4 Penyebab Bayi Susah BAB dan Cara Mengatasinya



Frekuensi Rata-rata BAB Bayi

Bayi memiliki frekuensi BAB yang berbeda-beda, tergantung pada asupan makanan dan usianya. Sebenarnya tidak ada patokan pasti seberapa sering BAB yang normal pada bayi. Namun, melansir laman resmi mayoclinic.com, berikut ini frekuensi rata-rata bayi BAB, antara lain:

– Bayi usia 5-6 hari: setiap kali setelah menyusu.
– Bayi usia 1 bulan: 4 kali sehari.
– Bayi usia 2 bulan: 1 kali sehari.
– Bayi usia 3 bulan dengan ASI eksklusif: bisa tidak BAB selama 10-14 hari. Di usia ini ia sedang mengalami pertumbuhan pesat, sehingga berusaha mencerna seluruh asupan yang masuk. Kondisi tersebut berlangsung hingga bayi memasuki masa MPASI.

Hal yang perlu Bunda khawatirkan adalah saat si Kecil mengalami perubahan frekuensi dan konsistensi BAB. Sebab, perubahan frekuensi BAB dibandingkan sebelumnya bisa jadi pertanda bahwa si Kecil sedang mengalami gangguan pencernaan.

Sebagai contoh, bila si Kecil terbiasa BAB setiap hari, tetapi sekarang ia sudah lebih dari 2 hari tidak BAB dan tinjanya menjadi lebih padat. Nah, kondisi tersebut perlu diketahui secara pasti. Apa penyebab bayi susah BAB? Adakah yang salah dalam pemberian ASI atau MPASI? Dengan mengetahui penyebabnya, maka Bunda dapat mengatasi kondisi tersebut. Namun, jika si Kecil terbiasa BAB seminggu sekali dan tidak ada tanda-tanda sembelit pada bayi, maka hal tersebut masih normal.

Tanda-tanda Bayi Susah BAB

Bayi yang mengalami susah BAB memiliki tanda-tanda sebagai berikut:

1. Frekuensi BAB kurang dari 2 kali dalam seminggu.
2. Bentuk kotoran yang lebih keras dari biasanya.
3. Bayi terlihat kesakitan saat BAB.
4. Bayi lebih rewel dan menangis sambil mengangkat kakinya.
5. Pada kasus yang parah terdapat bercak darah pada popoknya yang disebabkan oleh dinding rektum robek terkena kotoran yang keras.

Penyebab Bayi Susah BAB

Penyebab bayi susah BAB bisa disebabkan oleh berbagai macam faktor. Berikut adalah beberapa faktor penyebab bayi susah BAB:

Baca Juga:  6 Jenis Vitamin Anak 1 Tahun untuk Tumbuh Kembang Optimal

1. Dehidrasi
Penyebab bayi susah BAB yang paling sering terjadi yaitu dehidrasi. Dehidrasi dapat menyebabkan tinja menjadi keras sehingga sulit untuk dikeluarkan. Penyebab bayi susah BAB ini dialami oleh bayi pada kondisi tertentu, seperti saat sakit atau tumbuh gigi yang membuatnya malas untuk minum.

2. Makanan Padat
Selain dehidrasi, makanan padat juga termasuk penyebab bayi susah BAB. Biasanya penyebab bayi susah BAB ini dialami oleh si Kecil yang sudah memasuki usia 6-12 bulan, yaitu ketika mendapatkan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Ini karena peralihan yang awalnya hanya asupan cairan berupa susu saja, kemudian mendapat asupan makanan padat dalam MPASI dimana saluran pencernaan si Kecil masih terbiasa dengan asupan cairan.

3. Perubahan lingkungan dan suasana
Sama seperti orang dewasa, penyebab bayi susah BAB juga bisa dipicu karena perubahan lingkungan dan suasana. Bayi mungkin saja mengalami stres sehingga membuat ia susah BAB. Penyebab bayi susah BAB karena stres ini bisa dipicu dari situasi yang membuatnya tidak nyaman, lingkungan baru, perubahan cuaca, ataupun saat travelling.

4. Kondisi Medis Tertentu
Penyebab bayi susah BAB yang lebih serius bisa diakibatkan oleh kondisi medis tertentu. Oleh karena itu, penting bagi Bunda untuk memantau kesehatan dan tumbuh kembang si Kecil jika mengalami susah BAB.

Cara Mengatasi Bayi Susah BAB

Setelah Bunda mengetahui penyebab bayi susah BAB, maka sekarang saatnya Bunda mencari cara untuk mengatasi kondisi tersebut. Kondisi ini bisa diatasi jika Bunda sudah paham betul penyebab bayi susah BAB. Sebab, setiap penyebab pasti memerlukan penanganannya sendiri.

Sebagai contoh, bila penyebab bayi susah BAB dipicu karena makanan padat, maka Bunda perlu mengatasinya dengan cara memberikan menu MPASI yang tinggi serat dan teksturnya lebih lembut. Berikut ini ada beberapa cara mengatasi bayi susah BAB yang bisa dicoba di rumah:

Baca Juga:  Hand, Foot, and Mouth Disease I

1. Buat Si Kecil Aktif
Aktif bergerak akan membuat tinja terdorong oleh usus sehingga mempermudah proses BAB. Untuk itu Bunda harus mengajak anak untuk lebih aktif bergerak. Pada bayi yang sudah bisa merangkak, maka ajak ia untuk sering merangkak. Namun jika masih belum bisa merangkak, Bunda bisa menggerakkan kakinya seperti gerakan saat mengayuh sepeda.

2. Kombinasikan Makanannya
Bunda sebaiknya tidak langsung memberi si Kecil bahan makanan yang berat sebagai awal MPASI-nya karena mereka masih butuh mengonsumsi ASI. Bunda bisa coba dengan memberikan buah dan sayuran yang mengandung banyak serat dan dengan porsi yang sedikit lebih dulu. Apalagi buah dan sayuran punya kandungan nutrisi lain yang juga baik untuk si Kecil. Agar hasilnya lebih maksimal, ada baiknya untuk memijat perut si Kecil lebih dulu sebelum jam makannya tiba.

3. Pijatan Perut
Memijat perut juga bisa jadi salah satu cara mengatasi bayi susah BAB. Pijatan berpusat pada bagian bawah pusar bayi atau sekitar tiga jari pusar. Lakukan pijatan secara lembut dengan arah pijatan melingkar dari tengah ke luar. Perhatikan reaksi si Kecil. Jangan sampai saat Bunda memijat perut bayi mereka merasa kesakitan dan pastikan ia dalam kondisi rileks.

4. Cukupi Kebutuhan Cairannya
Bayi membutuhkan asupan cairan cukup untuk memperlancar proses pencernaannya. Berikan lebih banyak ASI jika si Kecil masih berusia di bawah 6 bulan. Namun jika sudah berusia di atas 6 bulan, Bunda bisa memberikan tambahan cairan berupa air putih atau jus buah selain dari ASI.

5. Mandikan dengan Air Hangat
Mandi air hangat dapat membuat bayi merasa lebih rileks sehingga membuat saluran pencernaannya lebih mudah mengeluarkan tinja. Saat memandikan, lakukan pijatan pada perutnya untuk semakin mempermudah keluarnya kotoran.

Baca Juga:  5 Tips Meningkatkan Sistem Imun Anak Saat Puasa

Jika Bunda merasa khawatir, apalagi jika kondisi bayi susah BAB sudah berlangsung lebih dari 2 minggu, sebaiknya segera periksakan si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Apalagi jika kondisi bayi susah BAB disertai gejala lain, seperti muntah, demam, berat badan turun, adanya darah pada pup atau feses si Kecil, dan lain sebagainya.

Bunda pasti ingin si Kecil tumbuh lebih prima, kan? Maka dari itu, Bunda juga perlu meningkatkan kualitas ASI. Agar produksi ASI meningkat baik dalam jumlah maupun kualitasnya, Bunda harus mendapatkan energi tambahan sebanyak 500 kalori setiap harinya (AKG 2019) begitu juga dengan protein dan nutrisi penting lainnya. Selain mengonsumsi makanan bergizi, Bunda juga perlu mengonsumsi susu ibu menyusui yang mengandung tinggi DHA untuk mendukung perkembangan otak si Kecil, 9 Asam Amino Esensial (AAE), yaitu protein penting yang tidak dapat diproduksi oleh tubuh dan harus didapat dari makanan setiap harinya untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan si Kecil yang optimal di 1000 Hari Pertama Kehidupannya serta 9 nutrisi penting lainnya seperti; tinggi asam folat, omega 3 (ALA), Omega 6 (LA), tinggi zat besi, serat pangan inulin, tinggi vitamin C, protein, tinggi kalsium dan tinggi seng untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh Bunda selama periode menyusui dan mendukung produksi ASI.

Namun jika Bunda atau si Kecil mengalami kondisi yang tidak memungkinkan pemberian ASI, Bunda bisa memberikan susu pendamping ASI sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan ya Bu. Pastikan Bunda memilih susu yang mengandung 9 protein asam amino esensial lengkap dan tinggi DHA, karena protein adalah komponen yang penting untuk mendukung tumbuh dan kembang bayi ya, Bu!


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com