Sifat Suka Mengambil Barang Milik Orang Lain Alias Kleptomania pada Anak, Orangtua Harus Gimana?


Tiba-tiba mendapati anak punya kebiasaan kleptomania atau mengambil barang milik orang lain memang bisa menjadi sebuah kejutan bagi orangtua. Sifat kleptomania sendiri sudah bisa terlihat sejak anak usia dini. Saya masih ingat jaman sekolah dulu, pernah ada salah satu teman seangkatan yang jadi bahan omongan karena sering mengambil barang-barang milik orang lain, bahkan sahabatnya. Meski ini hanya pengalaman masa lalu dan saya sendiri tidak pernah menjadi korban yang di-klepto-in, tapi saya jadi berpikir, efek samping apa yang timbul dari memiliki sifat kleptomania. Ternyata, sifat tersebut tidak hanya tidak baik untuk diri sendiri, tapi juga akan selalu diingat oleh orang lain.

Belakangan ini juga ada salah satu kasus viral tentang seorang ibu yang bisa dikatakan berkecukupan tapi mengambil beberapa barang di sebuah minimarket tanpa membayarnya. Tindakan ini dianggap sebagai kelainan dan dibenarkan oleh Kapolres Tangerang Selatan AKBP Sarly Sollu dalam jumpa pers yang diadakan untuk menyelesaikan kasus tersebut, Senin (15/8) lalu. Dikatakan bahwa pelaku memiliki kebiasaan tanpa sadar mengutil barang belanjaan.

Apa sebenarnya kleptomania itu? Menurut Mayo Clinics, kleptomania adalah ketidakmampuan berulang untuk menahan dorongan untuk mencuri barang-barang yang biasanya tidak terlalu Anda butuhkan dan biasanya bernilai kecil. Kleptomania adalah gangguan kesehatan mental yang langka tapi serius yang dapat menyebabkan banyak rasa sakit emosional pada Anda dan orang yang Anda cintai jika tidak diobati.

Lalu, bagaimana jadinya kalau Anda sendiri mendapati anak menunjukkan sifat klepto? Kalau kata sebuah artikel di parentscircle.com, mendapati anak yang memiliki sifat kleptomania pasti mengagetkan, dan siapa, sih, orangtua yang mau mengalami hal ini. Namun, dengan kesadaran dan bimbingan ahli, orangtua dapat membantu anak mengatasi gangguan ini.

Baca Juga:  Cara Menghadapi Komentar Saat Hamil

Bagaimana kita bisa mengetahui apakah anak kita menderita kleptomania? Ada beberapa gejala yang dapat menjadi tanda bahwa anak kita memiliki sifat kleptomania. Pertama, anak menjadi gugup dan bersemangat sebelum dan saat mencuri. Kedua, dia merasa gembira setelah mencuri objek yang dia inginkan. Ketiga, seorang kleptomania tidak membutuhkan teman untuk membantunya mencuri. Ia akan mencuri sendiri tanpa mendorong temannya untuk membantunya. Dan terakhir, barang yang dicuri tidak ia gunakan, cenderung hanya akan ditimbun.

Menurut penelitian, individu yang menderita kleptomania sebenarnya waras, hanya tidak sadar bahwa mereka menderita gangguan medis. Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk mengetahui tanda-tanda kleptomania pada anak dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk membantu mereka mengatasi masalah ini.

Bagaimana cara menghadapi anak yang menderita kleptomania? Pertama-tama, daripada menghukum, ajak anak melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan. Kita harus memahami bahwa kleptomania adalah penyakit mental, bukan perbuatan haram. Karenanya, menghukum anak tidak akan ada gunanya, malah dapat membuat anak lebih agresif dan menantang. Sebagai gantinya, tanyakan pada anak, bagaimana perasaannya ketika orang lain mengambil barang miliknya.

Kedua, ajak anak untuk langsung bertindak ketika ia melakukan tindakan yang salah. Misalnya, ketika barang temannya rusak atau hilang karena ulahnya, ajak anak untuk menggantinya. Bila anak sudah paham tentang penggunaan uang saku, maka belilah barang yang sama dengan menggunakan uang saku miliknya. Tindakan ini merupakan cara untuk mencegah hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan.

Ketiga, diskusi mungkin diperlukan. Tentunya, diskusi dengan psikolog tidak mungkin bisa terjalin dengan lancar bila orangtua sama sekali tidak pernah memulainya dengan diskusi di rumah. Namun, sesuaikan dengan usia anak. Bila anak sudah bisa diajak bicara lebih serius, maka Anda bisa menanyakan alasan apa yang membuat anak mencuri. Diskusi ini sama pentingnya dengan penjelasan yang kita berikan saat anak memperbaiki kesalahannya. Interaksi yang kita bina dengan anak sehari-hari membantu pembentukan karakternya.

Baca Juga:  Millennia World School: Memanusiakan Anak, dengan Pendekatan Validasi Emosi

Keempat, terus tanamkan kebiasaan baik pada anak. Tentu saja, ini tidak bisa dilakukan dalam satu hari saja. Ini adalah proses berkelanjutan. Buku bacaan, tontonan, dan permainan yang anak amati sehari-hari memiliki pengaruh yang sama besarnya dengan perilaku orangtua di rumah. Oleh karena itu, pemilihan tontonan dan buku yang tepat sangat diperlukan. Selain itu, peran kita sebagai orangtua dalam mengajarkan kebiasaan baik juga harus dilakukan secara konsisten. Misalnya, ketika mengajak anak belanja di supermarket, ajarkanlah pada anak bahwa ketika semua barang sudah terkumpul, kita perlu membayarnya terlebih dahulu sebelum membawanya pulang. Contoh lainnya adalah menanamkan kebiasaan meminta izin atau bertanya ketika anak ingin membeli atau mengambil sesuatu. Jika anak mendapatkan izin, maka ia boleh melakukannya, tetapi jika tidak mendapatkan izin, maka ia harus mengurungkannya.

Kelima, hargai usaha anak ketika berperilaku baik. Setiap orangtua memiliki cara sendiri dalam memberikan pujian. Jika pujian tersebut membuat anak lebih bersemangat dalam memperbaiki perilaku menyimpangnya, maka Anda patut menghargai usaha anak dengan memberikan pujian setelahnya.

Namun, bagaimana jika kebiasaan kleptomania pada anak tidak kunjung mereda? Dalam kurun waktu tertentu, jika cara-cara sederhana di atas tidak lagi memiliki arti yang signifikan dan anak tetap menunjukkan perilaku menyimpang tersebut dengan intensitas yang semakin sering, maka konsultasi dengan psikolog anak mungkin diperlukan. Psikolog anak akan dapat memberikan bimbingan dan terapi yang sesuai untuk membantu anak mengatasi kleptomania.

Dalam menghadapi anak yang memiliki kleptomania, penting bagi orangtua untuk tetap tenang dan sabar. Jangan menyalahkan atau menghakimi anak, karena kleptomania bukanlah pilihan yang mereka buat secara sadar. Dukungan dan pemahaman dari orangtua akan membantu anak untuk mengatasi masalah ini dan memperbaiki perilaku mereka.

Baca Juga:  Mengenalkan Aneka Suara Hewan


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com