Hal-Hal Penting yang Harus Diketahui Dari Donor ASI

Hal-Hal Penting yang Harus Diketahui Dari Donor ASI

Penting Diperhatikan Saat Mencari Donor ASI

Ketahui riwayat kesehatan pendonor. Sebisa mungkin lakukan tes darah untuk mendeteksi adanya risiko penyakit yang bisa menular melalui ASI seperti HIV 1&2, Hepatitis B&C, Sifilis, dan HTLV 1&2.
Risiko penularan penyakit melalui ASI merupakan hal yang harus diperhatikan dengan serius. Oleh karena itu, ketika mencari donor ASI, penting untuk mengetahui riwayat kesehatan pendonor. Tes darah merupakan salah satu cara untuk mendeteksi adanya risiko penyakit yang dapat ditularkan melalui ASI, seperti HIV 1&2, Hepatitis B&C, Sifilis, dan HTLV 1&2. Melalui tes darah ini, kita dapat memastikan bahwa pendonor tidak memiliki risiko penularan penyakit tertentu melalui ASI.

Buatlah perjanjian yang rinci dengan pendonor (sertai dengan surat keterangan dari dokter terkait) bahwa pendonor tidak memiliki risiko penularan penyakit tertentu melalui ASI.
Selain mengetahui riwayat kesehatan pendonor, penting juga untuk membuat perjanjian yang rinci dengan pendonor. Perjanjian ini dapat berisi persetujuan bahwa pendonor tidak memiliki risiko penularan penyakit tertentu melalui ASI. Surat keterangan dari dokter juga dapat menjadi bukti bahwa pendonor telah dinyatakan bebas dari risiko penularan penyakit melalui ASI. Dengan adanya perjanjian yang rinci ini, kita dapat memastikan bahwa pendonor aman dan terpercaya.

Bunda mensterilisasi ASIP agar terhindar dari risiko kandungan bakteri dengan teknik flash-heat atau memanaskan dengan cepat.
Salah satu hal yang harus diperhatikan saat menggunakan ASI perah adalah sterilisasi ASIP. Sterilisasi ASIP dilakukan untuk menghindari risiko kandungan bakteri yang dapat berbahaya bagi bayi. Salah satu teknik sterilisasi yang dapat dilakukan adalah teknik flash-heat atau memanaskan dengan cepat. Caranya adalah dengan menggunakan botol kaca tahan panas yang sudah disterilkan terlebih dahulu. Saat akan memanaskan ASIP, usahakan hanya sebanyak 50 ml – 150 ml yang berada di dalam botol. Letakkan botol ke dalam panci berisi air biasa yang banyaknya kira-kira setinggi takaran ASIP. Panaskan panci tersebut menggunakan kompor dengan ukuran temperatur terpanas. Tunggu hingga air terlihat mendidih. Pastikan botol ASIP segera diangkat ketika air mendidih. Dinginkan botol ASIP ke dalam mangkuk berisi air dingin agar suhunya cepat turun. Susu yang sudah dipanaskan harus segera dikonsumsi dalam waktu 6 jam saja. Dengan melakukan sterilisasi ASIP ini, kita dapat memastikan bahwa ASIP yang diberikan kepada bayi aman dan terhindar dari kandungan bakteri yang berbahaya.

Baca Juga:  7 Manfaat Wortel untuk Bayi dan Resep MPASI yang Mudah

Lalu bagaimana jika sang pendonor jatuh sakit? Pada kondisi tertentu seperti penyakit flu, biasanya pendonoran ASIP tidak akan begitu berbahaya selama sang pendonor selalu memastikan bahwa tangan serta alat pemompa ASI dalam keadaan bersih. Sedangkan, jika ia terkena cacar air, sebaiknya Bunda memintanya untuk menahan diri sejenak dari mendonorkan ASI hingga lenting pada tubuh bersih dari cairan yang bisa menular.
Selain memperhatikan kesehatan pendonor, penting juga untuk memperhatikan kondisi pendonor. Jika pendonor mengalami penyakit flu, maka pendonoran ASIP tidak akan begitu berbahaya selama pendonor selalu memastikan bahwa tangan serta alat pemompa ASI dalam keadaan bersih. Namun, jika pendonor terkena cacar air, sebaiknya kita meminta pendonor untuk menahan diri sejenak dari mendonorkan ASI hingga cacar air pada tubuhnya telah sembuh dan bersih dari cairan yang bisa menular. Dengan memperhatikan kondisi pendonor ini, kita dapat memastikan bahwa ASIP yang diberikan kepada bayi aman dan terhindar dari risiko penularan penyakit.

Selain dari segi medis, ada hal lain yang wajib dipertimbangkan. Salah satunya, latar belakang dan identitas si pendonor atau penerima donor. Bunda bisa memulai dengan meminta data dirinya secara lengkap dan berikan juga data Bunda kepada sang pendonor sebagai acuan jika dibutuhkan suatu saat nanti. Dulu, saya berusaha untuk menemui sang pendonor secara langsung agar dapat mengenal lebih jauh tentang kepribadiannya, kesehatan, gaya hidup, obat-obatan yang dikonsumsi, dan sebagainya. Bahkan, jika memungkinkan, saya juga berusaha mengenal keluarga pendonor, Bu.
Pada saat mencari donor ASI, penting juga untuk mempertimbangkan latar belakang dan identitas pendonor atau penerima donor. Salah satu cara untuk memperoleh informasi mengenai latar belakang dan identitas pendonor adalah dengan meminta data dirinya secara lengkap. Sebagai acuan jika dibutuhkan suatu saat nanti, kita juga dapat memberikan data diri kita kepada pendonor. Selain itu, jika memungkinkan, kita juga dapat mencoba untuk menemui pendonor secara langsung agar dapat mengenal lebih jauh tentang kepribadiannya, kesehatan, gaya hidup, obat-obatan yang dikonsumsi, dan sebagainya. Bahkan, jika memungkinkan, kita juga dapat mencoba untuk mengenal keluarga pendonor. Dengan mempertimbangkan hal-hal ini, kita dapat memastikan bahwa pendonor atau penerima donor adalah orang yang dapat dipercaya.

Baca Juga:  Anakku Tidak Hanya Mengalami Craniosynostosis, Kondisi Ubun-ubun Kepala Tertutup Sejak Lahir

Donor ASI dari Segi Agama Islam

Masing-masing agama tentu memiliki pandangan sendiri akan donor ASI. Saya coba mengambil contoh dari agama Islam. Ada sebagian umat Muslim yang percaya kalau bayi yang meminum ASI dari pendonor, secara langsung akan menjadi saudara sepersusuan dengan anak kandung si pemberi ASI. Hal ini menyebabkan mereka tidak bisa menikah nanti.
Namun, ada juga yang beranggapan bayi yang meminum ASI dari pendonornya tidak otomatis menjadi saudara. Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Yusuf Qardhawi dalam buku Fatwa-fatwa Kontemporer, kondisi penyusuan yang menimbulkan larangan menikah adalah jika bayi menerima donor ASI dengan langsung menyusu dari payudara. Jadi, untuk penerima ASI perah tidak akan langsung menjadi saudara sepersusuan dengan anak si pendonor.
Perlu diperhatikan, ini hanya acuan singkat saja ya, Bu. Oleh karena itu, sebelum memutuskan menjadi pendonor atau menerima donor ASI, sebaiknya Bunda berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemuka agama atau orang yang Bunda percaya untuk mendapatkan info lebih lengkapnya.
Dalam agama Islam, terdapat perbedaan pandangan mengenai donor ASI. Ada sebagian umat Muslim yang percaya bahwa bayi yang meminum ASI dari pendonor akan menjadi saudara sepersusuan dengan anak kandung si pemberi ASI. Hal ini menyebabkan mereka tidak bisa menikah nanti. Namun, ada juga yang beranggapan bahwa bayi yang meminum ASI dari pendonornya tidak otomatis menjadi saudara sepersusuan. Menurut Dr. Yusuf Qardhawi dalam buku Fatwa-fatwa Kontemporer, larangan menikah muncul jika bayi menerima donor ASI dengan langsung menyusu dari payudara. Jadi, untuk penerima ASI perah tidak akan langsung menjadi saudara sepersusuan dengan anak si pendonor. Namun, perlu diingat bahwa ini hanya merupakan acuan singkat. Sebelum memutuskan menjadi pendonor atau menerima donor ASI, sebaiknya berkonsultasi dengan pemuka agama atau orang yang dipercaya untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai pandangan agama mengenai donor ASI.

Baca Juga:  Brownies Cokelat Kukus

Semoga artikel ini bisa membantu, ya. Satu lagi yang terpenting jangan putus asa jika Bunda belum bisa menyusui si Kecil. Tetap semangat dan lakukan yang terbaik demi kelancaran tumbuh kembang si Kecil.
Donor ASI merupakan solusi bagi Bunda yang belum bisa memberikan ASI eksklusif kepada bayi mereka. Meskipun tidak bisa memberikan ASI eksklusif, Bunda tetap dapat memberikan ASI kepada bayi dengan mencari donor ASI yang terpercaya. Melalui donor ASI, bayi tetap bisa mendapatkan manfaat dari ASI dan tumbuh kembang dengan baik. Namun, perlu diingat bahwa donor ASI bukanlah satu-satunya solusi. Jika Bunda belum bisa memberikan ASI eksklusif, tetaplah bersemangat dan lakukan yang terbaik untuk kelancaran tumbuh kembang si Kecil. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk mendapatkan informasi dan dukungan yang diperlukan.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com