5 Penyebab Anak Hiperaktif dan Cara Ampuh Mengatasinya

5 Penyebab Anak Hiperaktif dan Cara Ampuh Mengatasinya

Pada usia 1-3 tahun, tentunya si Kecil masih sangat sulit untuk mengontrol sikapnya. Oleh karena itu, peran Bunda sangat dibutuhkan untuk membantu si Kecil mengontrol tingkahnya. Salah satu kondisi yang sering dialami oleh anak-anak pada usia ini adalah hiperaktif. Hiperaktif adalah kondisi di mana anak memiliki tingkat keaktifan yang tinggi dan sulit untuk diam.

Penyebab anak hiperaktif dapat bervariasi, namun salah satu penyebab utamanya adalah Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). ADHD adalah kondisi kronis yang mempengaruhi jutaan anak dan sering berlanjut hingga dewasa. Anak yang mengalami ADHD tidak hanya sulit untuk diam, tetapi juga mengalami kesulitan dalam menyerap informasi dan sulit bersosialisasi dengan anak sebaya.

Selain ADHD, ada beberapa faktor lain yang dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif dan sulit dikendalikan. Pertama adalah stres. Anak cenderung menjadi hiperaktif saat mengalami kejadian yang penuh tekanan, baik itu kondisi permanen maupun hanya sementara. Hal-hal seperti lingkungan, aktivitas baru, atau sakit dapat menjadi penyebab stres pada anak.

Masalah kesehatan tertentu juga dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Misalnya, penyakit hipertiroid dapat menyebabkan berbagai gejala termasuk kecemasan dan hiperaktif. Ada juga masalah genetik lain yang dapat menyebabkan peningkatan aktivitas yang mengarah ke hiperaktif.

Kesehatan mental yang tidak stabil juga dapat menjadi penyebab anak menjadi hiperaktif. Masalah emosional pada anak seringkali terlihat seperti gangguan perilaku. Anak yang memiliki gangguan kecemasan, misalnya, seringkali sulit untuk duduk diam. Sikap hiperaktif anak juga bisa disebabkan oleh rasa trauma yang membuatnya tidak bisa tenang atau kesulitan berkonsentrasi.

Kurangnya waktu tidur juga dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Anak cenderung menjadi hiperaktif jika waktu tidurnya kurang. Kekurangan waktu tidur akan membuat tubuh anak merespon dengan membuat lebih banyak kortisol dan adrenalin agar tetap terjaga. Akibatnya, anak akan memiliki lebih banyak energi.

Baca Juga:  Ciri Hamil 1 Bulan: Ini Gejala yang Jarang Disadari Bumil

Kurangnya olahraga juga dapat menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Anak yang tidak berolahraga dengan cukup akan kesulitan untuk diam. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mendorong anak agar mau berolahraga ringan seperti mengendarai sepeda atau sekadar berlari.

Untuk mengatasi anak yang hiperaktif, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua. Pertama, orang tua perlu mengajak anak berolahraga secara teratur. Olahraga merupakan cara yang aman untuk membuang energi berlebih anak. Orang tua dapat mengajak anak berolahraga setiap hari, baik pagi maupun sore hari. Bersepeda, lompat tali, atau bermain bola adalah beberapa olahraga yang bisa dilakukan bersama anak.

Selain itu, orang tua juga dapat memperdengarkan musik yang tenang kepada anak. Mendengarkan musik klasik dapat membuat anak lebih tenang. Orang tua dapat memutarkan alunan piano atau biola klasik untuk membantu anak agar lebih tenang terutama ketika sedang terlalu aktif.

Mengajak anak mengunjungi alam juga bisa menjadi cara yang efektif untuk mengatasi hiperaktif. Piknik di alam dapat memberikan suasana yang sepi dan segar bagi anak. Melalui piknik di alam, anak dapat menghargai suasana sepi sehingga dapat membuatnya sedikit lebih tenang.

Selain itu, orang tua juga perlu mengatur pola makan anak. Beberapa makanan dan minuman dapat memicu anak menjadi lebih aktif, seperti makanan yang mengandung MSG atau pemanis buatan. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya tidak memberikan makanan-makanan tersebut kepada anak. Sebaliknya, orang tua sebaiknya memberikan makanan yang sehat dan bergizi kepada anak agar anak dapat berpikir lebih jernih dan fokus.

Memberikan perhatian dan waktu luang lebih juga penting untuk anak yang hiperaktif. Anak yang hiperaktif membutuhkan perhatian lebih karena mereka memiliki risiko lebih besar untuk terluka akibat keaktifannya. Selain itu, anak yang hiperaktif juga kesulitan dalam berkonsentrasi sehingga kesulitan menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai. Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan waktu luang lebih agar anak dapat lebih fokus dan tenang.

Baca Juga:  Bila Air Ketuban Ibu Berlebih

Trik tertentu juga dapat digunakan untuk mengatasi anak yang sedang marah. Anak yang hiperaktif cenderung lebih meledak-ledak ketika sedang marah. Untuk mengatasi hal ini, orang tua perlu memiliki trik khusus. Menenangkan anak, bujuk dengan mainan atau sesuatu yang disukai anak, dan mengalihkan perhatiannya adalah beberapa trik yang bisa dilakukan.

Terakhir, orang tua perlu membatasi penggunaan gadget oleh anak. Radiasi dari gadget tidak baik bagi kesehatan anak dan dapat membuat anak semakin hiperaktif. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya mengajak anak bermain di luar rumah dan menghabiskan waktu bermain di alam daripada hanya bermain gadget.

Dalam mengatasi anak yang hiperaktif, konsistensi dan kesabaran sangat diperlukan. Orang tua perlu memahami bahwa mengatasi hiperaktif tidak bisa dilakukan dengan cara instan. Diperlukan waktu dan usaha yang kontinu untuk membantu anak mengontrol tingkah laku hiperaktifnya.

Membantu anak mengatasi sikap hiperaktifnya sejak dini akan berdampak jangka panjang pada perkembangannya. Jika anak terbiasa mengontrol dirinya sejak dini, maka hal itu akan membantu perkembangannya di masa dewasa. Anak akan tumbuh menjadi anak yang pintar dan mandiri. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengetahui berbagai cara yang efektif dalam mengatasi hiperaktif pada anak.

Dalam mengatasi hiperaktif pada anak, peran orang tua sangat penting. Orang tua harus selalu memberikan perhatian dan dukungan kepada anak. Orang tua juga harus selalu memenuhi kebutuhan nutrisi anak agar perkembangannya menjadi lebih optimal. Dengan dukungan dan perhatian yang tepat, anak yang hiperaktif dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com