Ibunya Gemuk, Janinnya, Kok, Kurus?


I. Penyakit Metabolik pada Ibu Hamil

Ketika seorang ibu hamil mengalami peningkatan berat badan yang signifikan namun berat janin yang kurang, hal ini dapat menjadi tanda adanya penyakit metabolik. Penyakit metabolik adalah kondisi yang terkait dengan produksi energi di dalam tubuh manusia. Pada ibu hamil, salah satu jenis penyakit metabolik yang sering terjadi adalah diabetes melitus gestasional (DMG).

Penyakit metabolik seperti DMG lebih cenderung terjadi pada trimester kedua kehamilan. Ketika ibu hamil mengalami kondisi ini, terjadi gangguan metabolisme dan perubahan gula di dalam tubuh untuk dijadikan energi. Akibatnya, aliran nutrisi dari ibu ke janin terganggu dan pertumbuhan janin pun terhambat. Selain DMG, kondisi preeklamsia atau hipertensi dalam kehamilan juga dapat mengganggu penambahan berat badan janin.

II. Risiko Bayi dengan Berat Badan Rendah

Bayi yang lahir dengan berat badan rendah umumnya memiliki komposisi lemak tubuh yang lebih sedikit. Hal ini dapat meningkatkan risiko bayi mengalami kedinginan atau hipotermia. Bayi dengan kondisi ini juga memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit atau gangguan sirkulasi. Oleh karena itu, bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu mendapatkan perawatan khusus, seperti ditempatkan di inkubator agar suhu tubuhnya tetap hangat. Selain itu, asupan makan bayi dengan berat badan rendah juga harus diawasi dengan ketat hingga mencapai berat badan yang ideal.

III. Pengelolaan Penyakit Metabolik pada Ibu Hamil

Tidak ada obat paten yang dapat menyembuhkan atau mengatasi penyakit metabolik yang dialami ibu hamil. Namun, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengelola kondisi ini. Salah satunya adalah dengan mengatur pola makan menjadi lebih sehat, seimbang, bervariasi, dan memilih jenis makanan yang tepat. Pola makan sehat dan seimbang berarti ibu hamil harus mengonsumsi berbagai jenis makanan dengan jumlah yang cukup. Penambahan kalori yang diperlukan ibu hamil hanya sekitar 300 kilokalori per hari pada trimester kedua dan ketiga. Sedangkan pola makan yang bervariasi dan memilih jenisnya berarti ibu hamil harus mengonsumsi makanan yang mengandung berbagai nutrisi penting, seperti serat, vitamin, dan mineral.

Baca Juga:  57 Dokter Anak Favorit di Jabodetabek, Ada Dokter Favoritmu?

IV. Pentingnya Olahraga dan Pemeriksaan Rutin

Selain mengontrol pola makan, ibu hamil juga disarankan untuk tetap melakukan olahraga sesuai dengan yang disarankan oleh dokter. Salah satu jenis olahraga yang paling mudah dan aman untuk ibu hamil adalah jalan kaki. Melakukan olahraga secara teratur dapat membantu menjaga kesehatan ibu dan janin, serta memperbaiki kondisi metabolisme tubuh. Selain itu, penting juga bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, minimal satu bulan sekali. Dengan rutin memeriksakan kehamilan, jika terjadi hal-hal yang tak diharapkan pada janin, dapat segera ditangani dengan cepat.

V. Kesimpulan

Dalam kehamilan, peningkatan berat badan ibu hamil yang signifikan namun berat janin yang kurang dapat menjadi tanda adanya penyakit metabolik. Penyakit metabolik seperti diabetes melitus gestasional atau kondisi preeklamsia dapat mengganggu penambahan berat badan janin dan pertumbuhan janin secara keseluruhan. Untuk mengelola kondisi ini, ibu hamil perlu mengatur pola makan menjadi lebih sehat, seimbang, bervariasi, dan memilih jenis makanan yang tepat. Selain itu, penting juga bagi ibu hamil untuk tetap melakukan olahraga dan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin. Dengan melakukan langkah-langkah ini, diharapkan dapat mengurangi risiko komplikasi pada kehamilan dan memastikan kesehatan ibu dan janin tetap terjaga.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com