya sendiri. Hal ini bisa menyebabkan si Kecil memegang, menggaruk, atau bahkan menunjukkan alat kelaminnya kepada orang lain.

Bagaimana Mengatasi Kebiasaan Si Kecil Memainkan Alat Kelamin di Depan Umum?

1. Alihkan perhatian si Kecil
Ketika Bunda melihat si Kecil mulai berusaha untuk memainkan alat kelaminnya sendiri, alihkan perhatiannya dengan kegiatan yang lebih menarik. Bunda dapat mengajaknya bermain agar ia tidak fokus pada kebiasaan yang kurang baik tersebut. Pastikan kegiatan bermain ini si Kecil aktif menggunakan tangannya, ajarkan bahwa tangan digunakan untuk bermain, makan, dan minum.

Baca Juga:  7 Alat Dapur Unik Namun Berguna Di Bawah Seratus Ribu

2. Beri penjelasan yang mudah dimengerti
Bunda bisa menjelaskan pada si Kecil bahwa alat kelamin bersifat pribadi dan bukan untuk diperlihatkan kepada orang lain. Ajak sang Ayah untuk membantu Bunda menjelaskankan bahwa kebiasaan itu kurang baik untuk kesehatannya, misalnya “Jangan dipegang-pegang terus nanti kamu bisa sakit, sayang. Apalagi kalau tanganmu kotor.”

3. Hindari teguran yang bersifat intimidatif
Saat mendapati si Kecil sedang “asyik” memainkan alat kelaminnya di depan orang lain. Sebaiknya Bunda menghindari kata-kata yang intimidatif, misalnya, “Hayo! Kamu ngapain, sih? Jangan begitu dong!” Kata-kata seperti itu akan membuatnya kaget dan merasa bersalah. Dekati si Kecil, lalu tegur ia secara halus, contohnya, “Ayo pakai lagi celananya. Kebiasaan itu tidak baik, jadi jangan diulangi ya, sayang.”

4. Hindari memberikan hukuman pada si Kecil
Jika si Kecil sedang berada di sekolah, tanyakan kepada gurunya apakah ia sering memainkan atau memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain. Bunda harus bekerja sama dengan sang guru, serta memastikan si Kecil ditegur sewajarnya dan tidak diberi hukuman.

5. Ajak si Kecil berkonsultasi dengan ahli
Jika kebiasaan si Kecil terus berlanjut dan sulit untuk diatasi, sebaiknya Bunda mencari bantuan dari ahli psikologi atau psikoanalisis. Mereka akan membantu Bunda memahami penyebab dan memberikan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini.

Pentingnya Pendidikan Seksual yang Tepat dari Usia Dini

Kebiasaan si Kecil memainkan alat kelaminnya di depan umum menunjukkan bahwa ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi tentang organ seksualnya. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memberikan pendidikan seksual yang tepat sejak usia dini. Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan pendidikan seksual kepada si Kecil:

Baca Juga:  10 Kegiatan Kreatif untuk Anak TK yang Tangkas

1. Jelaskan batasan privasi
Ajarkan pada si Kecil bahwa organ seksual adalah bagian tubuh yang bersifat pribadi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain. Beri penjelasan mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait organ seksual.

2. Ajarkan istilah yang tepat
Gunakan istilah yang tepat saat berbicara tentang organ seksual. Hal ini akan membantu si Kecil memahami dengan lebih baik dan menghindari kebingungan di kemudian hari.

3. Sampaikan informasi yang sesuai dengan usia
Berikan informasi yang sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman si Kecil. Jangan memberikan informasi yang terlalu rumit atau terlalu berlebihan untuk usianya.

4. Jawab pertanyaan dengan jujur dan sesuai usia
Jika si Kecil memiliki pertanyaan tentang seksualitas, jawab dengan jujur dan sesuai dengan usianya. Jika Bunda merasa kesulitan menjawab pertanyaan tersebut, Bunda bisa mencari sumber informasi yang dapat dipercaya atau mengajak si Kecil berkonsultasi dengan ahlinya.

5. Jadikan pendidikan seksual sebagai pembelajaran yang positif
Jangan menganggap pendidikan seksual sebagai sesuatu yang tabu atau negatif. Jadikan pendidikan seksual sebagai pembelajaran yang positif dan menanamkan nilai-nilai yang baik tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Dengan memberikan pendidikan seksual yang tepat sejak dini, Bunda dapat membantu si Kecil memahami tubuhnya dengan baik dan menghindari perilaku yang tidak pantas terkait dengan organ seksualnya.

Kesimpulan

Kebiasaan si Kecil memainkan alat kelaminnya di depan umum merupakan fenomena yang cukup umum terjadi pada anak usia 3-5 tahun. Hal ini disebabkan oleh rasa ingin tahu tinggi tentang organ seksual yang dimiliki oleh si Kecil. Untuk mengatasi kebiasaan ini, Bunda dapat mengalihkan perhatian si Kecil, memberikan penjelasan yang mudah dimengerti, menghindari teguran yang intimidatif, dan tidak memberikan hukuman pada si Kecil. Penting juga bagi Bunda untuk memberikan pendidikan seksual yang tepat sejak dini agar si Kecil dapat memahami tubuhnya dengan baik dan menghindari perilaku yang tidak pantas terkait dengan organ seksualnya.

Baca Juga:  Bu, Ini 6 Cara Mengatasi Sembelit pada Bayi Tanpa Obat

Sumber:
– https://www.ibuend.com/
– https://www.parents.com/parenting/better-parenting/
– https://www.parenting.com/

Artikel ini disponsori oleh Bunda & Balita.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com