Begini Batasan Privasi dan Rahasia Anak Remaja Menurut Psikolog


Membahas tentang privasi dan rahasia remaja memang menjadi hal yang penting dalam mendidik anak-anak kita. Saat anak berusia balita, kita sebagai orangtua seringkali dapat dengan mudah mengorek kesehariannya. Namun, ketika mereka sudah remaja, mereka mulai memiliki kebutuhan akan privasi mereka sendiri.

Hal ini seringkali membuat orangtua panik dan bertanya-tanya apa yang anak mereka sembunyikan. Namun, sebenarnya anak juga berhak memiliki rahasia dan privasi mereka sendiri. Tentu saja, hal ini harus dilakukan dengan adanya kesepakatan tertentu antara orangtua dan anak.

Menurut psikolog anak dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo, sebelum usia 20 tahun, keputusan anak masih sangat dipengaruhi oleh emosi. Oleh karena itu, wajar jika remaja seringkali merasa galau dan baper. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sedang mengalami perubahan yang signifikan dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, sebagai orangtua, kita harus berusaha menjaga pola komunikasi dengan mereka agar tidak terlihat terlalu ingin tahu tentang kehidupan mereka. Kita harus berusaha untuk tidak terlihat seperti sedang menginterogasi mereka atau terlalu ingin tahu tentang segala hal yang mereka lakukan. Hal ini dapat membuat mereka merasa tidak nyaman dan sulit untuk berbagi dengan kita.

“Ketika mereka mengembangkan konsep diri mereka juga belajar bahwa ada hal-hal yang lebih nyaman untuk di-keep sendiri. Nah itu nggak apa-apa, nggak masalah sepanjang itu nggak menyangkut hidup dan mati, nggak menyangkut masa depannya dia. Itu yang perlu kita sampaikan pada anak,” ujar mbak Vera.

Dalam menghadapi kebutuhan privasi anak saat remaja, ada beberapa cara yang bisa ditiru oleh orangtua. Pertama, kita bisa membuat batasan yang jelas tentang pemakaian media sosial. Kita bisa sepakat tentang hal-hal seperti apakah kita boleh melihat chat anak bersama teman-temannya atau apakah kita boleh memiliki akses ke akun Instagram pribadinya. Setelah kita sepakat, kita harus selalu menghargai kesepakatan ini dan tidak melanggarnya. Melanggar kesepakatan ini hanya akan merusak kepercayaan yang telah dibangun dengan anak.

Baca Juga:  Manfaat Ciuman Bibir dalam Pernikahan

Selanjutnya, kita juga harus menerima kenyataan bahwa anak kita akan beranjak dewasa. Saat anak berusia sekitar 14 tahun, mereka akan mulai menutup pintu kamarnya, memiliki rahasia, dan mulai percaya pada saran dari teman-temannya. Hal yang perlu kita ingat adalah bahwa anak kita bukanlah bagian dari kita. Mereka adalah individu yang memiliki hak untuk memiliki privasi dan rahasia mereka sendiri. Privasi dan rahasia ini penting untuk mengembangkan konsep diri mereka. Oleh karena itu, kita harus bisa berkomunikasi dengan mereka tanpa menghakimi terutama untuk hal-hal yang mungkin dianggap “kontroversial” seperti rokok atau tekanan dari teman sebaya.

Selanjutnya, kita juga harus menghindari mengawasi anak secara diam-diam. Jika kita sudah memberikan kepercayaan pada anak dan ia melanggarnya, kita harus memastikan bahwa ia menyadari konsekuensi dari tindakannya. Privasi sebaiknya menjadi hak istimewa bagi kedua belah pihak. Jika kita melanggar privasi anak, kita akan kehilangan kepercayaan mereka. Begitu pula jika anak melanggar privasinya, ia akan kehilangan privasinya. Hal ini harus dipahami oleh anak agar ia bisa memahami pentingnya privasi dan kepercayaan dalam hubungan orangtua dan anak.

Selanjutnya, kita juga harus menghargai jurnal dan diary anak. Meskipun kita mungkin merasa ingin membaca isi diary anak kita, kita harus menahan diri untuk melakukannya. Membaca isi diary anak akan membuat kita bingung sebagai orangtua. Terutama jika anak menulis masalah-masalah pribadinya, kita mungkin merasa ingin memberikan solusi. Namun, lebih baik tidak membaca diary anak daripada melukai kepercayaan yang sudah kita bangun bersama.

Terakhir, kita juga harus memastikan bahwa rahasia anak tidak mengancam masa depan dan nyawanya. Ada beberapa hal yang memang perlu kita bicarakan dengan anak kita, seperti pacaran, narkoba, atau gangguan makan. Jika kita melihat sesuatu yang tidak normal, kita harus berdiskusi dengan anak untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hal ini penting untuk menjaga keselamatan dan kesejahteraan anak kita.

Baca Juga:  8 Rekomendasi Slow Cooker Untuk MPASI dengan Harga Terjangkau

Dalam menghadapi kebutuhan privasi dan rahasia remaja, kita sebagai orangtua harus berusaha untuk memahami dan menghargai mereka. Kita harus memberikan kepercayaan kepada mereka dan memastikan bahwa mereka tahu bahwa kita selalu ada untuk mendukung mereka. Dengan adanya privasi dan rahasia, anak-anak kita dapat mengembangkan konsep diri mereka dan merasa lebih nyaman untuk berbagi dengan kita. Oleh karena itu, mari kita jaga komunikasi dengan anak-anak kita, tanpa menghakimi dan terlalu ingin tahu tentang kehidupan mereka.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com