Kenali Beragam Tradisi Cukur Rambut Si Kecil

Kenali Beragam Tradisi Cukur Rambut Si Kecil

Tradisi cukur rambut ternyata memiliki perbedaan di beberapa daerah. Setiap daerah memiliki tradisi dan tata cara yang berbeda-beda dalam melaksanakan upacara ini. Tradisi cukur rambut biasanya dilakukan saat si kecil berusia beberapa bulan, dan memiliki makna dan tujuan tertentu. Yuk, dalam artikel ini kita akan mengenal beragam tradisi cukur rambut si kecil dan tata cara melaksanakannya.

1. Tradisi Cukur Rambut dalam Budaya Islam

Budaya mencukur rambut si kecil telah dikenal turun temurun dalam budaya Islam. Para umat muslim biasa menyelenggarakan upacara cukuran saat anaknya berusia 40 hari dengan maksud membersihkan atau menyucikan rambut si kecil dari segala macam najis dan diharapkan nantinya si kecil akan tumbuh sehat dan dijauhkan dari berbagai macam penyakit. Selain itu, upacara ini juga merupakan ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang telah mengaruniakan seorang anak.

Pada pelaksanaan upacara ini, biasanya para pemuka agama setempat akan hadir dan membacakan doa-doa. Si kecil digendong oleh bapak atau kakeknya dan rambutnya akan digunting oleh semua yang hadir dengan cara mencelupkan gunting terlebih dahulu ke dalam air kembang 7 rupa sebelum menggunting beberapa helai rambut si kecil. Potongan rambut tersebut kemudian diletakkan di dalam kelapa hijau yang telah dilubangi. Setelah itu, para penggunting rambut ditetesi minyak wangi pada bajunya. Beberapa hari kemudian, rambut bayi dicukur habis.

Seluruh potongan rambut si kecil ditimbang di timbangan emas dan dinilai seharga nilai emas. Potongan rambut tersebut nantinya akan disumbangkan kepada fakir miskin sebagai bentuk sedekah. Setelah ditimbang, kelapa yang berisi rambut dikubur sebagai simbol harapan agar si kecil kelak menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat, nusa, bangsa, dan agama, serta berbakti kepada orang tuanya.

Baca Juga:  8 Rekomendasi Tempat Terapi Untuk Anak Terlambat Bicara¬†

2. Tradisi Cukur Rambut dalam Budaya Thailand

Di Thailand, terdapat sebuah upacara yang disebut Khwan yang dilakukan saat si kecil berusia satu bulan. Upacara ini terbagi menjadi dua tahap. Pada tahap pertama, rambut si kecil akan dicukur habis oleh biksu atau pemuka agama Budha. Potongan rambut tersebut kemudian ditempatkan pada wadah yang terbuat dari kulit pisang dan diapungkan ke air. Pada tahap kedua, pihak keluarga akan mengikatkan tali pada pergelangan tangan dan pergelangan kaki si kecil kemudian meminta berkat.

3. Tradisi Cukur Rambut dalam Budaya Tionghoa

Dalam budaya Tionghoa, terdapat tradisi yang disebut Man Ye atau Man Yue. Tradisi ini dilakukan ketika si kecil berusia satu bulan. Tujuan utamanya adalah memperkenalkan si kecil pada para kerabat dan relasi dari orang tua. Pada acara ini, rambut si kecil akan dicukur dan dibungkus dengan kain merah yang kemudian dijahit pada bantal si kecil. Hal ini dilakukan dengan harapan agar si kecil menjadi anak yang berani dan tidak mudah takut.

Tuan rumah biasanya akan menyajikan berbagai macam hidangan untuk para tamu. Salah satu hidangan yang wajib ada adalah telur yang kulitnya diberi warna merah. Telur melambangkan suatu tahapan kehidupan yang baru, sedangkan warna merah melambangkan perayaan dan keberuntungan. Bentuk telur yang oval melambangkan harmoni dan kesatuan. Jumlah telur yang disajikan juga memiliki makna tersendiri. Jika si kecil berjenis kelamin laki-laki, telurnya akan berjumlah genap, sedangkan jika si kecil perempuan, telurnya akan berjumlah ganjil.

Pada era modern ini, pihak keluarga lebih suka mengirimkan bingkisan berupa kue atau nasi kotak kepada para kerabat dan relasi. Namun, tradisi memberikan telur tidak ditinggalkan begitu saja. Para tamu yang hadir juga akan membawa berbagai jenis kado seperti pakaian, perlengkapan bayi, angpao, hingga perhiasan emas.

Baca Juga:  16 Hal yang Disukai Para Ibu dari Kegiatan Menyusui

4. Tradisi Cukur Rambut dalam Budaya Bali

Di Bali, tradisi cukur rambut si kecil dilakukan ketika si kecil berusia tiga bulan. Upacara ini memiliki makna untuk memperkenalkan dunia pada si kecil. Sebelum usia tiga bulan, dipercaya bahwa si kecil masih memiliki jiwa yang bersih dan suci. Dengan upacara ini, si kecil pertama kali menyentuh tanah, yang melambangkan kembali ke bumi.

Salah satu bagian dari upacara ini disebut “Ngangkid” yang bermakna penyucian si kecil dari Tuhan yang berada di lautan. Si kecil akan diperciki air suci di tengah lautan oleh pemuka agama Hindu dengan maksud untuk membersihkan segala yang “jahat” pada tubuh si kecil. Setelahnya, si kecil akan diserahkan pada orang tuanya di darat.

Selanjutnya, upacara dilanjutkan di rumah dengan memakaikan si kecil pakaian adat Bali. Kain juga diikatkan pada pergelangan tangan dan kepala si kecil. Pada upacara ini, si kecil akan diberikan perhiasan pertamanya, seperti gelang atau gelang kaki yang terbuat dari perak atau emas. Selain itu, si kecil juga akan diberikan kotak perak yang berisi potongan tali pusat untuk dikalungkan di lehernya. Hal ini dipercaya dapat melindungi si kecil dari kuasa jahat dan ilmu hitam. Upacara diakhiri dengan berdoa bersama orang tua dan si kecil.

Meskipun tradisi cukur rambut memiliki perbedaan di setiap daerah, agama, dan kepercayaan, tujuannya tetap sama, yaitu untuk memberikan yang terbaik bagi si kecil. Dalam setiap tradisi tersebut terkandung makna dan harapan agar si kecil tumbuh menjadi pribadi yang baik, berbakti kepada orang tua, dan berguna bagi masyarakat, nusa, bangsa, dan agama.

Dalam merawat dan mendidik si kecil, penting bagi orang tua untuk menjaga dan melestarikan tradisi-tradisi yang ada. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya memiliki nilai historis dan budaya, tetapi juga memiliki makna dan pesan yang dapat menjadi pedoman dalam mendidik si kecil. Selain itu, melibatkan si kecil dalam tradisi-tradisi tersebut juga dapat memperkuat ikatan keluarga dan memperkenalkan nilai-nilai yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  6 Nutrisi dalam Susu Penambah Berat Badan Anak 2 Tahun

Dengan memahami beragam tradisi cukur rambut si kecil, kita dapat lebih menghargai dan mempelajari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Selain itu, kita juga dapat memilih tradisi yang sesuai dengan keyakinan dan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan pada si kecil.

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com