Perlukah Mencukur Bulu Kemaluan Pria? Ini Faktanya Menurut Pakar!


Mencukur bulu kemaluan wanita mungkin sudah sering didengar, tetapi bolehkan mencukur bulu kemaluan pria? Pertanyaan ini sering kali membingungkan banyak orang, termasuk para ibu dengan anak pria yang beranjak remaja. Untuk menjawab pertanyaan ini, lembarkerjauntukanak.com berbincang dengan dr. Haekal Anshari, M. Biomed (AAM), seorang dokter anti-aging dan seksolog, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai hal ini.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang mencukur bulu kemaluan pria, penting untuk mengetahui manfaat dari bulu kemaluan itu sendiri. Sama halnya dengan bulu kemaluan wanita, bulu kemaluan pria juga memiliki manfaat kesehatan. Menurut dr. Haekal, salah satu manfaatnya adalah untuk melindungi kulit dari gesekan atau goresan yang mungkin terjadi akibat pemakaian pakaian dalam. Bulu kemaluan juga berfungsi sebagai bantalan saat berhubungan seksual, sehingga dapat menghindarkan kulit dari iritasi. Selain itu, bulu kemaluan juga dapat menurunkan risiko infeksi menular seksual jika rambut kemaluan tetap tumbuh.

Namun, mencukur bulu kemaluan pria juga memiliki sejumlah manfaat yang tidak dapat diabaikan. Seperti yang diungkapkan oleh dr. Haekal, mencukur bulu kemaluan pria dapat mencegah bau tak sedap dan mencegah berkembangnya penyakit yang disebabkan oleh parasit tertentu, seperti kutu. Selain itu, mencukur bulu kemaluan pria juga dapat meningkatkan daya tarik seksual karena pasangan dapat terpicu oleh kebersihan dan rapihnya area sekitar genital pasangannya. Ada juga anggapan bahwa mencukur bulu kemaluan dapat “menambah ukuran penis” karena penis terlihat lebih besar dan hal ini dapat meningkatkan kepercayaan diri pria.

Meskipun mencukur bulu kemaluan pria memiliki manfaat yang signifikan, ada juga risiko yang perlu diperhatikan. Salah satu risiko yang dapat terjadi adalah luka gores, gatal, dan dermatitis kontak jika mencukur bulu kemaluan dengan cara yang kurang tepat atau menggunakan alat yang tidak bersih. Selain itu, mencukur bulu kemaluan pria juga dapat menyebabkan folikulitis, bisul, hiperpigmentasi, dan peningkatan risiko infeksi menular seksual jika dilakukan sebelum atau setelah melakukan hubungan seksual.

Baca Juga:  The House of Grill, 'Surganya' Makanan Grill

Dengan semua manfaat dan risiko yang telah dijelaskan, perlukah pria mencukur bulu kemaluannya? Menurut dr. Haekal, jawabannya adalah ya, namun tidak perlu mencukurnya sampai habis. Dr. Haekal menyarankan untuk mencukur bulu kemaluan setelah mandi, ketika kondisi bulu masih basah dan lebih lembut sehingga lebih mudah dipotong. Lebih baik menggunakan gunting untuk memotong bulu kemaluan agar tidak mencukurnya habis atau menjadi botak. Jika menggunakan pisau cukur atau trimmer, selalu gunakan krim dan cukur searah tumbuhnya rambut untuk menghindari potongan yang terlalu pendek atau menyisakan sedikit batang rambut. Semakin rendah potongan bulu, semakin besar kemungkinan rambut tumbuh ke dalam folikel rambut dan dapat menyebabkan masalah seperti inflamasi dan infeksi.

Selain itu, penting juga untuk selalu menjaga kebersihan alat cukur dengan mendesinfeksi dan mengganti silet pisau cukur secara rutin. Hal ini penting untuk mencegah infeksi dan iritasi kulit yang disebabkan oleh alat yang tidak bersih. Jika ada tanda-tanda iritasi, gatal, atau luka, segera konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Dalam kesimpulannya, mencukur bulu kemaluan pria memiliki manfaat dan risiko yang perlu dipertimbangkan. Meskipun mencukur bulu kemaluan dapat meningkatkan kebersihan, penampilan, dan daya tarik seksual, tetapi perlu dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan cara yang tepat untuk menghindari risiko infeksi dan iritasi. Jika Anda merasa ragu atau memiliki masalah terkait dengan bulu kemaluan, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan saran dan penanganan yang tepat.

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai perlunya mencukur bulu kemaluan pria. Penting untuk selalu mengutamakan kebersihan dan kesehatan, namun juga tetap memperhatikan risiko yang mungkin terjadi. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi Anda yang memiliki pertanyaan atau kebingungan mengenai hal ini.

Baca Juga:  Kenali Gangguan Kulit Wajah Bayi 0-6 Bulan


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com