Anak Sakit, Namun Ibu Harus Tetap Bekerja?


Kenali budaya perusahaan

Sebagai seorang working mom, penting untuk mengetahui dan memahami budaya perusahaan tempat kita bekerja. Setiap perusahaan memiliki kebijakan yang berbeda-beda terkait dengan kehadiran anak yang sakit. Sebelum memulai bekerja, ada baiknya untuk mencari tahu apakah perusahaan memiliki fleksibilitas waktu atau kebijakan khusus yang memperhatikan kebutuhan para working mom. Dengan mengetahui kebijakan ini, kita dapat mempersiapkan diri dan mengatur jadwal kerja dengan lebih baik ketika anak sakit.

Work from home/ from hospital dsb

Salah satu alternatif yang bisa kita coba ketika anak sakit namun kita tetap harus bekerja adalah dengan melakukan work from home atau work from hospital. Beberapa perusahaan mungkin memiliki kebijakan yang memperbolehkan karyawan untuk bekerja dari rumah atau rumah sakit dalam situasi-situasi tertentu. Hal ini memungkinkan kita untuk tetap menjaga anak yang sakit dan juga menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan. Contohnya, saat anak saya harus opname karena terkena DBD beberapa waktu lalu, saya dapat bekerja dari rumah atau rumah sakit dengan tetap terhubung melalui telepon atau email dengan rekan kerja dan atasan.

Saya sangat beruntung karena perusahaan tempat saya bekerja sekarang mengenal istilah work from home. Saat anak saya harus opname di rumah sakit Hermina Jatinegara, saya dapat tetap bekerja dari kamar tempat anak saya opname yang dilengkapi dengan wifi gratis. Hal ini sangat membantu saya dalam menjaga anak saya dan juga menyelesaikan pekerjaan dengan efektif.

Bekerja sama dengan rekan kerja satu tim

Ketika anak sakit dan kita harus tetap bekerja, penting untuk berkomunikasi dengan anggota tim kita. Jelaskan pada mereka bahwa ada kemungkinan kita tidak dapat memegang pekerjaan dengan sepenuhnya dan membutuhkan bantuan mereka untuk menangani tugas-tugas tersebut. Dalam kasus saya, saat anak saya terkena DBD dan harus opname, saya menjelaskan pada rekan kerja bahwa saya tidak dapat fokus sepenuhnya pada pekerjaan dan membutuhkan bantuan mereka. Adis, salah satu rekan kerja saya, dengan baik hati menjadi pemain tunggal untuk mengurus pekerjaan kantor. Begitu juga saat anaknya Adis harus operasi usus buntu, saya dan rekan kerja lainnya membantu dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

Baca Juga:  Bu, Ketahui Jenis dan Beragam Manfaat Nutrisi

Dalam situasi seperti ini, kerjasama tim sangat penting. Dengan saling membantu dan mendukung satu sama lain, kita dapat menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai seorang working mom dan pekerjaan kita di kantor.

Bekerja setengah hari

Jika perusahaan tidak memperbolehkan work from home atau work from hospital, kita juga bisa mencoba untuk meminta izin bekerja setengah hari. Caranya adalah dengan berkomunikasi dengan atasan dan menjelaskan situasi yang sedang kita hadapi dengan anak yang sakit. Saya pernah mengalami hal ini ketika anak saya harus opname karena tifus. Saya meminta izin pada atasan untuk bekerja setengah hari, entah dari pagi hingga jam makan siang atau setelah makan siang hingga jam pulang kantor. Hal ini memungkinkan saya untuk tetap menjaga anak saya di rumah sakit dan juga menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan yang memang harus saya hadiri.

Memiliki fleksibilitas waktu kerja seperti ini sangat membantu para working mom dalam mengatasi situasi darurat seperti anak yang sakit. Dengan izin setengah hari, kita dapat mengatur jadwal kerja yang lebih fleksibel dan tetap menjaga anak yang sakit dengan baik.

Meminta bantuan

Sebagai seorang working mom, kita tidak perlu merasa harus menangani semua hal sendiri. Jangan ragu untuk meminta bantuan kepada suami, orangtua, atau saudara untuk menjaga anak kita sementara kita mengurus pekerjaan. Ketika anak sakit dan kita harus tetap bekerja, bantuan dari orang terdekat sangat berarti. Mereka dapat membantu menjaga anak kita sehingga kita dapat fokus pada pekerjaan tanpa khawatir.

Tidak ada salahnya untuk meminta bantuan. Sebagai seorang working mom, kita juga butuh istirahat dan waktu untuk menjaga kesehatan kita sendiri. Dengan meminta bantuan, kita dapat membagi tanggung jawab dan merasa lebih tenang dan terjamin bahwa anak kita dalam perawatan yang baik.

Baca Juga:  5 Kandungan Nutrisi Susu Ibu Menyusui untuk Pelancar ASI

Jangan lupakan si kakak atau si adik yang ada di rumah

Ketika anak yang sakit membutuhkan perhatian lebih, seringkali kita cenderung melupakan anak-anak lain yang ada di rumah. Namun, sebagai seorang working mom, penting untuk tidak melupakan mereka dan memberikan perhatian yang sama pentingnya. Ketika salah satu anak saya harus opname, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk tetap berkomunikasi dan memberikan perhatian pada anak saya yang ada di rumah.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah dengan rutin menelepon anak saya yang ada di rumah dan mengajaknya berbicara. Saya juga memanfaatkan teknologi seperti facetime agar anak yang ada di rumah dapat melihat suasana di rumah sakit dan merasa lebih terlibat. Hal ini memberi mereka rasa nyaman dan mengurangi rasa cemburu atau kehilangan karena harus ditinggalkan di rumah.

Ketika anak yang sakit sudah boleh pulang, saya selalu mengizinkan anak yang ada di rumah untuk turut menjemput. Hal ini memberikan perasaan bahwa mereka juga penting dan ikut dalam momen penting seperti pulangnya saudara mereka dari rumah sakit.

Namun, sebagai seorang working mom, kita juga harus bisa melihat tingkat urgensi dari situasi ini. Jangan sampai karena anak yang sekadar pilek kita memilih untuk ngendon di rumah dan meninggalkan pekerjaan. Saat memutuskan untuk bekerja, kita harus siap menghadapi risiko-risiko seperti ini dan tetap menjaga keseimbangan antara tanggung jawab sebagai seorang ibu dan pekerjaan kita di kantor.

Sebagai seorang working mom, menghadapi situasi ketika anak sakit dan kita harus tetap bekerja memang tidak mudah. Namun, dengan memahami budaya perusahaan, mencari solusi alternatif seperti work from home atau work from hospital, bekerja sama dengan rekan kerja, meminta bantuan, dan tidak melupakan anak-anak lain yang ada di rumah, kita dapat mengatasi tantangan ini dengan lebih baik.

Baca Juga:  Kehamilan Dengan Placenta Previa

Kita tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini. Ada banyak working mom lain yang juga mengalami hal yang sama dan mendukung satu sama lain. Dalam komunitas para working mom, kita dapat berbagi pengalaman, memberikan dukungan, dan mencari solusi bersama. Kita dapat saling menginspirasi dan membantu satu sama lain dalam menjaga keseimbangan antara menjadi seorang ibu dan seorang pekerja.

Sebagai seorang working mom, kita harus menghargai diri sendiri dan mengenali batasan kita. Kesehatan dan kebahagiaan anak kita adalah prioritas utama, namun pekerjaan juga merupakan tanggung jawab yang harus kita penuhi. Dengan memahami kebijakan perusahaan, mencari solusi yang tepat, dan meminta bantuan ketika diperlukan, kita dapat menjaga keseimbangan dan menjadi seorang working mom yang sukses.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com