Pelajaran Berharga Sebagai Seorang Ayah Tiri


Saya tidak pernah merasa malu atau tabu untuk menyandang dan menyebut diri sebagai ayah tiri. Meskipun status ini seringkali dianggap kurang prestisius atau dianggap sebagai peran yang sulit, saya merasa bangga dan bersyukur karena dari status ini, saya dapat belajar banyak pelajaran berharga.

Bertahun-tahun setelah bercerai, saya mulai menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang memiliki dua anak. Kami memiliki hubungan yang baik dan akhirnya memutuskan untuk menikah. Hal ini berarti bahwa saya tidak hanya menikahi sosok perempuan yang saya cintai, tetapi juga menerima paket komplit, yaitu dia beserta kedua anaknya.

Tentu saja, ada rasa khawatir yang muncul dalam diri saya. Namun, di sisi lain, saya juga merasa bersemangat untuk menjalani peran baru saya sebagai seorang ayah. Ayah kandung memiliki waktu 9 bulan lebih untuk mempersiapkan diri menjadi seorang ayah, tetapi bagaimana dengan saya? Meskipun kami telah pacaran selama bertahun-tahun, tetap saja saya merasa deg-degan, ahahaha.

Namun, setelah 7 tahun menjalani peran sebagai ayah tiri, saya menyadari bahwa ada banyak hal yang dapat saya pelajari dari status ini. Berikut adalah beberapa hal yang telah saya pelajari selama menjadi seorang ayah tiri:

1. Ternyata cinta itu memang ada dan bisa saya rasakan. Waktu membuat saya akhirnya memiliki rasa cinta yang besar pada anak-anak tiri saya. Rasanya seperti anak-anak tersebut memiliki darah saya sendiri. Saya rela melakukan apa saja untuk melindungi dan menjaga mereka serta membuat mereka bahagia. Banyak orang yang baru pertama kali mengenal kami tidak menyangka bahwa saya bukan bapak kandung mereka. Ternyata, cinta sebesar itu bisa saya rasakan untuk anak-anak tiri saya.

Baca Juga:  8 Film dengan Adegan Dewasa di Netflix dan Viu, Nomor Tiga Paling Thrilling

2. Cinta memang tak terbatas namun wewenang terbatas. Meskipun cinta saya tidak terbatas untuk anak-anak saya, saya harus sadar bahwa wewenang saya memiliki batasannya. Ada hal-hal tertentu yang memang tidak bisa saya ikut campur, karena ada orang tua kandung mereka di situ. Meskipun mungkin terkadang saya merasa ingin ikut campur, saya harus menerima bahwa ada keputusan-keputusan yang hanya bisa diambil oleh kedua orang tua kandungnya. Dan, dari awal, kami telah sepakat mengenai hal ini.

3. Jangan pernah berusaha mencoba untuk menggantikan posisi ayah kandungnya. Terlebih jika ayah kandungnya masih hidup. Apapun yang terjadi, jangan pernah mencoba mengambil tempatnya. Hal pertama yang harus diingat adalah jangan memaksa anak-anak untuk memanggil kita dengan sebutan Ayah, Papa, Dad, atau sejenisnya. Jangan juga berbicara buruk tentang ayah kandungnya. Saya belajar bahwa seberapa pun anak-anak tidak menyukai ayah kandungnya, mereka tetap merasa tidak nyaman ketika ayahnya dibicarakan buruk.

4. Hadirlah sebagai ayah bagi mereka. Tidak perlu panggilan bapak, ayah, dad, papa, atau sejenisnya, tetapi yang terpenting adalah kita hadir sebagai sosok ayah dalam hidup mereka. Beri mereka saran, berikan penghargaan, pelukan, kasih sayang, dan cinta kita. Ciptakan waktu bersama mereka. Buatlah aktivitas bersama yang membuat mereka merasa nyaman untuk bercerita tentang apapun.

5. Melibatkan mereka dalam hidup kita. Salah satu cara untuk membuat mereka merasa diterima bukan hanya oleh ibu mereka, tetapi juga oleh kita adalah dengan melibatkan mereka dalam hidup kita. Tanyakan pendapat mereka ketika akan membuat keputusan. Ajak mereka untuk ikut serta dalam urun suara.

6. Jadilah pendengar yang baik. Baik kita maupun anak-anak, kita perlu saling berusaha untuk menerima satu sama lain dan saling mendengarkan. Percayalah, hal ini tidaklah mudah. Oleh karena itu, pastikan kita benar-benar mendengarkan dan memberikan respons terhadap kekhawatiran mereka.

Baca Juga:  Bu, Ini Cara Mengatasi Flu Singapura yang Tepat

7. Jangan pernah mencoba untuk menyogok. Saya ingin menekankan bahwa kita tidak boleh pernah mencoba membeli cinta anak-anak dengan hadiah, uang, atau barang. Hal ini hanya akan menjadi bumerang bagi kita. Anak-anak bisa memanipulasi kita dengan cara ini.

8. Kemampuan untuk memaafkan. Ketika anak-anak sulit untuk ditangani, sulit untuk diberi tahu, atau sulit untuk ditegur meskipun itu untuk kebaikan mereka, kita perlu belajar untuk memaafkan. Di atas segalanya, kita juga perlu belajar untuk memaafkan diri sendiri atas hal-hal yang sulit untuk kita lakukan atau atas kesalahan-kesalahan yang telah dan akan kita lakukan.

Demikianlah beberapa hal yang telah saya pelajari selama menjadi seorang ayah tiri. Saya ingin mengucapkan selamat hari ayah nasional untuk kita semua, para ayah tiri. Semoga kita senantiasa dapat menjalani peran ini dengan baik dan memberikan yang terbaik bagi anak-anak tiri kita.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com