Pengalaman Terapi Tumbuh Kembang Menggunakan BPJS Kesehatan


Ternyata banyak yang belum tahu, kalau ternyata kita bisa menggunakan layanan terapi tumbuh kembang menggunakan BPJS Kesehatan. Simak caranya.
Tadinya nggak pernah menyangka kalau BPJS menanggung biaya terapi tumbuh kembang seperti Terapi Wicara, Sensori Integrasi, hingga Okupasi Terapi untuk anak. Nggak dipungkiri, sih, pandangan miring terhadap layanan BPJS sempat bikin saya pesimis. Apa iya, sih, bisa ditanggung? 
Terapi tumbuh kembang ditanggung BPJS
Ih, ternyata bisa, lho. Kemana aja saya selama ini? BPJS Kesehatan ternyata menanggung biaya konsultasi serta tindakan dalam menangani gangguan tumbuh kembang anak. 
Beberapa Jenis gangguan tumbuh kembang yang ditanggung antara lain adalah autisme, down syndrome,  hingga ADHD. Anak saya mengalami gangguan verbal, difasilitasi juga, lho, meski kemampuan kognitifnya baik-baik saja. 
Biaya penanganan tumbuh kembang ini memang nggak murah, Mom. Sekali terapi di klinik tumbuh kembang bisa 150.000 – 200.000/terapi. Dan tentu saja nggak cukup terapi sekali dua kali. Harus berkesinambungan dan memakan waktu yang nggak sebentar. Anak saya sendiri terus terapi dari usia 4 tahun, sebulan 4 kali. Jadi bisa dibayangkan, ya, berapa yang bisa saya hemat jika menggunakan layanan BPJS Kesehatan.

Ikuti prosedurnya, jangan lalai bayar iuran BPJS
Syarat untuk anak mengikuti terapi tumbuh kembang tentu haruslah menjadi anggota aktif BPJS Kesehatan. Aktif di sini artinya punya nomor keanggotaan dan TIDAK BOLEH NUNGGAK iuran per bulan.
Percaya, deh, sama saya. Bayar iuran BPJS Kesehatan per bulan itu nggak mahal dibanding manfaatnya. Iya, memang birokrasinya atau prosedurnya rada panjang, tapi kalau dijalanin sebenarnya nggak ribet-ribet amat. 
Bunda tinggal datang ke Faskes I, ceritakan masalah yang dialami anak. Biasanya kalau sudah persoalan tumbuh kembang, dokter umum akan langsung merujuk ke faskes berikutnya yang lebih lengkap. 

Baca Juga:  Perhatikan, Ini 7 Risiko Penyakit Pasca Operasi Caesar

Dokter spesialis anak dulu baru dokter rehab medik
Dokter umum di Faskes I biasanya akan merujuk terlebih dahulu ke dokter spesialis anak di Rumah Sakit tipe C (untuk jenjang tiap rumah sakit bisa dicek sendiri di faskes masing-masing, ya). 
Nanti dari dokter spesialis anak, jika memang ternyata anak kita membutuhkan terapi tumbuh kembang, mommies akan dirujuk ke dokter spesialis rehab medik. Nah, dari rehab medik tersebut akan ditentukan, terapi apa saja yang akan diberikan. Bisa saja selain terapi Wicara, anak juga butuh terapi Sensori Integrasi. Jadi terapi diberikan beriringan.

Jika di rumah sakit tipe C tidak ada layanan tumbuh kembang
Nggak semua rumah sakit rujukan dari Faskes I punya fasilitas klinik tumbuh kembang. Nah, biasanya rumah sakit tipe C akan rujuk lagi ke dokter spesialis anak atau dokter rehab medik di rumah sakit tipe B. Istilahnya naik lagi jenjang rumah sakitnya.
Biasanya, sih, di sinilah akan terasa seperti kita itu di-ping pong. Birokrasi terasa bertele-tele karena mungkin saja bikin kita bolak balik rumah sakit. Tapi, ya, memang begitu prosedurnya. 
Sepanjang pengetahuan saya, saat di Faskes I, biasanya dokter umum akan memberikan pilihan mau dirujuk ke Rumah Sakit tipe C mana.
Bunda bisa cek daftar faskes yang sudah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan di sini. Dari sini nanti, mommies  bisa browsing atau cari tahu apakah faskes tersebut punya layanan klinik tumbuh kembang atau tidak. 
Kalau saya kemarin, karena saya sudah tahu kalau Rumah Sakit Tipe C yang saya incar punya layanan tumbuh kembang, maka saya langsung minta dirujuk ke RS tersebut saat konsultasi di Faskes I.

Siapkan semua fotokopi dokumen
Saran saya, fotokopi semua dokumen mulai dari surat rujukan, kartu BPJS, akte kelahiran hingga kartu keluarga. Memang tidak semua faskes akan meminta dokumen lengkap. Mending jaga-jaga biar nggak perlu bolak balik rumah – rumah sakit. 
Jujur, sih, buat saya bagian menyertakan berbagai macam fotokopi dokumen merupakan salah satu bagian nggak enak dari menggunakan layanan BPJS Kesehatan. Di kala semua orang mulai paperless dan online, masih aja harus fotokopi ina inu. Tapi sudahlah, ya. Mungkin memang begitu prosedurnya. Ikuti saja.

Baca Juga:  Manfaat Vitamin E Bagi Tumbuh Kembang Anak

Kelebihan dan kekurangan terapi tumbuh kembang menggunakan BPJS Kesehatan
Kelebihannya sejauh ini, sih, ya hemat ya. Mengingat terapi yang harus dilalui anak nggak cuma sekali. Dalam sebulan saja bisa 5-6 kali. Jika per terapi wicara biayanya Rp 175.000, berarti saya sudah berhemat Rp 1.050.000. Belum biaya dokter spesialis anak dan rehab medik. 
Kalau bicara kekurangan, dalam kasus saya, kita nggak bisa milih jadwal terapi yang rutin. Misalnya, ketika mau saya sesuaikan dengan jadwal kegiatan anak, inginnya kita terapi di hari Rabu dan Jumat pukul 2 siang. Nah, kalau menggunakan BPJS jadwal terapi ditentukan oleh Faskes dan seadanya jadwal. 
Namun, bisa jadi juga hal ini disebabkan oleh tenaga terapis yang terbatas sementara peserta terapi banyak. Intinya begini, setiap rumah sakit memiliki aturan, jumlah nakes, dan jadwal yang berbeda-beda. Jadi, ya, tinggal ikuti saja aturan di faskes tersebut, ya. 
Betul, bahwa secara prosedur terkesan bertele-tele dan terlalu banyak pritilan fotokopi dokumen yang di-submit. Tapi buat saya, sih, sebanding dengan biaya yang bisa saya hemat. 

Tetap profesional terhadap pasien BPJS
Sejauh pengalaman saya menggunakan BPJS Kesehatan, mulai dari dokter faskes I, dokter spesialis anak, dokter rehab medik, hingga terapis di Rumah Sakit Bunda Margonda tempat anak saya menjalankan terapi, semuanya ramah. Nggak kelihatan membedakan pasien BPJS dengan Non BPJS. Benar-benar ditangani seoptimal mungkin. 
Jadi, jika mommies ingin mencoba menggunakan layanan BPJS Kesehatan untuk terapi tumbuh kembang, sok atuh, dicoba. Semoga pengalaman saya kali ini bisa membantu, ya.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com