Cara Hadapi Mom Shaming untuk Para Bunda Baru
Mom shaming merupakan fenomena yang sering dialami oleh para ibu baru. Fenomena ini berupa perilaku menyalahkan atau mengkritik perbedaan pola asuh seorang ibu sehingga membuatnya merasa bersalah di mata orang lain. Mom shaming dapat terjadi baik secara langsung maupun di media sosial. Hal ini seringkali membuat para ibu baru merasa kewalahan dan terbebani dengan tekanan dari lingkungan sekitar.
Sebagai ibu baru, perasaan setelah melahirkan tentu campur aduk. Bunda merasa bahagia atas kelahiran buah hati, namun juga merasakan kelelahan dan kewalahan dalam menghadapi tugas baru sebagai ibu. Terlebih lagi, karena ini merupakan pengalaman pertama dalam merawat buah hati, seringkali ada saja hal yang dikritik oleh orang lain. Mulai dari cara menggendong, kuantitas ASI, lampu kamar yang dimatikan atau dinyalakan saat si kecil tidur, dan sebagainya.
Tahukah ibu? Hal yang kerap membuat para ibu baru mengalami baby blues ini dikenal dengan nama mom shaming. Mom shaming umumnya terjadi dari orang-orang terdekat seperti orang tua, mertua, om-tante, kakek-nenek, bahkan teman sebaya yang lebih dulu memiliki buah hati. Komentar-komentar yang sering dilontarkan seperti “kok, si kecil nangis terus? ASI kamu kurang ya, makanya bayinya lapar terus,” atau “bayinya kasihan, saat tidur lampunya dinyalakan. Pantas saja tiap malam selalu bangun,” dan sejenisnya dapat dianggap sebagai mom shaming.
Meski mom shaming terkesan sederhana bagi yang menyatakan, ternyata hal ini dapat membawa efek buruk bagi psikologi ibu dan tumbuh kembang si kecil. Menurut survei oleh C.S Mott Children’s Hospital di Amerika Serikat, 67% ibu yang mendapat mom shaming merasa kurang percaya diri dalam merawat si kecil. Rasa tidak percaya diri ini akan membuat si kecil merasa kurang nyaman sehingga memengaruhi tumbuh kembangnya.
Bagaimana cara menghadapi mom shaming? Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan oleh para ibu baru:
1. Respon dengan diam, lalu ambil dan hembuskan napas panjang
Saat mendapat kritikan tajam tentang pola asuh si kecil, ibu pasti kaget dan terkejut. Namun, merespon dengan defensif kemungkinan besar akan memicu pertengkaran. Oleh sebab itu, ibu sebaiknya diam terlebih dulu, lalu mengatur emosi dengan mengambil napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan. Hal ini dapat membantu ibu untuk tetap tenang dan menjaga kesehatan mentalnya.
2. Iyakan terlebih dulu, lalu cari tahu kebenarannya
Kritik seringkali muncul dari niatan baik, namun cara penyampaiannya kurang tepat. Oleh sebab itu, ibu bisa mengiyakan saran dari para “senior” terlebih dulu, lalu mencari tahu kebenarannya melalui artikel kesehatan atau berkonsultasi dengan dokter anak. Dengan mencari informasi yang valid, ibu dapat memutuskan apakah kritik tersebut memang benar atau tidak.
3. Ingatkan bahwa ibu “dilahirkan” bersama si kecil
Apabila kritik-kritik tersebut mulai mengganggu, ibu bisa mengingatkan mereka bahwa status “ibu” baru dirasakan setelah si kecil lahir. Jadi, meskipun secara individu usia ibu cukup dewasa, pengalaman ibu setara dengan usia si kecil. Bunda memiliki hak dan kemampuan untuk mengambil keputusan terbaik untuk si kecil.
4. Tak usah pedulikan kritik yang menghancurkan
Beberapa orang mungkin memberikan kritik yang membangun, namun ada juga yang bersifat destruktif. Untuk kritik yang bersifat merusak, sebaiknya ibu bersikap cuek dan tidak terlalu mempedulikannya. Mengabaikan kritik yang tidak konstruktif dapat menjaga kesehatan mental ibu.
5. Perbanyak ilmu tentang perawatan bayi
Untuk dapat menanggapi kritik dengan cerdas, ibu perlu memperbanyak pengetahuan tentang perawatan bayi. Bunda dapat mengikuti seminar untuk para ibu baru, bergabung di forum diskusi ibu dan balita, membaca artikel tumbuh kembang anak, atau bahkan bertanya langsung kepada dokter anak. Dengan memiliki pengetahuan yang cukup, ibu dapat menjawab kritik dengan argumen yang kuat dan membela pilihan pola asuh yang telah diambil.
Menanggapi mom shaming memang tidaklah mudah. Namun, sebagai ibu yang paling mengenal si kecil, ibu tentunya lebih tahu apa yang terbaik bagi buah hati kesayangan. Oleh karena itu, ibu harus tetap percaya pada diri sendiri dan tidak terlalu memperdulikan kritik yang tidak konstruktif. Semangat terus merawat si kecil, bu!
Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com