6 Jenis Kontraksi dan Cara Mengatasinya


Kontraksi Dini

Kontraksi dini adalah jenis kontraksi yang biasanya terjadi pada trimester pertama kehamilan atau saat awal kehamilan. Kontraksi ini terjadi karena tubuh sedang dalam proses penyesuaian dengan perubahan yang terjadi akibat kehamilan. Kontraksi dini terjadi karena meregangnya jaringan ikat di sekitar rahim. Gejala yang mungkin dirasakan saat mengalami kontraksi dini adalah perut kembung, sembelit, dan kekurangan cairan.

Namun, perlu diwaspadai jika kontraksi ini terjadi secara teratur dan disertai dengan adanya bercak darah padahal belum cukup bulan. Jika hal ini terjadi, segeralah berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kontraksi dini dapat menjadi tanda-tanda awal persalinan prematur.

Untuk mengatasi kontraksi dini, Bunda dapat melakukan beberapa langkah, antara lain:

1. Istirahat yang cukup: Beristirahat dengan cukup dapat membantu meredakan kontraksi dini dan mengurangi ketegangan pada tubuh.

2. Minum air yang cukup: Kekurangan cairan dapat memicu kontraksi dini. Pastikan Bunda mengonsumsi air yang cukup setiap hari untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

3. Perubahan posisi: Posisi tubuh yang salah dapat memicu kontraksi dini. Cobalah berbaring dengan posisi miring atau berdiri dengan posisi yang nyaman untuk meredakan kontraksi.

4. Hindari aktivitas fisik yang berat: Aktivitas fisik yang berat dapat memicu kontraksi dini. Hindarilah melakukan aktivitas fisik yang berat dan beristirahatlah dengan cukup.

5. Kompres hangat: Mengompres perut dengan air hangat dapat membantu meredakan kontraksi dini.

Kontraksi Palsu

Kontraksi palsu, juga dikenal sebagai Braxton-Hicks, adalah kontraksi yang sering terjadi pada trimester kedua atau ketiga kehamilan. Kontraksi ini umumnya tidak teratur dan tidak terjadi dengan ritme yang konsisten. Kontraksi palsu sering kali terasa seperti nyeri kram saat menstruasi.

Kontraksi palsu umumnya tidak berbahaya dan tidak menandakan bahwa persalinan akan segera terjadi. Namun, jika kontraksi ini semakin kuat dan intervalnya semakin pendek, maka bisa jadi persalinan akan segera berlangsung.

Baca Juga:  8 Alasan Salah Untuk Bertahan di Dalam Pernikahan yang Tidak Bahagia

Untuk mengatasi kontraksi palsu, Bunda dapat melakukan beberapa langkah, antara lain:

1. Berendam di air hangat: Berendam di air hangat dapat membantu meredakan kontraksi palsu.

2. Beristirahat dengan cukup: Istirahat yang cukup dapat membantu mengurangi kontraksi palsu.

3. Mengubah posisi tubuh: Mengubah posisi tubuh dapat membantu meredakan kontraksi palsu.

4. Mengonsumsi air yang cukup: Pastikan Bunda mengonsumsi air yang cukup untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dengan baik.

5. Mengurangi stres: Stres dapat memicu kontraksi palsu. Cobalah untuk mengurangi stres dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan atau beristirahat.

Kontraksi Ketika Berhubungan Intim

Berhubungan intim selama kehamilan dapat memicu munculnya kontraksi. Salah satu penyebabnya adalah sperma yang mengandung hormon prostaglandin. Hormon ini dapat menyebabkan kontraksi pada rahim dan dapat mencetuskan keguguran atau persalinan prematur.

Namun, tidak semua ibu hamil harus menghindari hubungan intim selama kehamilan. Hal ini tergantung pada kondisi kehamilan dan riwayat kesehatan ibu. Sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk mengetahui apakah hubungan intim aman dilakukan atau tidak.

Jika hubungan intim aman dilakukan, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk menghindari kontraksi yang terlalu kuat, antara lain:

1. Berhubungan intim dengan posisi yang nyaman: Pilih posisi yang nyaman dan tidak memberikan tekanan berlebih pada perut.

2. Menggunakan kondom atau senggama terputus: Menggunakan kondom atau senggama terputus dapat membantu mengurangi risiko terjadinya kontraksi.

3. Berkonsultasi dengan dokter atau bidan: Sebelum melakukan hubungan intim, Bunda dapat berkonsultasi dengan dokter atau bidan untuk mengetahui apakah Bunda berisiko atau tidak.

Kontraksi Inersia

Kontraksi inersia adalah kontraksi dalam proses persalinan yang lemah, pendek, atau tidak sesuai fase. Kontraksi inersia umumnya disebabkan oleh kelainan fisik pada ibu, seperti nutrisi yang kurang, anemia, hepatitis atau TBC, dan miom.

Baca Juga:  Mengenal Karakteristik Kognitif Anak Usia 3-6 Tahun

Ada dua macam kontraksi inersia, yaitu kontraksi inersia primer dan kontraksi inersia sekunder. Kontraksi inersia primer terjadi jika tidak ada kontraksi sama sekali sejak awal persalinan. Sedangkan kontraksi inersia sekunder terjadi jika kontraksi awalnya bagus, kuat, dan teratur, tetapi kemudian menghilang.

Untuk mengatasi kontraksi inersia, perlu dilakukan tindakan medis yang ditentukan oleh dokter atau bidan. Beberapa langkah yang mungkin dilakukan antara lain:

1. Pemberian obat-obatan untuk merangsang kontraksi

2. Pemberian cairan melalui infus untuk mengatasi dehidrasi

3. Pemberian oksitosin untuk merangsang kontraksi

4. Pemberian analgesik atau anestesi untuk mengurangi rasa sakit

Kontraksi Persalinan Prematur

Kontraksi persalinan prematur adalah kontraksi yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Kontraksi ini umumnya terjadi secara konsisten setiap 10-12 menit selama lebih dari 1 jam. Gejala yang mungkin dirasakan saat mengalami kontraksi persalinan prematur adalah perut terasa sakit saat disentuh, rahim semakin kencang, kram perut, nyeri punggung, tekanan di pinggul, dan tekanan di perut.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan kontraksi persalinan prematur antara lain:

1. Riwayat persalinan prematur sebelumnya

2. Kehamilan kembar

3. Stres berat

4. Kondisi kesehatan ibu yang tidak normal, seperti plasenta previa atau penyakit kronis

5. Kurang mendapatkan perawatan medis yang tepat selama kehamilan

Jika Bunda mengalami gejala kontraksi persalinan prematur, segera hubungi dokter atau bidan untuk mendapatkan perawatan yang tepat. Dokter atau bidan akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan apakah kontraksi tersebut merupakan persalinan prematur atau bukan.

Kontraksi Sesungguhnya

Kontraksi sesungguhnya adalah kontraksi yang terjadi menjelang persalinan. Kontraksi ini biasanya mulai terjadi saat Bunda memasuki usia kehamilan 36 minggu atau saat bayi mulai turun ke tulang panggul lebih dalam. Gejala yang mungkin dirasakan saat mengalami kontraksi sesungguhnya adalah kontraksi yang berlangsung 3 kali dalam 10 menit dengan durasi 20-40 detik. Frekuensinya pun meningkat hingga lebih dari 5 kali dalam 10 menit. Kontraksi sesungguhnya juga dapat disertai dengan keluarnya lendir bercampur darah, pecahnya ketuban, serta dorongan ingin mengejan.

Baca Juga:  7 Perkembangan Bayi 9 Bulan yang Cermat dan Kuat

Jika merasa ragu apakah kontraksi yang dirasakan merupakan kontraksi sesungguhnya, Bunda dapat mencoba berendam di air hangat. Kontraksi sesungguhnya akan semakin kuat saat berendam di air hangat. Jika masih merasa ragu atau ingin memastikan pembukaan serviks dan kapan proses persalinan dimulai, segera hubungi dokter atau bidan.

Penting bagi Bunda untuk mencatat kapan kontraksi dimulai dan berakhir, seberapa kuat kontraksi, serta di bagian tubuh mana Bunda merasakan tekanan atau ketidaknyamanan. Hal ini dapat membantu dalam menilai kemajuan persalinan. Jika merasa ragu atau khawatir, segera hubungi dokter atau bidan untuk mendapatkan bantuan dan perawatan yang tepat.

Selama kehamilan, Bunda juga perlu memperhatikan asupan nutrisi yang cukup untuk mendukung kesehatan Bunda dan tumbuh kembang janin yang optimal. Mengonsumsi susu ibu hamil yang mengandung tinggi DHA, 9 Asam Amino Esensial, dan 9 nutrisi penting lainnya dapat membantu menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh Bunda selama kehamilan.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com