Cerita Hanna dan Granuloma Umbilical


Kejadian ini terjadi pada saya sekitar 2 tahun yang lalu. Awalnya, saya mulai merasa curiga mengapa pusar Hanna, anak kedua saya, tidak kunjung kering walaupun sudah lewat 1 bulan sejak puputnya. Saya melihat ada daging kecil yang muncul di pusarnya, tampaknya tidak ikut puput dan ada cairan berwarna kuning yang keluar, lengket tapi tidak berbau.

Karena kekhawatiran tersebut, saya membawa Hanna ke dokter untuk diperiksa. Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa itu adalah open umbilical dan harus dihilangkan melalui operasi. Saya sempat berpikir, apakah tidak ada cara lain selain operasi? Namun, saya memutuskan untuk mencari pendapat lain sebelum memutuskan untuk operasi.

Saya mulai mencari informasi tentang dokter bedah anak melalui browsing internet. Akhirnya, saya menemukan satu nama dokter yang praktik di RS di daerah Cempaka Putih. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah, jadi saya memutuskan untuk membawa Hanna untuk diperiksa oleh dokter tersebut.

Dokter tersebut terlihat seperti dokter senior dengan sikapnya yang tenang dan penuh kepercayaan diri. Setelah melihat pusar Hanna dan surat rujukan yang saya bawa, dokter tersebut mengatakan bahwa itu adalah Granuloma Umbilical dan memvonis bahwa Hanna harus menjalani operasi. Dia mengatakan bahwa ini adalah operasi kecil yang bisa berubah menjadi operasi besar jika ternyata saluran yang terbuka terhubung dengan saluran tinja. Namun, saya sudah menjelaskan bahwa cairan yang keluar tidak berbau, sehingga logikanya tidak mungkin berasal dari saluran tinja. Dokter tersebut langsung membuat surat pengantar untuk Hanna menjalani tes darah sebagai persiapan operasi.

Saya merasa takut dengan maraknya kasus malapraktik dan ketidaktegaan dalam melakukan tindakan medis. Melihat Hanna yang baru berumur 1,5 bulan harus dioperasi membuat saya semakin khawatir. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mencari pendapat kedua. Saya membagikan cerita ini di milis sehat dan berhasil mendapatkan satu nama dokter bedah anak yang praktik di RS Harapan Kita.

Baca Juga:  Psikologi Warna & Ide Desain Kamar Anak

Tanpa menunggu waktu lama, saya langsung pergi ke RS Harapan Kita dengan hati yang siap menerima apapun keputusan dokter. Dokter yang datang, dr. Ariono Arinto, Sp. BA, juga merupakan dokter yang sangat berpengalaman. Setelah melihat pusar Hanna dengan seksama, dia tetap mengatakan bahwa itu adalah Granuloma Umbilical, namun dia ingin mencoba melakukan perawatan terlebih dahulu dengan menggunakan Albothyl selama 2 minggu. Jika dalam 2 minggu tidak ada perubahan, maka satu-satunya cara adalah dengan melakukan operasi.

Selama 2 minggu tersebut, setiap habis mandi, saya mengoleskan Albothyl pada daging kecil di pusar Hanna. Setelah hari ke-4, saya mulai melihat hasilnya. Daging tersebut mulai menghitam dan mengkerut seperti pusar yang akan kering dan puput, tidak ada lagi cairan yang keluar. Menjelang 2 minggu, daging tersebut bahkan sudah mengeras.

Ketika saya kembali menemui dr. Ariono, beliau mengatakan bahwa sekarang tinggal mengikat daging tersebut dengan benang sampai putus dengan sendirinya. Namun, saat beliau mencoba mengoleskan Albothyl lagi, daging tersebut dengan mudah terputus. Alhamdulillah, saya sangat senang dengan hasilnya. Ketika saya bertanya apa yang harus dilakukan setelah ini, dokter yang ramah tersebut sambil mencolek pipi Hanna yang gembil menjawab, “Tidak ada yang harus dilakukan. Mandi seperti biasa. Sekarang pulang saja. Jangan balik-balik lagi, ya.”

Pesan moral yang dapat kita ambil dari cerita ini, moms, adalah pastikan untuk mendengarkan pendapat dokter lain sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan medis yang rumit. Dalam kasus ini, saya sangat bersyukur bahwa saya mencari pendapat kedua sebelum memutuskan untuk operasi pada Hanna. Ternyata, dengan perawatan yang tepat, daging kecil di pusar Hanna dapat sembuh tanpa harus melalui operasi yang rumit dan berisiko. Keputusan untuk mencari pendapat kedua tersebut sangatlah penting dalam menjaga kesehatan dan keselamatan anak kita.

Baca Juga:  Mengajarkan Cara Menjaga Kesehatan pada Anak

Dalam dunia medis, terdapat banyak pendapat dan pendekatan yang berbeda terhadap suatu kondisi medis. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai orang tua untuk selalu mencari informasi dan pendapat lain sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan medis terhadap anak kita. Konsultasi dengan dokter yang berpengalaman dan terpercaya dapat memberikan kita gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi kesehatan anak dan pilihan perawatan yang tersedia.

Dalam kasus Granuloma Umbilical yang dialami oleh Hanna, saya sangat bersyukur bahwa saya mencari pendapat kedua. Dengan melakukan perawatan menggunakan Albothyl selama 2 minggu, daging kecil tersebut berhasil sembuh tanpa harus melalui operasi. Saya menyadari bahwa setiap kasus medis adalah unik dan tidak semua kondisi membutuhkan tindakan medis yang rumit. Oleh karena itu, mendengarkan pendapat dokter lain dapat memberikan kita pilihan perawatan yang lebih baik dan aman bagi anak kita.

Sekarang, Hanna telah tumbuh menjadi anak yang sehat dan ceria. Kejadian ini menjadi pengalaman berharga bagi saya sebagai orang tua dalam mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan anak. Saya belajar bahwa penting untuk tidak hanya mengandalkan satu pendapat dokter, tetapi mencari pendapat lain untuk memastikan keputusan yang diambil adalah yang terbaik untuk anak kita.

Dalam hidup ini, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita harus selalu siap dan waspada terhadap kondisi kesehatan anak kita. Mendengarkan pendapat dokter lain adalah salah satu cara untuk memastikan bahwa kita mengambil keputusan yang terbaik dan aman bagi kesehatan anak kita. Jangan takut untuk mencari pendapat kedua jika Anda merasa perlu, karena kesehatan dan keselamatan anak adalah prioritas utama kita.

Baca Juga:  Cegah Penyakit Menular, Begini Cara Pakai Masker yang Benar


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com