Batasan Pemakaian & Cara Bedong Bayi yang Benar

Batasan Pemakaian & Cara Bedong Bayi yang Benar

Penggunaan bedong bayi adalah salah satu tradisi yang telah dilakukan oleh orang tua sejak zaman dahulu. Bedong bayi dilakukan dengan tujuan untuk memberikan rasa nyaman dan kehangatan bagi bayi. Selain itu, bedong bayi juga dapat membantu mengurangi refleks moro atau refleks kaget pada bayi. Namun, penggunaan bedong bayi harus dilakukan dengan cara yang benar dan dibatasi pemakaiannya agar bayi mendapatkan manfaatnya.

Manfaat Bedong Bayi
Bedong bayi memiliki beberapa manfaat yang penting untuk diketahui. Salah satunya adalah memberikan rasa nyaman dan kehangatan bagi bayi. Saat bayi dibedong, ia akan merasa terlindungi dan aman seperti berada di dalam kandungan. Hal ini dapat membantu bayi merasa lebih tenang dan nyenyak saat tidur.

Selain itu, bedong bayi juga dapat membantu mengurangi refleks moro atau refleks kaget pada bayi. Refleks moro adalah refleks alami yang dimiliki oleh bayi yang dapat terjadi saat bayi merasa tiba-tiba terjatuh atau mendengar suara keras. Dengan dibedong, kain atau selimut yang digunakan akan melindungi bayi dari suara keras yang terdengar tiba-tiba dan sentuhan mendadak. Hal ini membuat bayi merasa lebih tenang dan tidak mudah terbangun saat tidur.

Risiko Terlalu Lama Membedong Bayi
Meskipun penggunaan bedong bayi memiliki manfaat yang baik, namun terlalu lama atau cara yang tidak benar dalam membedong bayi dapat meningkatkan risiko beberapa hal berikut ini:

1. Mengalami ruam atau biang keringat. Dibedong dalam waktu yang lama akan membuat bayi merasa kegerahan. Akibatnya, bayi rentan mengalami biang keringat atau ruam karena ia cepat berkeringat.

2. Mengalami Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) atau sindrom kematian bayi mendadak. SIDS merupakan penyebab kematian pada bayi yang cukup menakutkan bagi para orang tua. Bedong bayi dengan cara yang salah dapat meningkatkan risiko sindrom tersebut. Misalnya, jika bedong bayi terlalu kencang, maka dapat menyebabkan bayi tercekik ketika ia tidur. Bisa juga terjadi jika bedong bayi terlalu longgar, sehingga memungkinkan kain terlepas dan membuat tangannya bergerak bebas yang memungkinkan kain menutupi saluran pernapasannya.

Baca Juga:  Pentingnya Mendapat Kebutuhan Vitamin C Per Hari yang Tepat

3. Menyebabkan hip displasia. Kesalahan dalam membedong yang kerap dilakukan orang tua adalah meluruskan kaki bayi dengan paksa. Padahal, hal tersebut bisa menyebabkan displasia, yakni gangguan pertumbuhan organ atau jaringan. Jika kaki bayi diluruskan, maka sendi dan tulang rawannya bisa mengalami kerusakan.

Jangka Waktu Membedong Bayi
Pemakaian bedong bayi tidak perlu dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Saat bayi sudah tumbuh besar, penggunaan bedong bayi sudah tidak perlu dilakukan lagi. Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan untuk mengetahui kapan saatnya berhenti membedong bayi, antara lain:

1. Bayi hanya perlu dibedong ketika tidur, khususnya bagi bayi baru lahir.

2. Rata-rata usia yang tepat untuk tidak lagi membedong bayi adalah 3 atau 4 bulan.

3. Bayi sudah mampu berguling sendiri saat tidur, sehingga sudah tidak perlu lagi dibedong karena dapat membuat hidungnya terhimpit dan membuatnya susah bernapas.

4. Bayi kerap terbangun dari tidur malamnya karena mencari posisi yang nyaman untuk tidur.

5. Bedong bayi tidak perlu dilakukan sepanjang hari. Bayi juga memerlukan waktu untuk bebas bergerak supaya dapat bertumbuh lebih kuat dan kemampuan motorik kasarnya berkembang dengan optimal.

6. Bayi mulai bergerak-gerak untuk menggulingkan tubuhnya ketika ia hanya dibedong sebatas dada sampai kaki.

7. Tubuh bayi terlepas saat hanya dibedong dari dada hingga kaki akibat ia terus bergerak.

Tips Menghentikan Rutinitas Bedong Bayi
Apabila bayi sudah memasuki usia 2 atau 3 bulan, sudah saatnya untuk menghentikan rutinitas membedong bayi. Hal ini karena pada usia 4 bulan, bayi perlu mengembangkan keterampilannya untuk berguling. Berikut adalah tips untuk menghentikan rutinitas bedong bayi secara bertahap:

1. Lepaskan sebagian kain bedong untuk membebaskan satu tangan bayi.

Baca Juga:  Video Review Mixer Mito MX700

2. Setelah itu, bedong bayi hanya pada dada sampai kaki.

3. Terakhir, lepaskan seluruh bedongan.

Cara Bedong Bayi yang Tepat
Untuk menghindari risiko yang mungkin terjadi, penting untuk membedong bayi dengan benar. Berikut adalah langkah-langkah cara membedong bayi yang tepat:

1. Letakkan kain di atas permukaan datar, lalu lipat sedikit pada salah satu sudutnya.

2. Posisikan bayi dengan bagian bahu tepat di atas lipatan tersebut.

3. Tempatkan kedua lengan bayi ke bawah mengapit tubuhnya.

4. Arahkan sudut selimut yang ada di dekat lengan kirinya untuk menutupi dada dan lengan kiri.

5. Selipkan sudut selimut tadi ke bawah sisi kanan tubuh bayi. Pastikan tetap memberikan sedikit kelonggaran supaya bayi tetap bisa bergerak dengan bebas.

6. Arahkan sudut selimut di dekat lengan kanannya untuk menutupi dada dan lengan kanan.

7. Selipkan sudut selimut tadi ke bawah sisi kiri tubuh bayi dengan sedikit kelonggaran, kemudian lipat dan selipkan di belakang bayi.

8. Biarkan kedua kaki bayi agak menekuk ke atas agar pinggul dan kakinya dapat bergerak bebas.

Dengan membedong bayi dengan cara yang benar, bayi dapat merasa nyaman dan tidur dengan lebih lelap. Namun, penggunaan bedong bayi harus tetap diawasi dan dibatasi sesuai dengan petunjuk yang telah disebutkan di atas.

Konsultasi dengan Ahli Gizi
Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut seputar nutrisi bayi atau masalah kesehatan lainnya, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi kami. Kami menyediakan layanan konsultasi gratis dengan ahli gizi yang siap membantu menjawab pertanyaan Anda. Untuk menggunakan layanan ini, Anda perlu melakukan registrasi terlebih dahulu.

Selain itu, kami juga menyediakan informasi parenting dan hadiah spesial dari Bunda & Balita. Dapatkan info-info menarik seputar perkembangan anak dan tips-tips parenting yang bermanfaat untuk Anda.

Baca Juga:  Perkiraan Masa Subur Ibu

Sumber:
– Hellosehat

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com