Hamil Setelah Keguguran

Pengalaman Pertama Kehamilan.

Dalam perjalanan kehidupan, kita seringkali mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Namun, penting bagi kita untuk tetap yakin dan bangkit dari kesedihan. Dalam menghadapi keguguran, saya belajar untuk menerima bahwa segala sesuatu terjadi dengan alasannya sendiri.

Saya juga belajar pentingnya mencari dukungan dari dokter yang nyaman dan rajin mencari informasi seputar kehamilan. Semua pengalaman ini telah membantu saya menjalani proses kehamilan dengan lebih kuat dan optimis.

Dalam hidup ini, kita tidak bisa mengendalikan segalanya. Namun, kita dapat mengendalikan cara kita merespons setiap peristiwa yang terjadi. Jadi, mari kita hadapi setiap cobaan dengan kepala tegak dan hati yang kuat, dan percayalah bahwa setiap perjalanan memiliki hikmahnya sendiri.

Kunjungan ke Dokter Pertama

Ketika baru menikah, saya dan suami sangat bersemangat untuk segera memiliki keturunan. Karena itu, saya pun langsung mencari dokter kandungan untuk mendapatkan pemeriksaan yang diperlukan. Setelah mendapatkan rekomendasi dari beberapa orang, saya memutuskan untuk mencoba dokter pertama yang terkenal komunikatif dan menyenangkan.

Saat menjalani pemeriksaan pertama, dokter tersebut dengan senang hati mengumumkan bahwa saya positif hamil 4 minggu. Saya merasa begitu bahagia dan bersyukur karena impian kami untuk memiliki buah hati segera terwujud. Namun, kebahagiaan kami tidak berlangsung lama.

Kecewa dengan Dokter Kedua

Beberapa minggu setelah pemeriksaan pertama, saya mengalami flek dan merasa khawatir. Sayangnya, dokter pertama sedang keluar kota sehingga saya memutuskan untuk mencari dokter kedua yang lebih mahal dan katanya sangat bagus.

Namun, saya langsung kecewa dengan sikap dokter kedua tersebut. Tanpa basa-basi, beliau hanya melihat saya dan dengan wajah lurus tanpa simpati mengatakan, “Bu, bayinya sudah tidak ada.” Saat itu, saya merasa sangat terpukul dan ingin segera keluar dari ruang praktik tersebut. Bagaimana mungkin dokter hanya dengan sekilas pandang bisa menyatakan bahwa janin saya sudah tidak ada?

Baca Juga:  3 Jenis Perkembangan Bayi 8 Bulan yang Tangkas

Opini Kedua dari Dokter Lain

Merasa ragu dengan diagnosis dokter kedua, saya memutuskan untuk mencari opini kedua dari dokter yang berbeda. Dokter tersebut juga tanpa rasa simpati hanya mengatakan bahwa detak jantung bayi sudah tidak terdengar dan menyarankan saya untuk melakukan kuret.

Tidak puas dengan penjelasan tersebut, ayah saya yang saat itu juga tidak percaya dengan diagnosis dokter kedua, meminta saya untuk mencari dokter senior ahli USG. Meskipun sulit untuk mendapatkan janji dengan dokter tersebut, saya berhasil bertemu dengannya berkat bantuan seorang teman yang baik.

Penjelasan Mendalam dari Dokter Senior

Ketika bertemu dengan dokter senior tersebut, saya merasa lebih tenang karena beliau menjelaskan dengan sangat bersahabat dan detail. Beliau meminta maaf atas pengalaman yang tidak menyenangkan sebelumnya dan menjelaskan bahwa janin yang tidak berkembang di bawah 12 minggu, terutama sekitar 6 minggu, adalah hal yang umum terjadi.

Beliau menyarankan saya untuk melakukan kuret dan mengingatkan bahwa pada usia pernikahan yang masih baru, kita sebaiknya menikmati prosesnya sambil tetap berusaha. Saya dan suami akhirnya memutuskan untuk mengikuti saran dokter senior tersebut dan pasrah untuk menjalani kuret.

Proses Kuret dan Kesedihan Pasca Kuret

Saya menunggu dokter pertama pulang dari luar kota untuk menjalani proses kuret dalam dua hari. Selama menunggu, saya terus mencari informasi tentang prosedur kuret agar saya tidak merasa takut. Untungnya, dokter memberikan penjelasan yang detail dan memberi dukungan moral sehingga saya tidak terlalu stres.

Proses kuret sendiri ternyata tidak lama dan saya hanya dibius total. Setelah sadar dari bius, saya diijinkan istirahat beberapa jam sebelum akhirnya boleh pulang. Namun, masa sesudah proses kuret adalah masa yang sangat berat bagiku. Saya merasa sangat down dan bertanya-tanya apa yang salah dengan diriku sehingga harus mengalami keguguran.

Baca Juga:  Smoothie Sehat untuk Ibu Hamil

Menghadapi Rasa Sedih dan Mencari Dukungan

Setelah beberapa waktu, saya mulai menenangkan diri dan mengingat kata-kata dokter senior yang mengatakan bahwa keguguran bisa terjadi pada siapa saja. Saya juga berbagi perasaan dengan sahabat-sahabat terdekat dan merasa lega setelah menceritakan apa yang saya rasakan.

Kontrol setelah kuret, dokter memberi kabar baik bahwa saya boleh mencoba hamil lagi setelah 6 minggu. Untuk menghilangkan beban pikiran dan mencari ketenangan, saya bersama teman-teman pergi berlibur dan melaksanakan niat umroh yang sempat ditunda karena kehamilan.

Hikmah dari Pengalaman Kehamilan Pertama

Dari pengalaman keguguran yang saya alami, saya mendapatkan beberapa hikmah yang berharga. Pertama, saya belajar bahwa segala sesuatu terjadi dengan alasannya sendiri. Meskipun saat itu saya merasa sedih dan kecewa, saya percaya bahwa ada hikmah yang tersembunyi di baliknya.

Kedua, saya belajar untuk yakin dan bangkit dari kesedihan jika mengalami hal yang tidak diinginkan. Terlalu lama berlarut-larut dalam kesedihan hanya akan mempengaruhi kondisi kita sendiri. Oleh karena itu, setelah menenangkan diri, saya memilih untuk melanjutkan perjalanan hidup dengan penuh harapan dan semangat.

Menemukan Dukungan dari Dokter yang Nyaman

Dari pengalaman tersebut, saya juga belajar untuk mencari dokter yang membuat kita nyaman dan dapat memberikan dukungan dalam proses kehamilan. Mencari informasi seputar kehamilan juga sangat penting agar kita dapat memonitor perkembangan dengan baik.

Saya merasa kuat menjalani proses kehamilan berikutnya karena dukungan dari dokter yang memahami dan pengetahuan yang saya peroleh melalui browsing. Saat ini, saya sedang menjalani kehamilan keempat untuk anak ketiga kami, dan saya berharap semuanya berjalan dengan lancar hingga kelahiran.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com