Jangan Abai! Ketahui Tanda-tanda dan Penyebab Anak Menangis

Jangan Abai! Ketahui Tanda-tanda dan Penyebab Anak Menangis

Halo, para ibu yang setia membaca artikel ini! Kali ini saya ingin membahas mengenai anak yang menangis. Menangis merupakan bentuk komunikasi anak kepada orang lain karena ia belum mampu berbicara. Saat ia menangis, ia pasti menginginkan sesuatu, seperti lapar, haus, popoknya kotor, kepanasan, kesepian, atau merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita perlu mempelajari arti tangisan bayi agar dapat memberikan respon yang tepat.

Ternyata, membiarkan anak menangis terlalu lama, terutama di 3 bulan pertama usianya, dapat berisiko menimbulkan dampak yang kurang baik bagi perkembangan psikologisnya. Menurut penelitian, terlalu lama membiarkan si Kecil menangis bisa membuatnya merasa tertekan. Hal ini nantinya memiliki dampak yang kurang baik bagi proses tumbuh kembangnya, seperti mudah merasa cemas, kurang responsif terhadap orang lain, dan bahkan bisa menyebabkan ia memberikan perlakuan yang sama pada orang–orang di sekitarnya termasuk generasi penerus si Kecil nanti. Perasaan tertekan yang terus menerus ini, lama-kelamaan bisa menyebabkan munculnya Distressed Tantrum.

Selain itu, membiarkan anak menangis terlalu lama juga bisa berdampak pada rasa percaya anak terhadap orang tua dan anggota keluarga lainnya. Ketika anak menangis dan tidak mendapatkan respon yang memadai, ia bisa merasa bahwa orang tuanya tidak peduli atau tidak memperhatikan kebutuhannya. Jika terlalu sering dibiasakan, bisa-bisa hal tersebut justru menumbuhkan rasa tidak percaya baik kepada orang tua maupun anggota keluarga lain yang turut mengurusnya.

Dampak lainnya dari membiarkan anak menangis terlalu lama adalah berisiko mempengaruhi sikap dan perilakunya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Universitas Harvard, Yale, dan Baylor, perasaan tertekan dapat menurunkan fungsi dari sel otak pada bayi. Hal ini nantinya bisa menyebabkan si Kecil mengalami gangguan konsentrasi (ADHD), prestasi akademik yang kurang baik, atau kecenderungan menjadi anti-sosial.

Baca Juga:  Rekomendasi Posisi Tidur Ibu Hamil yang Aman dan Nyaman

Tidak hanya itu, membiarkan anak menangis terlalu lama juga dapat berdampak pada perkembangan kecerdasan anak. Dr. Rao dari National Institutes of Health mengungkapkan bahwa bayi yang dibiarkan menangis terlalu lama di 3 bulan pertama, berisiko mengalami perkembangan kemampuan motorik yang lemah dan memiliki IQ 9 poin lebih rendah di usia 5 tahun. Sebagai pendukung proses tumbuh kembangnya, si Kecil justru harus diberikan stimulasi secara rutin yang bisa membantu perkembangan motoriknya.

Selain berdampak pada perkembangan psikologis dan kecerdasan, membiarkan anak menangis terlalu lama juga dapat membuatnya kurang mandiri. Akibat dari membiarkan si Kecil menangis terlalu lama juga bisa membuatnya menjadi lebih cengeng, kurang bahagia, agresif, suka menuntut, atau senang berteriak agar keinginannya terpenuhi. Selain kurang mandiri, risiko ini juga bisa menyebabkan munculnya Power Tantrum, yaitu perilaku melampiaskan emosi yang berlebihan saat anak tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.

Dalam menghadapi tangisan anak, sebagai orang tua kita perlu mengetahui penyebabnya agar dapat memberikan respon yang tepat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tangisan anak bisa disebabkan oleh lapar, haus, popok kotor, kepanasan, kesepian, atau merasa tidak nyaman. Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan dan mempelajari bahasa bayi melalui tangisannya.

Tangisan kencang biasanya menandakan bahwa si Kecil merasa kesakitan. Saat mendengar tangisan kencang seperti itu, segera hampiri si Kecil dan cari penyebabnya. Suara ‘neh’ menandakan bahwa si Kecil sedang lapar. Suara ini muncul saat ia mencoba menghisap dan meletakkan lidahnya pada langit-langit mulutnya. Jika si Kecil menangis dengan suara ‘owh’ dan sering menguap, itu menandakan bahwa ia mulai lelah setelah banyak beraktivitas dan ingin tidur. Suara ‘eh, eh’ menandakan bahwa si Kecil ingin bersendawa. Bantu si Kecil bersendawa dengan memposisikan badannya secara tegak dan sandarkan di salah satu bahu. Tepuk-tepuk perlahan punggungnya hingga ia mengeluarkan sendawa. Sedangkan jika si Kecil menangis sedikit-sedikit atau terlihat bosan, segera hibur ia dengan mengajaknya bermain atau membawanya ke tempat lain.

Baca Juga:  Membuat Kepala Beruang

Dalam menghadapi tangisan anak, kita juga perlu memahami bahwa setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda-beda. Terkadang, anak hanya ingin dicium, digendong, atau diajak berbicara untuk merasa nyaman. Oleh karena itu, sebagai orang tua, kita perlu selalu siap memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak kita.

Akhir kata, sebagai orang tua, kita perlu memahami bahwa tangisan anak adalah bentuk komunikasinya. Jangan abaikan tangisan anak dan berikan respon yang tepat. Jika Bunda merasa informasi dari saya kurang jelas, mungkin Bunda bisa langsung berbincang dengan pakar psikologi anak atau berkonsultasi dengan dokter si Kecil juga. Terima kasih sudah membaca dan semoga tumbuh kembang si Kecil semakin optimal!

Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com