Mengenali Gaya Belajar Anak: Visual, Auditori atau Kinestetik?


Kemarin, saya melihat ada seorang pengguna Instagram yang mengomentari tentang kesulitan mengajari anak-anak mereka. Komentar tersebut ditujukan kepada akun lembarkerjauntukanak.com. Saya bisa memahami betapa sulitnya mengajari anak-anak, terutama jika kita tidak memahami gaya belajar mereka.

Dari pengalaman yang saya miliki, pemahaman tentang gaya belajar sangat berpengaruh terhadap tingkat konsentrasi anak-anak dan kesabaran kita sebagai orang tua yang mengajari mereka. Sebagai contoh, anak saya memiliki gaya belajar kinestetik. Ketika dia sedang belajar membaca, jika saya memintanya untuk duduk diam, dia akan mulai mengeluh setelah membaca satu atau dua kata saja.

Namun, jika saya membiarkannya membaca flash card sambil melompat-lompat, dia bisa mengenal dan mengucapkan semua kata yang ada di flash card tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi kita sebagai orang tua untuk mengenali gaya belajar anak-anak kita, agar kita tidak merasa frustasi dan bingung mengapa anak-anak kita sulit berkonsentrasi saat belajar.

Selain itu, kita juga perlu mengenali gaya belajar kita sendiri. Saya sendiri ternyata memiliki gaya belajar visual, sementara anak saya memiliki gaya belajar kinestetik. Hal ini membuat proses belajar mengajar kami tidak selaras. Saya ingin dia duduk diam sementara saya mengajarkan pelajaran melalui visualisasi, sementara dia lebih suka bergerak terus dan tidak terlalu peduli dengan gambar-gambar yang saya tunjukkan. Bagi dia, tidak masalah jika dia harus mengucapkan huruf-huruf dari flash card yang tidak memiliki gambar.

Mengenali gaya belajar anak-anak kita sangat penting untuk membantu mereka belajar dengan lebih efektif. Dalam artikel ini, saya akan menjelaskan tiga gaya belajar anak yang perlu kita ketahui.

1. Gaya belajar kinestetik
Anak-anak dengan gaya belajar kinestetik harus bergerak agar bisa berkonsentrasi lebih lama. Mereka menggunakan indera peraba untuk menyentuh segala sesuatu sebagai cara untuk belajar dengan lebih cepat. Anak-anak dengan gaya belajar ini sering dianggap hiperaktif karena sulit untuk diam. Mereka sering harus menyentuh orang lain saat berbicara dan tidak betah jika harus duduk dalam waktu yang lama.

Baca Juga:  Rekomendasi Buku Tentang Kesehatan Mental dari dokter Jiemi Ardian

Jika kita memiliki anak dengan gaya belajar kinestetik, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka belajar dengan lebih baik. Pertama, kita bisa memberikan kesempatan mereka untuk bergerak saat belajar. Misalnya, kita bisa membiarkan mereka melompat-lompat atau berjalan-jalan kecil saat kita mengajarkan mereka membaca atau menulis. Kedua, kita bisa menggunakan alat peraga yang dapat mereka sentuh, seperti blok-blok huruf atau angka, untuk membantu mereka memahami konsep-konsep tertentu. Ketiga, kita bisa memanfaatkan permainan fisik, seperti bermain peran atau bermain bola, untuk mengajarkan mereka konsep-konsep matematika atau sains.

2. Gaya belajar audiotori
Anak-anak dengan gaya belajar audiotori memiliki kecenderungan untuk belajar melalui pendengaran. Mereka suka mengulang-ulang ucapan yang menarik mereka dan senang mendengarkan musik serta menghafal lirik-lirik lagu. Mereka lebih menyukai pembelajaran melalui ucapan dan pendengaran.

Jika kita memiliki anak dengan gaya belajar audiotori, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka belajar dengan lebih baik. Pertama, kita bisa mengucapkan pelajaran mereka dengan keras. Jika mereka sedang belajar membaca, kita bisa mengucapkan setiap huruf dan kata dengan jelas agar mereka bisa mengikutinya. Kedua, kita bisa menggunakan musik atau lagu sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Misalnya, kita bisa membuat lagu tentang suatu pelajaran agar anak-anak bisa lebih mudah mengingatnya. Ketiga, kita bisa memanfaatkan rekaman atau audio book untuk membantu mereka memahami materi pelajaran yang sulit.

3. Gaya belajar visual
Anak-anak dengan gaya belajar visual lebih suka belajar melalui penglihatan. Mereka suka buku bergambar, sesuatu yang berwarna-warni, diagram, belajar melalui video, demo langsung, dan sebagainya. Gaya belajar ini lebih cocok dengan metode pembelajaran kelas tradisional.

Baca Juga:  Mengenal Plagiocephaly pada Bayi, Penyebab, dan Risikonya

Jika kita memiliki anak dengan gaya belajar visual, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka belajar dengan lebih baik. Pertama, kita bisa menyediakan buku-buku bergambar atau materi pembelajaran yang memiliki visual yang menarik. Kedua, kita bisa menggunakan diagram atau grafik untuk membantu mereka memahami konsep-konsep yang sulit. Ketiga, kita bisa menggunakan video atau demo langsung sebagai alat bantu dalam pembelajaran.

Dalam mengajari anak-anak, kita perlu mengenali gaya belajar mereka dan menyesuaikan metode pembelajaran kita agar mereka bisa belajar dengan lebih efektif. Jika kita memahami gaya belajar anak-anak kita, kita akan mengurangi tingkat frustrasi dan meningkatkan tingkat keberhasilan mereka dalam belajar.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com