Kakak-Adik Kok Beda Banget?


Perbedaan Temperamen Anak

Dalam perjalanan menjadi orang tua, saya sering menghadapi tantangan yang cukup sulit, yaitu bagaimana cara untuk tidak membanding-bandingkan antara kedua anak saya. Banyak orang yang mengatakan bahwa setiap anak itu unik dan tidak bisa disamakan. Dan itu benar. Meskipun ada standar perkembangan yang harus dicapai pada usia tertentu, namun temperamen anak adalah sesuatu yang bawaan sejak lahir dan tidak dapat diubah.

Setelah saya berkonsultasi dengan seorang psikolog, saya menyadari bahwa temperamen anak memang berbeda dengan sikap atau karakter yang bisa dibentuk. Ada anak-anak yang memiliki temperamen yang tenang, ada yang mudah terusik, dan lain sebagainya. Dan perbedaan ini sudah terlihat sejak mereka lahir.

Sebagai orang tua yang masih baru, saya memiliki dua anak. Anak pertama saya berusia 6,5 tahun dan adiknya berusia 2 tahun 3 bulan. Kedua anak saya sudah cukup besar dan saya mulai sering tanpa sadar membandingkan mereka, meskipun sebenarnya saya tidak boleh melakukannya.

Dalam hal pengasuhan, saya memperlakukan keduanya dengan cara yang sama. Pola-pola kehidupan sehari-hari mereka juga tidak dibedakan. Baik kakak maupun adik saya diberi ASI, mereka diberi makanan yang sama tanpa pilih-pilih, dan aturan di rumah juga sama. Namun, hasilnya tetap saja ada perbedaan.

Kakak saya memiliki tipe yang sangat teratur. Dia mandi dan tidur pada jam yang sama setiap hari. Dia sangat hati-hati dan kadang ragu untuk mencoba hal baru jika tidak didorong oleh orang lain. Dia juga sensitif dan patuh pada aturan.

Sedangkan adik saya memiliki tipe yang lebih berani. Dia tidak takut untuk masuk ke kolam renang dan tidak terlalu khawatir ketika bertemu dengan orang baru. Dia juga lebih santai dalam menghadapi kegiatan sehari-hari.

Baca Juga:  4 Manfaat Minyak Ikan untuk Anak

Ada yang mengatakan bahwa perbedaan ini karena saat mengandung anak kedua, saya menjadi lebih rileks dalam banyak hal. Ketika mengandung anak pertama, saya lebih berhati-hati. Apakah pendapat ini benar?

Ketika saya mendaftarkan anak kedua saya untuk masuk playgroup, Kepala Sekolahnya bertanya tentang harapan saya. Saya menjawab bahwa saya berharap anak kedua saya bisa menjadi teratur seperti kakaknya, atau setidaknya mendekati kakaknya.

Namun, ketika saya berpikir dalam perjalanan pulang, saya menyadari bahwa mengharapkan adiknya menjadi seperti kakaknya mungkin hanya untuk keuntungan saya sendiri. Dan mengapa saya mengharapkan mereka memiliki sifat yang sama?

Setelah itu, saya mulai berpikir panjang. Sebagai orang tua, tentunya kita selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak-anak kita, meskipun cara kita mengungkapkan harapan tersebut tidak selalu cocok untuk semua anak. Tidak jarang anak hanya patuh untuk memenuhi harapan orang tua. Mungkin saya terlalu jauh berpikir. Namun, ini adalah kenyataan. Harapan itu dimulai dari hal-hal kecil dan berkembang menjadi hal-hal besar.

Menerima Anak Apa Adanya

Salah satu pelajaran terbesar yang saya pelajari setelah menjadi orang tua adalah kemampuan untuk menerima anak kita apa adanya. Namun, hal ini tidak semudah yang saya bayangkan. Sebagai manusia, kita memiliki ekspektasi terhadap orang yang kita cintai, namun kita perlu mengatur ekspektasi tersebut agar tidak melukai mereka. Istilah yang tepat untuk ini adalah mengelola harapan.

Apakah ada orang tua lain yang mengalami dilema yang sama tentang perbedaan antara kedua anak mereka?

Dalam artikel ini, saya ingin berbagi pengalaman saya sebagai seorang ibu dengan dua anak. Saya berharap tulisan ini dapat memberikan wawasan kepada orang tua lainnya yang mungkin menghadapi situasi yang sama.

Baca Juga:  6 Nutrisi yang Harus Ada Dalam Susu Ibu Hamil Trimester 2

Sebagai seorang Content Manager di 24hourparenting.com, saya memiliki akses ke banyak informasi tentang kehidupan sebagai orang tua. Situs ini merupakan sumber informasi parenting yang memberikan panduan singkat dan to the point, serta membahas tentang menjadi orang tua dan ide-ide kegiatan bersama anak. Seluruh konten di situs ini ditulis oleh psikolog dan orang tua yang berpengalaman.

Dalam perjalanan menjadi orang tua, saya belajar bahwa setiap anak memiliki temperamen yang berbeda. Meskipun kita tidak bisa mengubah temperamen mereka, kita dapat membantu mereka untuk berkembang dan tumbuh menjadi individu yang baik melalui pengasuhan yang tepat.

Saya menyadari bahwa membandingkan anak-anak kita tidaklah sehat. Setiap anak memiliki keunikan dan potensi yang berbeda-beda. Sebagai orang tua, tugas kita adalah untuk mendukung mereka dalam mengeksplorasi dan mengembangkan potensi mereka sesuai dengan temperamen masing-masing.

Dalam menghadapi perbedaan temperamen anak, saya belajar untuk menerima mereka apa adanya. Saya tidak boleh membandingkan mereka, karena hal itu hanya akan membuat mereka merasa tidak dihargai dan tidak diterima. Sebagai orang tua, saya harus menerima perbedaan mereka dengan penuh kasih sayang dan menghargai setiap individu yang mereka tunjukkan.

Mengelola harapan juga merupakan hal yang penting dalam menghadapi perbedaan antara anak-anak kita. Sebagai orang tua, kita memiliki ekspektasi terhadap anak-anak kita, namun kita perlu mengatur ekspektasi tersebut agar tidak menimbulkan tekanan dan beban yang berlebihan bagi mereka. Kita harus memberikan dukungan dan pujian yang sesuai dengan usaha mereka, tanpa membandingkan mereka dengan orang lain.

Saya berharap tulisan ini dapat membantu para orang tua untuk mengatasi perbedaan temperamen anak. Setiap anak adalah individu yang unik dan memiliki potensi yang berbeda. Sebagai orang tua, tugas kita adalah untuk membantu mereka menemukan dan mengembangkan potensi mereka sesuai dengan temperamen masing-masing.

Baca Juga:  Biaya Masuk SMP di Jakarta Timur, Barat, dan Utara

Terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bisa memberikan wawasan dan inspirasi bagi para orang tua di luar sana.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com