Terlalu Sering Melarang Anak, Ini Efek Psikologis yang Bisa Dialami Si Kecil


Melarang anak melakukan hal yang berbahaya itu boleh, tetapi sering melarang anak untuk hal-hal kecil yang masih bisa ditoleransi bisa membuatnya mengalami efek psikologis berikut ini! Ternyata melarang anak itu boleh dilakukan oleh orang tua. Hal itu diungkap oleh Saskhya Aulia Prima, Psikolog Anak dan Co-Founder TigaGenerasi. Menurutnya kebiasaan melarang sudah mulai sering dilakukan orang tua ketika anaknya berusia 9 bulan atau ketika sudah bisa merangkak. “Karena anak di usia itu sudah berdaya dan bergerak mengambil barang sehingga orang tua juga sudah mulai sering melarang dan mengatakan ‘jangan’,” ujar Saskhya pada lembarkerjauntukanak.com.

Melarang anak memang merupakan tindakan yang sering dilakukan oleh orang tua. Namun, melarang anak untuk hal-hal kecil yang masih bisa ditoleransi sebenarnya dapat memiliki efek psikologis yang negatif bagi anak. Saskhya Aulia Prima, seorang Psikolog Anak dan Co-Founder TigaGenerasi, menjelaskan bahwa kebiasaan melarang ini mulai dilakukan ketika anak berusia sekitar 9 bulan atau ketika mereka sudah bisa merangkak. Pada usia ini, anak sudah mulai aktif dan memiliki kemampuan untuk mengambil barang-barang di sekitarnya, sehingga orang tua pun seringkali melarang dan mengatakan “jangan” kepada mereka.

Menurut Saskhya, beberapa literatur mengungkapkan bahwa anak sudah bisa memahami kata-kata larangan seperti “jangan” atau “no” sejak usia 7 bulan. Namun, penggunaan kata-kata tersebut harus disesuaikan dengan usia anak dan tidak boleh dilakukan secara berlebihan. Pada usia 2-3 tahun dan masa balita, teknik dalam memberikan larangan juga harus disesuaikan agar efektif.

Namun, Saskhya menambahkan bahwa banyak ibu yang mendapat informasi bahwa melarang anak sama sekali dapat merusak perkembangan otak anak. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Ketika melarang anak, orang tua sebaiknya memberikan alasan mengapa hal tersebut dilarang, sehingga anak dapat lebih memahami tujuan dari larangan tersebut.

Baca Juga:  Sikapi Pertengkaran yang Terjadi dengan Kepala Dingin

Namun, perlu diingat bahwa semua tindakan melarang harus dilakukan dengan porsi yang tepat dan disesuaikan dengan usia anak. Jika melarang dilakukan tanpa alasan yang jelas dan terlalu sering, hal tersebut dapat berdampak negatif pada perkembangan anak.

Efek Psikologis dari Terlalu Sering Melarang Anak

Terlalu sering melarang anak dapat memiliki beberapa efek negatif pada mereka. Beberapa efek tersebut antara lain:

1. Kemampuan eksplorasi anak berkurang

Anak belajar dan mengembangkan kemampuan mereka melalui eksplorasi. Dengan menghalangi mereka untuk melakukan hal-hal tersebut, kemampuan anak untuk belajar juga akan terhambat.

2. Kurangnya rasa percaya diri

Eksplorasi juga merupakan langkah awal bagi anak untuk membangun rasa percaya diri terhadap lingkungannya. Ketika anak terus-menerus dilarang untuk bereksplorasi, hal tersebut akan menghambat perkembangan rasa percaya diri mereka. Mereka akan menjadi takut untuk mencoba hal-hal baru dan tidak percaya diri dalam menghadapi tantangan.

3. Ketergantungan pada orang tua

Salah satu masalah yang sering dijumpai akibat terlalu sering melarang anak adalah ketergantungan anak pada orang tua. Anak menjadi terbiasa bergantung pada keputusan orang tua dalam segala hal, sehingga mereka tidak mampu mengambil keputusan sendiri atau memecahkan masalah dengan mandiri.

Agar tidak terlalu sering melarang anak, ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh orang tua. Pertama, orang tua harus menyadari bahwa melarang anak adalah hal yang normal dan manusiawi. Tidak ada satu hari pun yang akan dilalui tanpa melarang anak. Namun, penting untuk memahami alasan di balik larangan tersebut dan memastikan bahwa alasan tersebut benar-benar bermanfaat bagi anak, bukan hanya untuk kepentingan orang tua.

Kedua, di usia dua tahun ke atas, orang tua dapat membuat aturan bersama dengan anak. Meskipun anak belum bisa membaca, aturan tersebut dapat disampaikan dalam bentuk visual yang dapat dipahami oleh anak. Hindari membuat anak berjanji karena pada usia ini mereka belum mampu membuat rencana dan seringkali melanggar janji mereka. Jika ada larangan yang penting, lakukan dengan konsisten dan berikan konsekuensi yang logis.

Baca Juga:  9 Ciri-Ciri Bayi Sehat yang Tampak Dari Kebiasaannya

Terakhir, gantilah kata-kata larangan dengan kalimat lain yang lebih membantu anak dan memberikan solusi. Misalnya, ketika anak dilarang melempar sesuatu, beritahu mereka apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai gantinya. Ketika ingin melarang anak untuk melakukan sesuatu yang serius, lakukan dengan konsisten dan berikan konsekuensi yang logis. Pastikan juga bahwa orang lain di sekitar anak, seperti nenek, pengasuh, atau ayahnya, juga melakukan hal yang serupa. Meskipun anak mungkin menangis, jangan mengalah dan memberikan apa yang mereka inginkan, karena hal tersebut akan membuat anak bingung apakah larangan tersebut serius atau tidak.

Dalam kesimpulan, melarang anak memang merupakan hal yang perlu dilakukan oleh orang tua. Namun, terlalu sering melarang anak untuk hal-hal kecil yang masih bisa ditoleransi dapat memiliki efek psikologis yang negatif. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk melarang dengan porsi yang tepat dan memberikan alasan yang jelas kepada anak. Selain itu, orang tua juga perlu menciptakan lingkungan yang mendukung anak untuk bereksplorasi dan membangun rasa percaya diri mereka. Dengan melakukan hal ini, anak akan dapat tumbuh dan berkembang dengan baik secara psikologis.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com