Cara Lain Mengatakan “Tidak” pada si Kecil

Cara Lain Mengatakan “Tidak” pada si Kecil

I. Pendahuluan

Ketika kita sebagai orangtua, seringkali mengatakan kata “tidak” pada anak kita. Kata-kata ini diucapkan dengan tujuan untuk melindungi mereka dari bahaya dan mengajarkan mereka batasan-batasan yang ada. Namun, tahukah kita bahwa mengatakan “tidak” terlalu sering pada anak dapat memiliki dampak negatif pada mereka? Dalam artikel ini, kita akan membahas cara lain untuk mengatakan “tidak” pada si Kecil dengan menggunakan bahasa yang lebih positif dan efektif. Dengan menggunakan pendekatan ini, kita dapat menghindari pemberontakan dan meningkatkan komunikasi yang lebih baik dengan anak.

II. Mengapa Terlalu Sering Mengatakan “Tidak” Berdampak Buruk pada Anak

Menurut beberapa ahli pola asuh anak, mengatakan “tidak” terlalu sering dapat memupuk mental pemberontakan pada anak. Anak cenderung menjadi lebih penasaran dan ingin mencoba hal yang dilarang. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa semakin dilarang, anak akan semakin berhasrat untuk melakukannya. Hal ini dikarenakan anak mencari perhatian dan ingin tahu apa yang terjadi jika mereka melanggar larangan tersebut.

III. Berikan Perintah dengan Bahasa yang Lebih Positif

Salah satu cara untuk menghindari penggunaan kata “tidak” adalah dengan memberikan perintah dengan bahasa yang lebih positif. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan pegang lampu itu!”, kita dapat menggantinya dengan “Lampu itu bisa jatuh dan pecah, Nak. Dilihat saja ya?”. Dengan memberikan penjelasan mengenai alasan di balik perintah tersebut, anak akan lebih memahami dan menerima larangan dengan lebih baik.

Selain itu, kita juga dapat menggantikan kata “jangan” dengan kata-kata yang lebih positif. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan ditarik bulu kucingnya”, kita dapat menggantinya dengan “Kalau bulunya ditarik kasihan kucingnya kesakitan” atau “Coba elus bulunya dengan lembut”. Dalam hal ini, kita juga bisa memberikan contoh mengelus kucing secara lembut agar anak dapat melihat dan belajar dari contoh tersebut.

Baca Juga:  Ciri Hamil 1 Bulan: Ini Gejala yang Jarang Disadari Bumil

IV. Beritahu Hal Alternatif Lain yang Bisa Dilakukan

Selain mengatakan “tidak”, kita juga dapat mengalihkan perhatian anak dengan memberikan alternatif lain yang dapat mereka lakukan. Misalnya, ketika anak ingin bermain di luar saat sedang hujan, daripada mengatakan “Kita tidak bisa bermain di luar karena hujan”, kita dapat mengatakan “Bunda tahu kamu ingin sekali bermain di luar, tapi sekarang sedang hujan deras. Bagaimana kalau kita baca buku cerita sambil menunggu hujan reda?”. Dengan memberikan alternatif yang menarik, anak akan lebih mudah menerima larangan tersebut.

V. Gunakan Dua Kata Ajaib Ini

Tolong dan terima kasih adalah dua kata ajaib yang dapat kita gunakan untuk melarang anak tanpa menggunakan kata “tidak” atau “jangan”. Misalnya, daripada mengatakan “Jangan membiarkan mainanmu berantakan”, kita dapat mengatakan “Terima kasih untuk merapikan mainanmu, Nak”. Dengan menggunakan kata-kata yang lebih positif, anak akan lebih mudah menerima larangan tersebut.

Selain itu, ketika anak berperilaku tidak sesuai dengan yang diinginkan, kita dapat menggunakan kata “tolong” untuk meminta mereka mengubah perilaku tersebut. Misalnya, daripada mengatakan “Tidak boleh berteriak, Nak”, kita dapat mengatakan “Tolong suaranya dipelankan, ya”. Dengan menggunakan kata “tolong”, anak akan merasa lebih dihargai dan lebih bersedia untuk mengubah perilaku mereka.

VI. Jelaskan Alasan di Balik Perintah

Memberikan penjelasan mengenai alasan di balik perintah kita juga dapat membantu anak memahami larangan tersebut dengan lebih baik. Daripada hanya mengatakan “Tidak, jangan lakukan itu”, kita dapat mengatakan “Bunda mau kamu tidak melakukan itu karena …” dan memberikan penjelasan yang jelas dan terarah. Misalnya, ketika anak meminta sesuatu dengan berteriak, kita dapat mengatakan “Bunda mau kamu berhenti berteriak karena telinga Bunda jadi sakit”. Dengan memberikan penjelasan yang masuk akal, anak akan lebih mudah memahami dan menerima larangan tersebut.

Baca Juga:  Halau Bosan, Lakukan 7 Kegiatan Ngabuburit Ini Bersama Anak

VII. Kesimpulan

Mengatakan “tidak” terlalu sering pada anak dapat memiliki dampak negatif, seperti memupuk mental pemberontakan dan meningkatkan rasa penasaran anak. Namun, dengan menggunakan bahasa yang lebih positif dan efektif, kita dapat menghindari hal tersebut. Dalam artikel ini, kita telah membahas beberapa cara lain untuk mengatakan “tidak” pada si Kecil, seperti memberikan perintah dengan bahasa yang lebih positif, memberikan alternatif lain yang dapat dilakukan, menggunakan kata “tolong” dan “terima kasih”, serta memberikan penjelasan yang jelas dan terarah. Dengan menggunakan pendekatan ini, kita dapat meningkatkan komunikasi yang lebih baik dengan anak dan menghindari pemberontakan yang tidak perlu.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com