Membuat Kue Bersama Papa


Heading 2: Membuat kue bersama Kana: Awal yang Gemas tapi Menggembirakan

Membuat kue bersama Kana sejak awal memang tidaklah mudah bagi saya. Karena bagi saya, membuat kue adalah hal yang sakral dan harus dilakukan dengan khusyuk serta sepenuh hati. Namun, setelah melihat perkembangan minat Kana dalam dunia baking, saya mulai membuka pintu untuk membiarkannya ikut serta.

Saya masih ingat betul saat Kana pertama kali menunjukkan minatnya untuk ikut membuat kue. Saat itu, dia masih sangat kecil, hanya berusia 3 tahun. Kami sedang membuat kue ulang tahun untuknya sendiri. Kana melihat saya sibuk dengan adonan dan menghias kue, dia terlihat begitu antusias dan ingin ikut serta. Awalnya, saya merasa khawatir karena kue adalah hal yang rumit dan butuh ketelitian. Namun, melihat semangat Kana yang begitu besar, saya akhirnya memutuskan untuk memberinya kesempatan.

Kami mulai dengan membuat kue sederhana, seperti cupcake atau cookies. Saya memilih resep yang mudah diikuti dan bisa diadaptasi dengan baik oleh Kana. Tentu saja, saya tetap mengawasi setiap langkah yang dia lakukan agar tidak terjadi kesalahan yang fatal. Kami berdua bekerja dengan penuh semangat dan kegembiraan. Kana tampak begitu antusias saat mencampur adonan dan menambahkan berbagai bahan. Wajahnya berbinar-binar saat melihat adonan berubah menjadi kue yang siap dipanggang.

Selama proses pembuatan kue, ada beberapa momen yang memang membuat saya gemas. Misalnya, terigu yang tumpah di meja atau adonan yang menempel di beberapa tempat. Namun, saya belajar untuk tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang terpenting adalah kebahagiaan Kana dan semangatnya dalam belajar. Dalam proses tersebut, saya juga belajar untuk mengajarkan Kana tentang tanggung jawab dan kebersihan. Saya mengajarkannya untuk membersihkan setiap kekacauan yang dia buat dan merapikan tempat kerja setelah selesai.

Baca Juga:  7 Cara Memanfaatkan Air Buangan AC

Heading 3: Suami Ikut Serta dalam Membuat Kue

Saya selalu menganggap membuat kue sebagai kegiatan yang hanya bisa dilakukan bersama Kana. Namun, suatu hari suami saya, yang biasanya hanya menjadi penonton, meminta saya untuk membiarkannya ikut serta. Awalnya, saya merasa pesimis. Suami saya tidak memiliki pengalaman dalam baking dan saya khawatir hal tersebut akan menghambat proses pembuatan kue. Namun, saya memutuskan untuk memberinya kesempatan.

Pada libur Natal kemarin, suami saya meminta saya menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kue. Saya hanya menyiapkan bahan secara ala kadarnya, agar suami saya bisa merasakan pengalaman membuat kue secara mandiri. Saya menyiapkan bahan-bahan dan mencetak resep untuk suami saya. Kemudian, saya meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau di dekat dapur.

Saat suami saya mulai memasak, saya hanya menjadi penonton. Saya membiarkannya melakukannya sendiri tanpa banyak campur tangan. Meskipun awalnya terlihat kikuk dan sedikit bingung, suami saya dengan semangat mencoba mengikuti resep dan menakar bahan-bahan dengan teliti. Melihatnya sibuk berusaha membuat adonan dengan benar, saya merasa bangga dan tersenyum.

Proses pembuatan kue bersama suami saya tidaklah mulus. Terigu tumpah di meja, telur pecah, dan beberapa bahan tercecer di lantai. Namun, suami saya tidak menyerah. Dia tetap fokus dan berusaha untuk menyelesaikan tugasnya dengan baik. Saya terkejut melihat ketekunan dan semangatnya yang begitu besar. Kami berdua saling memberikan semangat dan bantuan ketika diperlukan.

Heading 3: Keindahan dalam Kekacauan

Meskipun proses pembuatan kue bersama suami dan Kana sering kali berantakan, saya menyadari bahwa kebahagiaan dan kegembiraan yang kami rasakan tidak ternilai. Melihat wajah bangga Kana saat cookies buatannya matang dan suami saya saat kuenya berhasil mengembang sempurna, membuat hati saya penuh dengan kebanggaan.

Baca Juga:  Rekomendasi Essence Terbaik Untuk Usia 40-an, Mulai Dari 60 Ribuan

Saya menyadari bahwa membuat kue bukanlah hanya tentang hasil akhir yang sempurna, tetapi juga tentang prosesnya. Proses pembuatan kue menjadi momen berharga yang mengajarkan kami tentang kerja tim, ketekunan, dan tanggung jawab. Kami belajar untuk saling membantu, menghargai satu sama lain, dan bersabar dalam menghadapi kegagalan.

Membuat kue bersama suami dan Kana telah menjadi tradisi keluarga kami. Kami melakukannya tidak hanya saat liburan, tetapi juga pada hari-hari biasa. Setiap momen tersebut selalu penuh dengan keceriaan dan kegembiraan. Kami berdua menjadi lebih dekat satu sama lain melalui kegiatan ini.

Sekarang, saya tidak lagi melihat membuat kue sebagai suatu hal yang sakral dan hanya bisa dilakukan oleh Mama saja. Saya menyadari bahwa membuat kue adalah kegiatan yang bisa dilakukan bersama-sama sebagai keluarga. Kegiatan ini mengajarkan kami tentang pentingnya kerjasama, komunikasi, dan menghargai kontribusi setiap anggota keluarga.

Membuat kue bersama suami dan Kana telah memberikan kami pengalaman yang tak terlupakan. Kami tidak hanya merasakan kebahagiaan saat menikmati kue yang kami buat, tetapi juga kebahagiaan dalam prosesnya. Membuat kue bersama telah menjadi ikatan yang kuat antara kami sebagai keluarga.

Dalam kesibukan dan rutinitas sehari-hari, membuat kue bersama telah menjadi momen istimewa yang kami nantikan. Itu adalah waktu kami untuk berbagi tawa, kegembiraan, dan cinta. Melalui kegiatan sederhana ini, kami belajar tentang pentingnya meluangkan waktu untuk keluarga dan menciptakan kenangan yang indah bersama.

Dalam hidup ini, ada banyak hal sederhana yang dapat membawa kebahagiaan yang besar. Membuat kue bersama keluarga adalah salah satunya. Saya berterima kasih atas kesempatan ini dan berharap tradisi ini akan terus berlanjut di keluarga kami dan menjadi kenangan yang akan kami kenang sepanjang hidup.

Baca Juga:  9 Ciri-ciri Ibu Hamil Kekurangan Asam Folat


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com