Ketika Si Kecil Terobsesi dengan Idolanya
Pada suatu hari, saya mendengar teriakan si Kecil yang meminta untuk menonton serial kartun Dora. Sejak saya membelikan DVD serial kartun edukatif ini, si Kecil hampir tidak pernah melewatkan hari tanpa menonton Dora. Awalnya, saya hanya menganggapnya sebagai kegemaran biasa dari seorang anak. Namun, seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa si Kecil terobsesi dengan idolanya ini.
Obsesi si Kecil terhadap Dora bukanlah hal yang aneh atau tidak wajar. Menurut psikolog anak, Stan Spinner, anak-anak cenderung mencari rutinitas atau kegiatan berulang-ulang saat mereka mengalami banyak perubahan dalam hidup mereka. Hal ini bisa terjadi ketika si Kecil sudah pindah ke kasur yang lebih besar atau ketika ia baru masuk sekolah TK. Perubahan-perubahan tersebut membuat si Kecil mencari sesuatu yang tetap dan konstan untuk membuatnya merasa nyaman.
Tidak hanya itu, anak-anak cenderung tertarik dan memusatkan perhatian hanya pada beberapa hal di sekitar mereka. Semakin mereka bertambah usia, semakin bertambah pula ketertarikan pada hal-hal di lingkungan sekitar. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika si Kecil terobsesi pada satu hal dan meniru gerakan, cara berpakaian, dan dialog dari idolanya secara berulang-ulang.
Namun, sebagai orangtua, terkadang saya merasa gerah dengan obsesi si Kecil terhadap Dora. Misalnya, saat si Kecil menyanyikan lagu pembuka Dora sepanjang hari atau saat ia menjawab pertanyaan dengan salah satu dialog dari Dora. Saya khawatir bahwa obsesi ini akan berpengaruh pada tumbuh kembangnya.
Untuk mengatasi obsesi si Kecil, seorang teman memberikan beberapa saran dan langkah-langkah yang dapat diambil. Pertama, sebagai orangtua, saya perlu ikut masuk dalam obsesi si Kecil. Dalam menjalani obsesinya, si Kecil sangat membutuhkan bimbingan dan arahan dari orangtua. Misalnya, jika ia terobsesi dengan kereta Thomas, saya harus menerima tawaran si Kecil untuk bermain bersama dengan kereta tersebut. Dengan ikut masuk ke dalam dunia obsesi si Kecil, saya dapat memahami seberapa jauh ia mendalami antusiasmenya dan memberikan arahan yang tepat.
Selanjutnya, saya perlu mencari keuntungan dari obsesi si Kecil. Misalnya, jika si Kecil terobsesi dengan Dora, saya dapat mengarahkannya pada perilaku-perilaku positif yang dapat ditiru dari tokoh tersebut. Misalnya, saya dapat mengatakan bahwa Dora sangat baik karena selalu siap menolong siapa saja. Saya bisa meminta si Kecil untuk menolong saya beresin mainan di kamarnya sebagai contoh perilaku menolong yang baik.
Selain itu, kesukaan si Kecil pada idolanya juga dapat menjadi keuntungan saat ia bergaul di lingkungan sosialnya. Jika ada anak lain yang juga menyukai tokoh yang sama, si Kecil akan dengan mudah diterima dan mendapatkan teman baru. Hal ini dapat membantu si Kecil dalam mengembangkan keterampilan sosialnya.
Namun, penting juga bagi saya sebagai orangtua untuk membuat batasan terhadap obsesi si Kecil. Tidak apa-apa jika si Kecil dibelikan pernak-pernik yang berbau tokoh idolanya, namun saya perlu memberi batasan jika barang yang ia inginkan terlalu mahal atau jika ia memaksa untuk memakai pernak-pernik tersebut ke sekolah. Saya harus memberikan pengertian bahwa ia tidak bisa memaksakan obsesinya setiap saat.
Dalam menghadapi obsesi si Kecil, dibutuhkan kesabaran dan perhatian yang ekstra. Obsesi ini adalah bagian dari perkembangan normal seorang anak, namun saya perlu memastikan bahwa obsesi ini memiliki nilai positif dan memberikan manfaat bagi perkembangan mental si Kecil kelak.
Dalam hal ini, saya juga perlu menjaga keseimbangan antara memenuhi keinginan si Kecil dan memberikan arahan yang tepat. Saya harus selalu mengingat bahwa obsesi ini adalah bagian dari proses tumbuh kembangnya dan saya harus mendukungnya dengan cara yang baik dan bijaksana.
Dengan adanya obsesi terhadap idolanya, si Kecil dapat mengembangkan imajinasinya, kreativitasnya, dan kemampuan sosialnya. Namun, sebagai orangtua, saya harus memastikan bahwa obsesi ini tidak mengganggu kehidupan sehari-hari si Kecil dan tidak menghalangi perkembangan lainnya.
Dalam menghadapi obsesi si Kecil, saya perlu menjadi pendamping yang baik dan memberikan dukungan serta arahan yang tepat. Saya harus tetap mendukung minat dan kegemarannya, namun juga memberikan batasan dan pengertian yang diperlukan.
Dalam proses mengatasi obsesi si Kecil, saya juga perlu memperhatikan perkembangan mental dan emosionalnya. Jika obsesi ini terus berlanjut dan mengganggu kehidupan sehari-hari si Kecil, saya perlu berkonsultasi dengan ahli psikologi anak untuk mendapatkan bantuan dan arahan yang lebih lanjut.
Dalam tulisan ini, saya telah menjelaskan tentang obsesi si Kecil terhadap idolanya dan langkah-langkah yang dapat diambil untuk menghadapinya. Obsesi ini adalah bagian normal dari perkembangan seorang anak, namun perlu diarahkan dan dibatasi agar tidak mengganggu tumbuh kembangnya. Sebagai orangtua, saya perlu menjadi pendamping yang baik dan memberikan dukungan serta arahan yang tepat. Dengan cara ini, si Kecil dapat mengembangkan minat dan kegemarannya secara sehat dan positif.
Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com