Ketimbang Menghukum, Terapkan 5 Jenis Konsekuensi yang Mendidik Saat Anak Melakukan Pelanggaran


Hukuman dan pelanggaran adalah dua hal yang selalu terkait erat satu sama lain. Ketika seorang anak melakukan pelanggaran, orang tua sering kali merasa terdorong untuk memberikan hukuman sebagai konsekuensinya. Namun, terkadang hukuman tersebut tidak efektif dalam membuat anak jera. Mengapa hal ini terjadi? Apa yang salah dalam pendekatan kita dalam mendidik anak?

Dalam sebuah sharing session yang membahas tentang parenting, Ellen Kristi, Pendiri Komunitas Charlotte Mason Indonesia pernah mengatakan bahwa dalam hal mendidik anak, kita harus mengharapkan adanya perbantahan. Artinya, anak-anak tidak akan selalu mengiyakan segala perintah dan aturan yang kita berikan. Mereka pasti pernah melanggar aturan, atau setidaknya mencoba-coba melakukannya.

Ketika seorang anak melakukan pelanggaran, bagaimana reaksi orang tua dalam menyikapinya sangat penting. Menurut Psikolog Anak dan Remaja, Alia Mufida, sekarang dunia parenting telah bergeser dari metode lama yang menggunakan reward dan punishment ke metode non punitive discipline. Metode ini berfokus pada mendisiplinkan anak tanpa menggunakan hukuman, melainkan dengan memberikan konsekuensi yang mendidik.

Lalu, apa saja jenis konsekuensi yang lebih mendidik yang dapat kita terapkan kepada anak? Berikut ini beberapa jenis konsekuensi yang bisa kita terapkan agar anak dapat menyadari dan belajar dari kesalahan yang dilakukannya:

1. Konsekuensi Natural
Konsekuensi natural adalah hasil dari perbuatan yang dilakukan oleh anak. Konsekuensi ini akan membuat anak merasakan tanggung jawab secara alami dari pengalaman sebab-akibat yang dia alami. Jika konsekuensi natural diterapkan secara konsisten, anak akan belajar disiplin secara alami tanpa merasa takut akan dihukum. Sebagai contoh, jika anak terlalu banyak bermain dan tidak mengerjakan tugas sekolahnya, orang tua sebaiknya tidak mengambil alih untuk menyelesaikan tugas tersebut. Biarkan anak merasakan teguran dan konsekuensi yang diberikan oleh gurunya. Hal ini akan membuat anak menyadari bahwa ada akibat yang harus dia tanggung ketika melakukan pelanggaran.

Baca Juga:  Tingkatkan Kecerdasan Anak dengan Aktivitas Ini

2. Konsekuensi Logis
Jika kita merasa bahwa anak memiliki masalah dengan perilaku tertentu, memberikan konsekuensi logis dapat membantu anak mengatasi perilaku tersebut. Sebagai contoh, jika anak sering bermain-main dan beranjak dari kursi makan ketika sedang makan, kita bisa memberlakukan aturan bahwa itu menandakan bahwa anak sudah selesai makan, dan dia tidak akan mendapatkan makanan atau camilan apapun hingga waktu makan berikutnya. Dengan cara ini, anak akan merasa lapar dan belajar bahwa itu adalah konsekuensi langsung dari perilaku makan yang tidak tertib yang dia lakukan.

3. Menghilangkan Hak Istimewa
Misalnya, jika anak melakukan pelanggaran dengan membuka YouTube saat sedang sekolah online, sebagai konsekuensinya, haknya untuk bermain gadget di akhir pekan dapat ditiadakan. Hal ini akan mengajarkan anak bahwa ketika dia membuat pilihan yang salah, maka hak istimewanya akan hilang. Diharapkan dengan adanya konsekuensi ini, anak akan lebih bijak dalam mengambil keputusan yang dapat memberikan dampak yang menyenangkan baginya. Tentunya, hal ini membutuhkan latihan yang konsisten dari orang tua.

4. Metode “Thinking Chair”
Metode ini mirip dengan timeout, namun kita dapat memodifikasinya dengan menyediakan sebuah bangku sebagai tempat bagi anak untuk berpikir dan merenungkan perbuatannya selama 1-2 menit (tergantung usia anak) tanpa adanya distraksi. Metode ini dapat digunakan ketika anak melakukan perilaku seperti memukul teman, melempar benda, merusak barang, atau membuang makanan. Setelah 2 menit berlalu, kita dapat kembali kepada anak dan bertanya tentang apa yang sudah dia renungkan terkait dengan kesalahannya. Metode ini terbilang efektif bagi anak-anak yang lebih kecil, seperti usia 2-4 tahun. Sebaiknya metode ini diterapkan sedini mungkin untuk membentuk kebiasaan anak dalam merenungkan kesalahannya dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.

Baca Juga:  6 Rasa Kondom, dari Rasa Indomie Goreng Hingga Whisky

5. Memberi Afirmasi Positif dan Apresiasi
Meskipun anak telah melakukan pelanggaran, bukan berarti dia tidak layak mendapatkan apresiasi. Anak-anak dengan segala polahnya pasti memiliki perilaku atau kebiasaan yang sulit untuk diubah. Hal ini wajar karena anak-anak masih memiliki kehendak yang lemah, belum memiliki pengendalian diri yang baik, dan belum sepenuhnya memahami konsep benar dan salah. Sebagai contoh, jika anak sangat sulit untuk menahan godaan untuk menonton televisi saat sedang belajar, kita sebagai orang tua dapat mengatakan, “Mama sangat menghargai jika kamu mampu menahan diri untuk tidak menyalakan TV saat belajar. Mama percaya kamu bisa melakukannya.” Setelah itu, kita dapat memberikan apresiasi saat anak berhasil menahan diri dari menyalakan TV saat belajar. Kita bisa mengungkapkan rasa bangga kita pada anak. Dengan memberikan apresiasi secara berulang-ulang, anak akan merasa termotivasi untuk terus berperilaku baik.

Menerapkan berbagai jenis konsekuensi yang lebih mendidik terbukti dapat menumbuhkan kesadaran anak untuk berperilaku baik. Dengan adanya konsekuensi yang tepat, anak akan belajar dari kesalahan yang dilakukannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua untuk mengenali jenis konsekuensi yang tepat untuk anak kita dan menerapkannya secara konsisten. Dengan begitu, kita dapat membantu anak memahami batasan dan tanggung jawab yang harus dia emban dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam menghadapi pelanggaran yang dilakukan oleh anak, kita juga harus tetap menjaga komunikasi yang baik dengan mereka. Jangan hanya fokus pada pemberian hukuman atau konsekuensi, tetapi juga berikan penjelasan yang jelas tentang mengapa perilaku tersebut tidak diterima dan bagaimana anak dapat belajar dari kesalahan tersebut. Dengan begitu, anak akan lebih memahami alasan di balik aturan dan batasan yang kita berikan.

Baca Juga:  9 Cara Membersihkan Lidah Bayi yang Tepat

Selain itu, seorang orang tua juga harus menjadi contoh yang baik bagi anak. Kita harus memperhatikan perilaku dan tindakan yang kita tunjukkan di depan anak. Jika kita sendiri sering melanggar aturan atau tidak konsisten dalam memberlakukan konsekuensi, anak juga akan sulit untuk belajar dan mengerti pentingnya aturan dan konsekuensi yang diberikan.

Dalam mendidik anak, tidak ada jalan pintas atau cara instan. Dibutuhkan kesabaran dan kerja keras dari orang tua untuk membentuk karakter dan perilaku yang baik pada anak. Menggunakan konsekuensi yang mendidik adalah salah satu langkah yang dapat kita ambil dalam proses mendidik anak. Dengan adanya konsekuensi yang tepat, anak akan belajar untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan mengerti pentingnya aturan dalam kehidupan mereka.

Untuk itu, mari kita terapkan berbagai jenis konsekuensi yang mendidik ini kepada anak-anak kita. Dengan memberikan konsekuensi yang tepat dan konsisten, kita dapat membantu anak-anak kita untuk belajar dari kesalahan mereka dan tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab. Ingatlah bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara orang tua dan anak itu sendiri. Mari kita menjadi orang tua yang bijak dan memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak kita.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com