Pemanis Buatan vs Pemanis Alami, Ini yang Aman untuk Anak

Pemanis buatan kerap dianggap dapat menjadi alternatif pengganti gula untuk beragam makanan manis. Meski mengandung kalori yang lebih kecil, tetapi studi menunjukkan bahwa efek samping pemanis buatan juga bisa memicu ragam masalah kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Apa Saja Jenis Pemanis Buatan?

Setidaknya ada 6 jenis pemanis buatan yang disetujui aman untuk produk makanan dan minuman, di antaranya sakarin, asesulfam, aspartam, neotam, dan sukralosa. Berikut adalah beberapa jenis pemanis buatan yang perlu Bunda ketahui dengan batas konsumsinya:

Sukralosa
Jenis pemanis buatan selanjutnya yaitu sukralosa yang memiliki rasa manis sekitar 600 kali lebih tinggi dibandingkan gula. Sukralosa merupakan jenis pemanis buatan yang paling sering digunakan pada produk makanan dan minuman yang ada di pasaran. Batas aman konsumsinya adalah 5 mg/kg berat badan.

Sakarin
Tahukah Bunda bahwa rasa manis yang dihasilkan sakarin bisa mencapai 300-400 kali lebih kuat dibandingkan gula biasa lho. Itulah mengapa pemakaian sakarin dalam sekali penyajian makanan tidak boleh melebihi kadar 30 mg. Sedangkan, untuk minuman tidak boleh melebihi 4 mg per 10 ml cairan. Untuk batas konsumsinya 5 mg per kilogram berat badan.

Aspartam
Bunda pasti sering melihat anak-anak yang gemar mengonsumsi permen, permen karet, dan makanan manis sejenisnya, kan? Nah, rasa manis yang ada dalam permen karet, sereal, agar-agar, dan minuman berkarbonasi itu ternyata sebagian besar berasal dari aspartam. Pemanis buatan yang satu ini memiliki rasa manis sebanyak 220 kali lebih tinggi dibandingkan gula. Untuk batas konsumsinya 50 mg per kilogram berat badan.

Neotam
Neotam termasuk pemanis buatan yang banyak digunakan dalam makanan rendah kalori. Kandungannya hampir sama dengan aspartam, namun ternyata rasanya 40 kali lebih manis dari aspartam. Tingkat manis dari neotam bisa mencapai 8.000 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gula rafinasi (gula yang berasal dari sari tebu). Untuk batas konsumsinya 2 mg per kilogram berat badan.

Asesulfam-K
Asesulfam-K atau disebut juga dengan istilah acesulfame potassium termasuk pemanis buatan yang rendah kalori. Jenis pemanis ini sering digunakan oleh industri minuman, khususnya minuman sirup. Untuk batas konsumsinya 15 mg per kilogram berat badan si Kecil.

Baca Juga:  5 Tips Membujuk Balita Susah Makan

Apa Dampak Pemanis Buatan Bagi Kesehatan?

Biskuit, sereal, kue, jeli, dan permen merupakan jenis camilan yang digemari oleh anak-anak. Di balik rasanya yang manis, camilan tersebut bisa menimbulkan efek buruk terhadap kesehatan lho, apalagi jika dikonsumsi terus menerus dan berlebihan. Penelitian dalam jurnal Toxicological & Environmental Chemistry menunjukkan bahwa anak-anak yang diberikan minuman mengandung pemanis buatan secara berlebihan bisa memiliki kadar plasma sukralosa darah yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Meski efek sampingnya tidak langsung terlihat secara instan, tetapi plasma sukralosa yang tinggi akibat konsumsi pemanis buatan akan bertahan dalam tubuh anak. Hal ini disebabkan karena ginjal si Kecil belum mampu membuang zat berlebihan secara optimal. Kadar pemanis buatan yang tinggi pada si Kecil lantas dapat memengaruhi selera makannya saat ia dewasa lho, Bu.

Seiring masa tumbuh kembang, anak yang terlalu sering mengonsumsi makanan atau minuman manis dalam jumlah yang banyak akan terus mengonsumsinya hingga ia dewasa. Nantinya si Kecil akan cenderung lebih banyak mengonsumsi makanan dan minuman manis dibandingkan makanan sehat lainnya.

Bahaya pemanis buatan mungkin tidak langsung terlihat pada si Kecil, Bu. Namun, pemberian makanan manis dalam jumlah banyak dan terlalu sering bisa memengaruhi pola makannya sehari-hari.

Selain itu, si Kecil juga berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan di kemudian hari. Ada beberapa penyakit yang berisiko tinggi, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit terkait gangguan metabolisme lainnya.

Rekomendasi Pemanis Alami yang Aman untuk Bayi

Banyak Bunda yang sengaja menambahkan bumbu pada makanan si Kecil ketika sudah mulai MPASI. Hal ini dilakukan agar si Kecil mengenal rasa dan tidak bosan dengan makanan yang itu-itu saja. Anjuran pemberian berbagai macam jenis makanan saat MPASI memang baik agar si Kecil tidak menjadi anak yang picky eater. Namun, Bunda juga harus ingat bahwa si Kecil membutuhkan makanan yang tak hanya lezat, tetapi juga mengandung beragam nutrisi yang penting bagi tumbuh kembangnya.

Baca Juga:  77 Inspirasi Nama Bayi dari Betawi Lengkap dengan Artinya

Jika sejak awal pemberian makanan pertama si Kecil sudah ditambahkan pemanis buatan atau gula dalam jumlah yang banyak, hal ini bisa memicu si Kecil jadi terbiasa pada makanan manis dan meningkatkan risiko masalah kesehatan. Akibatnya, bisa jadi suatu saat si Kecil kurang menyukai sayur-sayuran karena memiliki rasa hambar.

Maka dari itu, sebaiknya Bunda menghindari tambahan gula dan pemanis buatan pada MPASI si Kecil. Selain gula, Bunda juga sebaiknya menghindari atau mengurangi pemberian garam pada menu MPASI si Kecil hingga usianya satu tahun.

Sebagai pengganti yang lebih sehat, pemanis alami yang berasal dari buah-buahan dan sayur bisa jadi pilihan tepat agar si Kecil mengenal rasa manis yang alami dan kaya nutrisi. Nah, berikut ini beberapa alternatif bahan makanan yang mengandung pemanis alami untuk MPASI:

Madu
Madu adalah bahan yang sering kali jadi pilihan pengganti gula. Rasa manis khas madu sering kali membuat cita rasa makanan jadi bertambah. Apalagi, karena tergolong alami sering kali dirasa baik untuk diberikan pada si Kecil yang sudah bisa mengonsumsinya.

Pisang
Pisang merupakan buah-buahan yang paling diminati untuk diolah menjadi MPASI. Selain memiliki rasa yang manis, manfaat pisang pun tak perlu diragukan lagi karena cukup penting untuk mendukung kesehatan si Kecil. Yang tak kalah istimewa, pisang juga memiliki tekstur yang lembut sehingga sangat aman untuk bayi. Apalagi buah yang satu ini mengandung beragam nutrisi yang penting bagi kesehatan si Kecil.

Ubi
Selain pisang, ubi juga bisa jadi alternatif pemanis alami yang bisa Bunda olah ke dalam menu MPASI hariannya. Ubi kaya akan beragam nutrisi penting bagi tubuh, seperti protein, serat, kalsium, kalium, vitamin A, B kompleks, C dan lain sebagainya. Dari banyaknya nutrisi tersebut, tak heran jika manfaat ubi cukup penting bagi kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil. Bunda bisa mengolah ubi menjadi menu MPASI puree ubi dan labu, bola-bola ubi pisang, kukus ubi, dan lain sebagainya.

Apel
Apel juga termasuk buah yang bisa dijadikan pemanis alami untuk menu MPASI si Kecil lho, Bu. Apalagi apel mengandung beragam nutrisi penting, mulai dari serat, vitamin A, B kompleks, C, E, kalsium, kalium, zat besi, zinc, dan nutrisi lainnya. Bayi yang baru mengonsumsi MPASI membutuhkan asupan serat yang cukup agar terhindar dari sembelit atau konstipasi. Nah, MPASI apel bisa jadi pilihan tepat bagi si Kecil, tentunya dengan campuran dari makanan bernutrisi lainnya ya, Bu.

Baca Juga:  10 Pasangan Artis yang Menikah Beda Usia Terpaut Jauh, Tapi Tetap Harmonis

Wortel
Selain dari buah-buahan, Bunda juga bisa mendapatkan pemanis alami dari wortel. Sayuran yang satu ini sering dijadikan rekomendasi untuk diolah menjadi MPASI yang lezat dan kaya nutrisi. Ada banyak nutrisi yang terkandung dalam wortel, seperti beta karoten, serat, vitamin A, B kompleks, E, kalsium, kalium, dan lain-lain. Wortel juga sangat cocok untuk dijadikan finger food saat si Kecil berusia 9 bulan ke atas lho, Bu.

Sebenarnya ada banyak jenis buah-buahan dan sayuran lain yang bisa Bunda kombinasikan ke dalam menu MPASI si Kecil. Selain itu, Bunda juga perlu menyeimbangkannya dengan protein hewani, seperti susu, telur, ikan, daging merah, dan daging putih. Sebab, protein nabati (kacang-kacangan, buah, dan sayuran) tidak memiliki 9AAE yang lengkap, sehingga kurang optimal untuk meningkatkan tumbuh kembang si Kecil. Pastikan juga untuk mengolah MPASI dengan tepat agar kandungan nutrisinya tetap terjaga.

Selain itu, Bunda juga bisa melengkapi sajian MPASI si Kecil dengan menambahkan susu. Jika masih mengonsumsi ASI, Bunda bisa mencampurnya dengan ASI. Namun, jika sudah tidak memungkinkan, Bunda bisa menggunakan susu pengganti ASI yang mengandung 9 asam amino esensial dan tinggi DHA. Pastikan juga Bunda menanyakannya terlebih dahulu kepada dokter, ya.

Dengan memilih pemanis alami dan menyajikan makanan yang bernutrisi, Bunda dapat memberikan asupan yang sehat dan baik bagi tumbuh kembang si Kecil. Jangan lupa untuk selalu memperhatikan jumlah dan frekuensi konsumsi makanan manis, baik yang mengandung pemanis buatan maupun pemanis alami, agar si Kecil tetap sehat dan terhindar dari masalah kesehatan di kemudian hari.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com