7 Kesalahan yang Sering Kita Lakukan di Tempat Kerja


Ditulis oleh: Nina Samidi

Suatu sore, saya bertemu beberapa teman. Topik menarik sore itu adalah “apa penyesalan terbesar saat kita bekerja?” Hasilnya beragam, dan saya yakin, ini bisa jadi pelajaran untuk kita semua. Tujuh penyesalan ini mungkin belum Anda alami atau malah sedang Anda alami? Belajar dari cerita-cerita di bawah ini, jangan sampai Anda mengalami penyesalan yang sama ya, Moms. Karena ternyata dampaknya nggak selalu pada diri kita namun juga keluarga di rumah.

1. Berlama-lama saat jam makan siang atau meeting di luar
Ini adalah penyesalan Mira. Dia mengakui kalau tak jarang jam makan siangnya bisa molor hingga menghabiskan waktu selama 3 jam. Atau saat ada meeting di luar, selesai meeting bukannya langsung kembali ke kantor namun asik window shopping. “Gara-gara itu, terkadang jadi harus lembur dan akibatnya malah mengurangi jam bersama anak-anak di rumah,” sesalnya.

Dalam kehidupan yang serba sibuk seperti sekarang ini, seringkali kita terjebak dalam rutinitas dan tuntutan pekerjaan yang membuat kita lupa akan pentingnya waktu bersama keluarga. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk makan siang atau melakukan aktivitas di luar kantor bukanlah suatu keputusan yang bijaksana. Waktu yang seharusnya kita habiskan bersama keluarga justru terbuang sia-sia, dan akibatnya dapat mengurangi keharmonisan dan kedekatan kita dengan mereka. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengatur waktu dengan bijaksana dan mengutamakan keluarga di tengah kesibukan kita.

2. Terlalu workaholic
Rajin dan sigap bekerja memang sifat yang oke bange. Tapi kalau bekerja menjadi hobi? Tria, mantan staf ahli DPR mengakui kalau dia tipe pekerja keras dan hobi bekerja. Dia akan menyelesaikan banyak pekerjaan dan merasa bangga serta puas jika bisa melakukannya. Namun ternyata setelah menjalaninya selama beberapa lama, dia baru sadar bahwa dia kehilangan banyak momen berharga anak-anaknya. “Kakak pernah lomba di sekolah. Waktu itu saya cuma bisa nonton videonya di grup orang tua murid. Sedih juga, kok saya bukannya ada di sana langsung untuk menyemangatinya?” Tapi, sekarang dia lega karena akhirnya dia bisa bekerja di kantor dengan jam kerja yang fleksibel.

Kita semua tahu betapa pentingnya pekerjaan bagi kehidupan kita. Namun, terlalu terjebak dalam pekerjaan dan menjadi workaholic dapat membuat kita kehilangan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Anak-anak kita tumbuh dengan cepat, dan momen-momen berharga seperti lomba di sekolah atau pertunjukan penting bagi mereka. Jika kita terlalu sibuk dengan pekerjaan dan tidak bisa hadir dalam momen-momen tersebut, maka kita akan kehilangan momen-momen yang tidak akan terulang lagi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta mengatur waktu dengan bijaksana agar kita dapat menghabiskan waktu bersama keluarga dengan kualitas yang baik.

Baca Juga:  Jangan Lewatkan 5 Imunisasi Bayi yang Perlu Diberikan

3. Terlalu terbuka membicarakan ide-ide
Pernah dengar ada yang mengeluh kalau idenya diambil teman, apalagi kalau idenya ternyata diapresiasi bos. “Ide gue dipakai dan diakui orang yang dulu menolak. Menyebalkan,” sesal Ute, karyawan sebuah universitas internasional. Sebagai profesional, saat diminta ide, pasti Anda bangga untuk mengungkapkannya secara langsung. Tapi kalau boleh kasih saran, Moms, jika Anda tahu tipe seperti apa rekan kerja Anda, lebih baik bersabar. Simpan dulu, baru ungkapkan secara langsung ke si bos di kesempatan yang berbeda. Bilang saja, “Baru terpikir nih, Bos.”

Dalam dunia kerja, ide-ide yang inovatif dan kreatif sangatlah berharga. Namun, terlalu terbuka dan ceroboh dalam membicarakan ide-ide dapat membuat kita menjadi rentan terhadap pencurian ide atau pengambilan kredit yang tidak pantas. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk bijak dalam berbagi ide-ide dan mengenali tipe rekan kerja kita. Jika kita memiliki ide yang sangat berharga, sebaiknya kita simpan terlebih dahulu dan ungkapkan secara langsung kepada atasan kita pada kesempatan yang tepat. Dengan begitu, kita dapat memastikan bahwa ide kita diakui dan diapresiasi dengan benar.

4. Tidak paham etika side job
Siapa sih yang bisa menolak godaan side job? Tapi yang harus Anda mengerti adalah ini namanya SIDE job. Artinya hanya pekerjaan smapingan. Bukan pekerjaan utama. Jadi, jangan sampai Anda lebih banyak mencuri waktu kerja untuk melakukan side job. Ingin side job? Lebih baik cuti dari kantor. Itu lebih fair. Dan, jangan juga mengerjakan side job di jam kantor menggunakan fasilitas kantor. Itu namanya tidak tahu diri. Gara-gara “side job”, Anda bisa dibilang bukan karyawan yang bisa dipercaya dan ini akan merusak kepercayaan orang lain terhadap Anda.

Ini adalah penyesalan Tary, karyawan bank. “Di awal karir saya di perusahaan asuransi dulu, saya pernah bolos sehari dan ambil “side job” di sebuah mal karena tergoda honornya yang besar. Ternyata ada yang melihat saya dan melaporkannya ke manajemen!” akunya. Akibatnya, promosi kenaikan level pun ditunda.

Baca Juga:  Manfaat dan Resep Olahan Kerang untuk Tumbuh Kembang Anak

Side job atau pekerjaan sampingan memang bisa menghasilkan penghasilan tambahan yang menggiurkan. Namun, penting bagi kita untuk memahami etika dalam melakukan side job. Side job seharusnya dilakukan di luar jam kerja dan bukan menjadi prioritas utama kita. Menggunakan waktu kerja untuk melakukan side job atau menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi adalah tindakan yang tidak profesional dan dapat merusak reputasi kita sebagai karyawan yang dapat dipercaya. Oleh karena itu, jika kita ingin melakukan side job, sebaiknya kita mengambil cuti dari kantor dan melakukan pekerjaan sampingan dengan penuh tanggung jawab dan etika.

5. Tidak ‘nego’ gaji dengan benar
Ini adalah penyesalan terbesar Anggra, karyawan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. “Duh, ini memang kelemahan gue deh. Nggak berani menaikkan tawaran. Selanjutnya bisa dibayangkan, gue nggak semangat kerja, nggak mau repot karena berpikir ‘toh gajinya pas-pasan'”. Nah, Moms, ini pentingnya menghargai diri sendiri, pun dalam hal pekerjaan!

Gaji merupakan salah satu faktor penting dalam pekerjaan kita. Namun, seringkali kita merasa tidak berani untuk menaikkan tawaran gaji kita atau merasa tidak pantas untuk meminta gaji yang lebih tinggi. Hal ini dapat membuat kita merasa tidak termotivasi dan tidak semangat dalam bekerja. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menghargai diri sendiri dan memiliki keberanian untuk ‘nego’ gaji dengan benar. Jika kita merasa bahwa nilai kontribusi dan kualitas kerja kita sebanding dengan gaji yang kita terima, maka kita berhak untuk meminta kenaikan gaji yang pantas. Jangan takut untuk mengungkapkan kebutuhan dan harapan kita kepada atasan kita, karena hal ini merupakan bagian dari pengembangan karir kita.

6. Cenderung merendah
Jika selama ini Anda cenderung tidak suka “show off” bahkan cenderung merendah ternyata justru membuat orang lain memandang Anda adalah orang yang nggak kompeten. Akhirnya hanya orang-orang terdekat Anda yang tahu bahwa Anda sebenarnya cerdas dan tidak kalah kreatif dengan rekan sekerjanya. “Saya membiarkan orang lain beranggapan kalau saya sepayah yang mereka pikirkan. Maka saat saya bisa menjelaskan sesuatu yang masuk akal secara panjang lebar, mereka akan komentar ‘Wah, tumben, baru googling ya?’,” keluh Novita. This is a BIG NO, ya Moms!

Dalam dunia kerja yang kompetitif, penting bagi kita untuk memiliki kepercayaan diri dan menghargai kemampuan kita sendiri. Merendah atau tidak percaya diri dapat membuat orang lain meragukan kompetensi kita dan menganggap kita tidak mampu melakukan tugas-tugas yang diembankan kepada kita. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menunjukkan kemampuan dan potensi kita dengan percaya diri, tanpa perlu merendahkan diri sendiri. Jangan takut untuk berbicara dan berbagi ide-ide yang kita miliki, karena setiap orang memiliki kontribusi yang berharga dalam dunia kerja.

Baca Juga:  Rekomendasi Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi dan Imunologi di Indonesia

7. Malas ‘move on’
Ini bukan soal hati, lho, tapi ini soal pekerjaan. Persoalannya klasik, malas bergerak alias malas mencari-cari peluang baru di tempat lain yang sebenarnya menarik. “Aku selalu ingin menjadi guru atau pengusaha retail,” aku Novita. Tapi sayangnya, cuma gara-gara malas mengirim aplikasi atau datang ke interview pekerjaan, dia harus “terjebak” di kantornya sekarang sampai sekarang sebagai petugas administrasi.

Ketika kita merasa tidak puas atau tidak bahagia dengan pekerjaan kita, penting bagi kita untuk berani mencari peluang baru dan bergerak maju. Terlalu nyaman dan malas untuk ‘move on’ dapat membuat kita terjebak dalam rutinitas yang tidak memuaskan dan tidak memberikan perkembangan karir yang baik. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk aktif mencari peluang baru, mengirim aplikasi, dan menghadiri wawancara pekerjaan. Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman kita dan mencari pekerjaan yang lebih memenuhi kebutuhan dan keinginan kita. Dengan berani bergerak maju, kita dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam karir kita.

Dalam kehidupan kerja, penting bagi kita untuk belajar dari pengalaman orang lain dan menghindari penyesalan yang mungkin kita alami di masa depan. Berlama-lama saat jam makan siang atau meeting di luar, terlalu workaholic, terlalu terbuka membicarakan ide-ide, tidak paham etika side job, tidak ‘nego’ gaji dengan benar, cenderung merendah, dan malas ‘move on’ adalah beberapa penyesalan umum yang sering dialami oleh banyak orang. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengambil pelajaran dari cerita-cerita di atas dan menghindari penyesalan yang sama. Dengan mengatur waktu dengan bijaksana, mengutamakan keluarga, bijak dalam berbagi ide-ide, memahami etika side job, menghargai diri sendiri, memiliki kepercayaan diri, dan berani bergerak maju, kita dapat mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dalam karir kita. Semoga tulisan ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi kita semua.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com