Waspadai Virus Saat Pancaroba


ISPA

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan kondisi dimana saluran pernafasan anak terkena serangan virus. ISPA dapat terjadi sebanyak 6 sampai 8 kali dalam setahun pada anak-anak. Gejalanya umumnya berupa batuk ringan atau pilek selama 9-14 hari.

Batuk ringan sebenarnya tidak memerlukan pengobatan dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu 1-3 minggu. Batuk merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan lendir atau dahak yang mengganggu saluran pernafasan. WHO (World Health Organization) bahkan menyarankan agar batuk ringan tidak diberikan obat, karena penggunaan obat batuk bebas dapat menghilangkan refleks batuk dan mengganggu proses pengeluaran lendir dari saluran pernafasan.

Namun, jika anak mengalami batuk, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi produksi lendir. Pertama, berikan minuman hangat dalam jumlah yang cukup. Minuman hangat dapat membantu melonggarkan lendir di saluran pernafasan. Selain itu, berikan bantal agar kepala anak agak terangkat saat tidur, sehingga ia dapat bernafas dengan lebih nyaman. Selain itu, pastikan juga ruangan tetap lembap dengan menggunakan humidifier atau meletakkan wadah air di dekat tempat tidur anak. Hindari juga paparan asap rokok dan polusi udara, karena dapat memperburuk gejala ISPA.

Kapan sebaiknya kita membawa anak ke dokter? Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan, antara lain:

1. Jika batuk tidak kunjung sembuh setelah lebih dari seminggu.
2. Jika anak mengalami demam yang terus menerus selama 72 jam.
3. Jika anak mengalami sesak nafas, serta bibir dan kuku terlihat kebiruan.
4. Jika anak terlihat mengantuk terus menerus dan sulit dibangunkan.

COMMON COLD

Common cold atau selesma merupakan kondisi yang berbeda dengan influenza, meskipun keduanya disebabkan oleh infeksi virus dengan gejala yang mirip seperti demam, sakit kepala, bersin, pilek, batuk, sakit tenggorokan saat menelan, dan rasa tidak nyaman pada badan. Namun, jenis virus yang menyebabkan keduanya berbeda. Selesma biasanya lebih sering menyerang anak-anak selama musim pancaroba. Perbedaan antara selesma dan influenza adalah gejala influenza lebih berat daripada selesma. Salah satu tanda tubuh terserang influenza adalah demam tinggi antara 39-40 derajat Celcius, sedangkan pada selesma, demam yang tinggi jarang terjadi.

Baca Juga:  7 Daftar Pastor dan Pendeta Ganteng di Seluruh Dunia, Ada yang Dari Indonesia!

Selesma biasanya menyerang anak-anak hingga 8 kali dalam setahun, namun semakin bertambah usia, pertahanan tubuh anak semakin meningkat sehingga virus selesma hanya akan mampir sebanyak dua sampai tiga kali pada orang dewasa. Gejala selesma seperti nyeri atau gatal pada tenggorokan akan muncul antara satu hingga tiga hari setelah tertular virus, setelah itu hidung akan mulai terasa tersumbat, dan akhirnya akan mengeluarkan lendir. Biasanya, virus ini akan menetap selama seminggu, tetapi pada 10% anak bisa mengalami selesma selama dua minggu.

Jika anak terkena selesma, tidak perlu terburu-buru memberikan obat penurun panas jika suhu tubuh anak tidak melebihi 38,3 derajat Celcius. Berikan anak banyak cairan seperti air putih dan sup hangat untuk meredakan rasa tidak nyaman pada tenggorokan. Selain itu, pastikan anak tetap mendapatkan asupan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Jika suhu tubuh anak mulai naik, lakukan kompres air hangat atau rendam anak dalam air hangat jika ada bak mandi. Jika anak masih mengonsumsi ASI, berikanlah sesering mungkin.

Diare & Muntah

Penyakit lain yang sering ditemukan saat musim transisi adalah diare dan muntah. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan dehidrasi yang berbahaya bagi anak-anak. Diare pada anak biasanya disebabkan oleh infeksi virus dalam saluran pencernaan. Selain virus, infeksi bakteri atau parasit juga dapat menyebabkan diare.

Meskipun diare adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan mikroorganisme penyebab sakit atau racun, tetapi penting untuk tetap tenang dan mencegah dehidrasi ketika anak mengalami diare. Rotavirus dan adenovirus adalah jenis virus yang paling sering menjadi penyebab utama diare pada anak-anak. Selain itu, keracunan makanan, konsumsi obat yang tidak seharusnya seperti antibiotik, dan gangguan proses pencernaan seperti intoleransi laktosa juga dapat menyebabkan diare pada anak.

Baca Juga:  Biaya Masuk SD di Jakarta Utara Tahun Ajaran Baru,¬†Uang Masuk Mulai dari Rp7 Juta

Muntah juga seringkali menyertai diare. Muntah adalah proses pengeluaran isi saluran pencernaan melalui mulut dengan dorongan atau tenaga. Muntah adalah gejala, sehingga yang perlu dilakukan adalah mencari penyebab muntah dan menjaga asupan cairan agar anak tidak mengalami dehidrasi. Muntah dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi virus, makan terlalu banyak, stres, kegembiraan berlebih, atau mabuk perjalanan.

Ketika anak mengalami diare dan muntah, penting untuk mencari penyebabnya dan memantau apakah anak mengalami dehidrasi atau tidak. Beberapa tanda dehidrasi yang perlu diperhatikan adalah:
1. Dehidrasi ringan ditandai dengan anak yang terlihat agak lesu, haus terus, dan agak rewel.
2. Dehidrasi sedang ditandai dengan dua atau lebih gejala seperti gelisah, haus yang berlebihan, mata yang cekung, dan kulit yang keriput.
3. Dehidrasi berat ditandai dengan penurunan kesadaran anak, kelelahan, dan terlihat sangat mengantuk. Anak mungkin tidak mampu minum, mata cekung, bibir kering, tidak ada air mata saat menangis, kulit yang kembali ke bentuk semula setelah ditekan dalam waktu dua detik, dan frekuensi buang air kecil kurang dari 6 kali sehari.

Untuk mencegah dehidrasi dan menjaga asupan gizi anak, ASI dapat terus diberikan dengan diselingi pemberian Cairan Rehidrasi Oral (CRO) seperti oralit atau pedialyte. Jika anak mengonsumsi susu formula, berikan seperti biasa tanpa perlu mengganti atau mengencerkan. Jika anak mengalami dehidrasi berat, berhentilah memberikan makanan padat sampai kondisi dehidrasinya membaik, dan berikan cairan pengganti yang cukup.

Namun, jika ditemukan tanda-tanda seperti darah atau feses berwarna hitam, diare yang berlangsung lebih dari dua minggu, muntah lebih dari 8 kali dalam 24 jam, muntah berwarna hijau, anak mengeluh nyeri perut, demam tinggi, anak terlihat lemas atau kehilangan kesadaran, tidak mau minum tapi tetap muntah dan diare, atau anak terus tidur dan sulit dibangunkan, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pertolongan pertama yang tepat.

Baca Juga:  8 Rekomendasi Pet Hotel Untuk Anabul Kesayangan Saat Anda Harus Bepergian

Intinya, ketika anak mulai menunjukkan perubahan perilaku karena merasa tidak enak badan, penting bagi orang tua untuk waspada. Meskipun penyakit yang disebabkan oleh virus umumnya akan sembuh dengan sendirinya, tetapi menjaga pertahanan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi tetap penting. Jika dirasa perlu, konsumsi suplemen seperti madu juga dapat membantu. Selalu perhatikan gejala yang tampak pada anak dan jangan ragu untuk mencari bantuan medis jika diperlukan.

Stay healthy, mommies!


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com