Takut Pelecehan atau Bullying Terjadi Pada Anak Anda? Ini Caranya Bertanya!


Pentingnya Komunikasi yang Efektif dalam Menangani Kasus Pelecehan dan Bullying pada Anak

Pada saat ini, masalah pelecehan dan bullying menjadi perhatian utama dalam dunia pendidikan. Kasus-kasus ini sering kali melibatkan anak-anak sebagai korban, yang membutuhkan perlindungan dan penanganan yang tepat. Dalam menghadapi kasus seperti ini, penting bagi kita sebagai orang dewasa untuk dapat berkomunikasi dengan efektif dengan anak-anak.

Dalam menangani kasus pelecehan, saya selalu berusaha untuk menjadi lebih komunikatif dengan anak-anak. Sambil memantau perkembangan kasus, saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan kepada anak. Pertanyaan-pertanyaan ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang situasi yang dialami oleh anak korban pelecehan.

Misalnya, saat ada kasus pelecehan yang melibatkan anak-anak usia TK atau kelas 1-2 SD, saya akan bertanya tentang bagaimana guru menangani anak-anak tersebut ketika mereka ingin pergi ke toilet dan belum bisa membersihkan diri sendiri. Saya juga akan menanyakan siapa yang mengantar anak ke kamar mandi, apakah guru atau ada personel sekolah yang lain. Selain itu, saya akan bertanya apakah pintu kamar mandi bisa dikunci atau apakah kuncinya rusak.

Hal yang sama juga saya lakukan ketika ada kasus bullying. Saya akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada anak korban, seperti apakah mereka pernah diperlakukan secara fisik atau verbal oleh teman sekelas atau adik kelas. Saya juga akan menanyakan apakah mereka pernah melihat ada yang diperlakukan secara tidak adil di sekolah. Selain itu, saya akan bertanya apakah anak pengganggu tersebut hanya mengganggu satu anak atau lebih dari satu.

Terkadang, ketika kita bertanya kepada anak-anak, mereka cenderung memberikan jawaban yang singkat, seperti “ya”, “tidak”, “lupa”, atau “tidak tahu”. Oleh karena itu, kita perlu bertanya dengan lebih detail agar anak dapat memberikan jawaban yang lebih spesifik. Hal ini akan memudahkan kita dalam memahami situasi yang dialami oleh anak. Sebagai contoh, kita bisa mengajukan pertanyaan seperti ini:

Baca Juga:  Rekomendasi Tempat Belajar Boxing untuk Anak Lengkap dengan Kisaran Biayanya

“Bagaimana cerita kamu tentang saat kamu pergi ke toilet di sekolah? Apa yang kamu lakukan ketika kamu ingin pipis atau BAB?”
“Siapa yang biasanya mengantar kamu ke kamar mandi? Apakah guru atau ada orang lain yang membantu?”
“Apakah kamu pernah melihat ada yang diperlakukan tidak adil di sekolah? Kalau ya, ceritakan lebih detail tentang kejadian tersebut.”

Namun, menurut Kamala London, seorang psikolog forensik dari Universitas Toledo, Ohio, ada cara bertanya yang sebaiknya dihindari. Cara bertanya yang terlalu mengarah atau menjurus dapat mempengaruhi kesaksian anak dan membuatnya menjadi tidak akurat. Hal ini bisa terjadi dalam proses wawancara investigasi forensik, di mana anak dapat memberikan kesaksian yang keliru karena tekanan dari penyidik. Selain itu, jika anak tidak memberikan jawaban yang sesuai dengan harapan penanya, mereka dapat dianggap memiliki ingatan yang buruk dibandingkan dengan teman-temannya.

Dalam beberapa kasus, anak juga bisa mengubah cerita mereka. Pada usia sekitar empat tahun, anak sudah mampu memberikan laporan kejadian dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Namun, jika wawancara dilakukan dengan cara yang salah, anak dapat memberikan kesaksian yang tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya. Sebagai contoh, Kamala melakukan percobaan pada anaknya yang berusia empat tahun. Ketika ditanya tentang warna awan di suatu kota yang belum pernah dia kunjungi, anak tersebut menjawab dengan ragu-ragu, “Mungkin oranye?” daripada mengatakan “Saya tidak tahu” atau “Saya tidak yakin.” Kecenderungan inilah yang membuat anak cenderung memberikan jawaban pada wawancara, walaupun jawaban tersebut mungkin tidak masuk akal.

Dalam beberapa kasus, pertanyaan yang terlalu mendetail dan sering diulang-ulang dalam wawancara terpisah dapat membentuk profil kejadian yang tidak pernah dialami oleh anak. Hal ini bisa terjadi ketika penanya menyelipkan pertanyaan yang sangat spesifik, seperti apakah ada yang memasukkan sesuatu ke anus anak. Ketika pertanyaan semacam ini diulang dalam wawancara-wawancara terpisah, anak dapat membentuk ingatan palsu tentang peristiwa tersebut, bahkan ketika sebenarnya mereka tidak pernah mengalami kejadian tersebut sebelumnya.

Baca Juga:  4 Variasi Permainan Untuk Anak Belajar Sambil Bermain

Mengubah sedikit kata yang digunakan dalam pertanyaan juga bisa mengubah persepsi penjawab, baik anak maupun dewasa. Sebagai contoh, mengganti kata “menyentuh” dengan kata “memasukkan” dalam pertanyaan tentang apakah anus anak pernah disentuh dapat menghasilkan jawaban yang berbeda. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi dengan anak.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menggunakan teknik komunikasi yang tepat saat berinteraksi dengan anak-anak. Poin terpenting adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk bercerita dengan menggunakan bahasanya sendiri. Semakin sedikit kita mengintervensi, cerita anak akan semakin akurat, meskipun pada anak usia TK cerita mereka mungkin masih terbalik-balik secara kronologis.

Untuk anak yang lebih besar, seringkali sulit untuk mengajak mereka berbicara karena mereka sibuk dengan kegiatan mereka sendiri, seperti membaca buku atau bermain. Namun, ada beberapa kiat yang dapat kita lakukan untuk tetap menjalin komunikasi yang baik dengan mereka. Hindari pertanyaan yang bersifat sugestif dan dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak” saja. Gunakan pertanyaan terbuka yang mendorong anak untuk memberikan jawaban yang lebih panjang dan terperinci. Misalnya, kita bisa bertanya, “Apa yang kamu ceritakan saat istirahat atau di kelas tadi?”. Pertanyaan seperti ini akan lebih efektif daripada bertanya, “Apa yang kamu lakukan di sekolah tadi?”.

Selain itu, penting juga untuk tidak mudah panik ketika mendengar cerita atau istilah yang digunakan oleh anak. Sebelum memberikan komentar atau reaksi, dengarkan dulu cerita anak secara keseluruhan. Kita perlu ingat bahwa istilah yang digunakan oleh anak mungkin memiliki arti yang berbeda dengan persepsi kita. Terkadang, kita cenderung panik dan mengajukan pertanyaan yang tidak sesuai, yang pada akhirnya membuat anak enggan memberikan jawaban di waktu mendatang.

Baca Juga:  Convoi Jakarta, Restoran Baru yang Langsung Jadi Favorit Warga Jaksel dan Bintaro

Mempertahankan komunikasi yang baik dengan anak-anak sangat penting, sehingga kita dapat terus mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, baik di sekolah maupun di luar rumah. Namun, kita perlu berhati-hati dalam bertanya, agar tidak membuat anak malas untuk menjawab pertanyaan kita di lain waktu.

Dalam menghadapi kasus pelecehan dan bullying pada anak, penting bagi kita untuk dapat berkomunikasi dengan efektif. Dengan menggunakan teknik komunikasi yang tepat, kita dapat memperoleh informasi yang akurat dari anak-anak. Selain itu, dengan menghindari pertanyaan yang bersifat sugestif dan memberikan kebebasan kepada anak untuk bercerita dengan bahasanya sendiri, kita dapat membangun hubungan yang baik dengan mereka. Dengan begitu, kita dapat memberikan perlindungan dan penanganan yang tepat untuk melindungi anak-anak dari kasus pelecehan dan bullying.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com