Ketika Suami Tak Bisa Jadi Sahabat Terbaik


Suami sebagai Sahabat Terbaik: Mencari Kompromi dalam Keputusan Keluarga

Saya percaya bahwa suami adalah sahabat terbaik saya. Dia adalah orang yang paling mengenal detail kehidupan saya. Namun, ternyata pendapat ini tidak berlaku untuk semua orang. Saya pernah mendengar curhatan seorang teman yang mengatakan bahwa keputusannya mengenai anak menjadi rumit karena sering kali tidak sejalan dengan suaminya. Mereka sering kali memiliki pendapat yang berbeda dalam memilih sekolah untuk anak mereka dan sulit untuk mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan. Merasa lelah karena harus selalu mengalah, keputusan akhirnya seringkali diambil berdasarkan pendapat salah satu pihak.

Saya tidak mengatakan bahwa semua keputusan harus diambil dengan sepakat bersama suami. Namun, jika perbedaan pendapat terus-menerus terjadi, hal tersebut tentu saja sangat melelahkan. Memutuskan untuk berpisah bukanlah pilihan yang mungkin karena perbedaan pendapat dalam hal-hal yang kurang prinsipil.

Selain itu, ada juga yang mengeluhkan bahwa suaminya malas mendengarkan dan komunikasi dalam hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Suami tersebut masih menafkahi keluarga, tidak selingkuh, bersedia membantu pekerjaan rumah tangga, dan menjaga anak-anak. Namun, dia sering kali terlihat malas-malasan atau sibuk dengan gadgetnya ketika istri sedang bercerita tentang sesuatu. Akibatnya, istri merasa bahwa dia tidak memiliki tempat untuk berbagi perasaan dan masalahnya. Dalam situasi seperti ini, saya biasanya menyarankan untuk mencoba mengungkapkan perasaan melalui pesan chat atau email karena mungkin suami tersebut memang memiliki sifat yang pendiam dan tidak tahu bagaimana harus merespon ketika istri sedang berbicara. (Jawabannya adalah dengan mendengarkan saja).

Sebenarnya, idealnya suami harus menjadi sahabat terbaik, tempat kita dapat bercerita dan berbagi keluh kesah. Namun, bagaimana jika suami tidak dapat menjadi sahabat terbaik? Apakah ada alternatif lain yang dapat kita ambil?

Baca Juga:  Intolerasi Laktosa saat Kehamilan

Cara yang pertama adalah mencari teman. Di era digital seperti ini, mencari teman sebenarnya tidaklah sulit. Para ibu dapat bergabung dengan kelompok-kelompok atau komunitas yang berkaitan dengan parenting. Bergabung dengan komunitas seperti ini memiliki kelebihan bahwa selalu ada topik yang bisa dibicarakan bersama-sama. Namun, disarankan untuk tidak langsung bercerita atau mengeluh di dalam grup yang berisikan banyak orang. Seharusnya dari grup tersebut, kita dapat menemukan 1-2 orang yang merasa cocok dan dapat menjadi teman yang lebih dekat. Setelah saling percaya, merekalah yang dapat menjadi sahabat kita untuk bercerita dan berbagi.

Cara lainnya adalah mencari support group. Percayalah atau tidak, support group tidak hanya untuk ibu tunggal atau yang sedang menghadapi masalah MPASI. Banyak grup di Facebook yang menjadi tempat curhat bagi para istri. Di dalam grup tersebut, para istri dapat bercerita tentang apapun, mulai dari masalah rumah tangga hingga masalah dengan mertua. Kelebihannya, para ibu dapat menggunakan akun anonim dan bercerita sepuasnya. Selain itu, mereka juga dapat membaca cerita dari orang lain. Terkadang, mendengar cerita sedih orang lain dapat membuat kita lebih mensyukuri kehidupan kita sendiri.

Namun, ada aturan lain yang harus diingat, yaitu jangan menjelekkan suami di media sosial. Pastikan untuk hanya bercerita dalam lingkungan yang tertutup karena membagikan masalah rumah tangga ke publik mungkin sah secara hukum, tetapi tidaklah etis. Kita juga tidak ingin suami kita dijelek-jelekkan di media sosial. Saya paham bahwa kadang-kadang kita ingin berbagi agar dunia tahu tentang kesalahan-kesalahan suami kita. Namun menurut saya, lebih bijak jika kita bercerita di ruang privat saja. Ingatlah, rumah tangga melibatkan anak-anak. Kita tidak ingin suatu hari nanti anak-anak melihat ibu mereka memposting hal-hal buruk tentang ayah mereka. Suami-suami bukanlah objek untuk dijadikan bahan curhat di media sosial.

Baca Juga:  Berpuasa Selama Hamil, Mengapa Tidak?

Dalam menghadapi situasi di mana suami tidak dapat menjadi sahabat terbaik, kita dapat mencari alternatif lain seperti mencari teman atau bergabung dengan support group. Selalu ada cara untuk menemukan tempat untuk berbagi perasaan dan masalah. Penting bagi kita untuk tetap menjaga hubungan baik dengan suami kita dan mencari solusi yang saling menguntungkan dalam menghadapi perbedaan pendapat. Jangan lupa bahwa komunikasi yang baik adalah kunci utama dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com