Normalkah Bayi Ngorok Saat Tidur? Simak Penjelasannya


Normalkah Bayi Ngorok Saat Tidur? Simak Penjelasannya

Bayi ngorok saat tidur merupakan hal yang sering terjadi. Ketahui berbagai penyebab, dampak, hingga cara pencegahannya di sini!

Faktor Penyebab Bayi Mendengkur

Kenapa bayi tidur ngorok? Berikut adalah beberapa faktor yang bisa menyebabkan bayi ngorok:

Laringomalasia

Bayi ngorok bisa disebabkan oleh laringomalasia, yaitu suatu kondisi jaringan kotak suara atau laring yang melunak. Struktur laring yang cacat dan mengelupas ini kemudian membuat jaringan berada di atas pembukaan jalan napas, sehingga menutupi sebagian saluran napas.

Biasanya, laringomalasia dapat sembuh sendiri ketika bayi memasuki usia 18-20 bulan. Namun beberapa bayi dapat mengalami kondisi yang parah, sehingga mengganggu aktivitas makan dan pernapasannya. Langkah pengobatannya adalah dengan menjalani operasi rekonstruksi laringotrakeal karena terkadang tabung pernapasan bisa mengakibatkan infeksi.

Sleep apnea

Bayi yang menderita sleep apnea atau gangguan tidur juga rentan mendengkur atau bayi tidur ngorok. Bayi tidak dapat tidur dengan nyenyak, karena ia kesulitan bernapas dan terjadi penumpukan karbon dioksida di saluran pernapasan. Selain menyebabkan bayi bernapas dengan berisik, sleep apnea juga akan mendatangkan berbagai permasalahan lainnya yang terkait dengan tumbuh kembang bayi.

Hidung tersumbat

Seringnya, penyebab bayi ngorok adalah karena hidungnya tersumbat. Kondisi ini bisa diatasi dengan memberikan saline drops. Ketika bayi sudah lebih besar, ukuran lubang hidung pun turut membesar sehingga masalah mendengkur umumnya akan mereda sendiri. Apabila setelah diberi saline drops bayi ngorok masih terjadi dan semakin memburuk, maka sebaiknya mengonsultasikan dengan dokter.

Masalah kesehatan lainnya

Kondisi kesehatan tertentu juga bisa mengakibatkan bayi ngorok, seperti pembesaran amandel atau penyimpangan septum. Kondisi ini dialami oleh sekitar 20% bayi baru lahir pada beberapa hari pertamanya. Kebanyakan bayi tidak menunjukkan gejala dan dapat sembuh sendiri seiring berjalannya waktu.

Baca Juga:  Resep Sehat Pie Labu Manis

Upaya Mencegah Bayi Ngorok

Masalah bayi ngorok dapat dicegah dengan beberapa upaya berikut ini:

Menyesuaikan posisi tidur bayi

Bayi cenderung ngorok saat tidur dengan posisi tengkurap atau terlentang. Untuk menghindari bayi ngorok, maka Bunda dapat memposisikan bayi tidur menyamping. Posisi ini juga disarankan oleh American Academy of Pediatrics untuk mencegah terjadinya Sudden Infant Death Syndrome (SIDS). Posisi kepala yang sedikit menunduk juga akan membantu memperlancar pernapasan dan membantu bayi tidur lebih pulas.

Membersihkan hidung bayi menggunakan nasal spray

Atas rekomendasi dokter, Bunda bisa menggunakan nasal spray atau semprotan hidung untuk membersihkan dan melegakan saluran hidung bayi. Saat diberi obat ini, bayi mungkin akan merasa kaget dan menangis, tapi ia akan bisa tidur lebih nyenyak karena pernapasannya lebih lancar.

Memakai nasal aspirator

Alat ini digunakan untuk menyedot keluar lendir berlebih yang menghalangi saluran pernapasan bayi. Saat hidung bayi disedot, ia mungkin akan merasa tidak nyaman dan menangis. Namun nasal aspirator dapat membantu menjernihkan napas bayi, sehingga Bunda boleh mempertimbangkan menggunakan alat ini dengan pengawasan dokter.

Menguapi hidung

Pilek atau alergi musiman yang membuat hidung tersumbat bisa menjadi penyebab bayi ngorok. Untuk mengatasinya, gunakan alat uap (humidifier atau vaporizer) untuk meringankan hidung bayi yang tersumbat. Pastikan memilih alat uap yang mempunyai pengaturan dingin supaya tidak mengakibatkan uap terbakar.

Menyingkirkan penyebab alergi

Jika bayi alergi terhadap sesuatu, maka segera singkirkan penyebab alergi tersebut. Biasanya, penyebab alergi pada bayi yang terbesar adalah debu. Jadi, rajinlah membersihkan ruangan agar terbebas dari debu dan peralatan yang rawan menjadi sarang debu.

Konsultasi dokter

Pemeriksaan dokter dianjurkan bagi bayi yang sering mendengkur. Dokter akan melakukan pemeriksaan berupa polysomnogram, uji endoskopi untuk mengecek saluran napas, tes MRI, tes fungsi paru, CT scan, kemampuan menelan, dan pemeriksaan suara.

Baca Juga:  Tips Membersihkan Kasur dan Rekomendasi Jasa Bersih Kasur Jabodetabek

Masalah Bayi Ngorok yang Serius

Ada beberapa kondisi bayi ngorok akibat kondisi hidung atau saluran pernapasan yang abnormal, seperti pembengkakan kelenjar gondok atau amandel, tulang rawan tidak berkembang atau saluran udara atas terkulai, dan bernapas melalui laring atau trakea. Ketiga kondisi tersebut menyebabkan bayi bernapas mengi, yaitu suara napas yang menyerupai siulan atau terengah-engah yang keras.

Dampak Bayi Ngorok Berlebihan

Mengutip jurnal di U.S. National Library of Medicine yang ditulis Karen Bonuck, bayi ngorok atau yang mendengkur berlebihan dapat memicu gangguan perkembangan korteks prefrontal yang memicu masalah hiperaktif, emosional, dan perilaku. Tidur bayi juga menjadi kurang teratur, sehingga akan membuat otak kekurangan suplai oksigen. Akibatnya, kemampuan otak untuk berpikir pun jadi berkurang.

Selalu pantau kondisi pada bayi yang mendengkur. Jika terdapat tanda-tanda bayi ngorok yang tidak normal, maka segera kunjungi dokter untuk berkonsultasi dan mendapatkan penanganan yang tepat.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu menjaga produksi dan kualitas ASI, ya, Bu. Sebab, ASI merupakan sumber nutrisi paling terbaik untuk tumbuh dan kembang si Kecil. Agar ASI meningkat baik dalam jumlah maupun kualitasnya, Bunda harus mendapatkan energi tambahan sebanyak 500 kalori setiap harinya (AKG 2019) begitu juga tambahan nutrisi penting lainnya.

Selain dari makanan, Bunda juga perlu mengonsumsi susu ibu menyusui yang mengandung 9AAE (9 Asam Amino Esensial – protein penting dalam bentuk siap diserap oleh tubuh untuk mengoptimalkan tumbuh kembang otak dan tulang si Kecil serta menjaga kesehatan ibu) dan 9 nutrisi penting lainnya seperti: tinggi asam folat, omega 3 (ALA)/DHA, Omega 6 (LA), tinggi zat besi, sumber serat pangan inulin, tinggi vitamin C, sumber protein, tinggi kalsium dan tinggi seng agar kebutuhan nutrisi Bunda selama periode menyusui tercukupi dan produksi ASI meningkat.

Baca Juga:  8 Alasan Salah Untuk Bertahan di Dalam Pernikahan yang Tidak Bahagia

Jika Bunda atau si Kecil mengalami kondisi yang tidak memungkinkan pemberian ASI, Bunda bisa memberikan susu pendamping ASI sesuai dengan anjuran tenaga kesehatan ya Bu. Pastikan Bunda memilih susu yang mengandung 9 protein asam amino esensial lengkap dan tinggi DHA, karena protein adalah komponen yang penting untuk mendukung tumbuh dan kembang bayi ya, Bu!


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com