Ketahui Makna 13 Rangkaian Upacara Adat Panggih di Pernikahan Putri Tanjung  


Resmi menikah, Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo gunakan upacara adat Jawa, yaitu Panggih. Simak makna dari masing-masing rangkaian upacaranya.

Pada Minggu (20/3), Putri Indahsari Tanjung, putri dari Chairul Tanjung, konglomerat sekaligus CEO Transmedia Digital Lifestyle, resmi menikah dengan kekasihnya, Guinandra Jatikusumo. Prosesi pernikahan mereka dilangsungkan di kediaman Putri di daerah Menteng, Jakarta Pusat.

Meskipun pernikahan ini dilaksanakan di rumah, namun semua rangkaian upacara, mulai dari siraman hingga akad nikah, digelar dengan kemeriahan dan kemewahan. Seluruh ruangan dihiasi dengan bunga-bunga berwarna putih, gading, merah, dan merah muda, yang sejalan dengan busana yang dikenakan oleh kedua pengantin.

Acara pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo turut dihadiri oleh beberapa tamu terhormat, termasuk Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Boediono. Kehadiran Presiden Jokowi dan SBY juga sebagai saksi pernikahan Putri dan Guinandra. Chairul Tanjung, Chairman CT Corp, bertindak sebagai wali nikah, sedangkan H. Thowilan, penghulu dan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Menteng, memimpin akad nikah.

Bukan hanya itu, hadir pula beberapa menteri seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Tak ketinggalan, Jaksa Agung Burhanuddin, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, serta beberapa mantan menteri dan pejabat negara juga turut hadir dalam pernikahan ini.

Pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo dilangsungkan dengan menggunakan adat Jawa Solo yang memiliki berbagai rangkaian upacara adat, salah satunya adalah upacara panggih.

Baca Juga:  Inilah Vitamin Penambah Nafsu Makan yang Baik untuk Si Kecil

Upacara Panggih

Upacara panggih merupakan salah satu prosesi pernikahan adat Jawa yang dilaksanakan setelah akad nikah. Panggih dalam bahasa Jawa artinya bertemu. Makna dari upacara panggih ini adalah agar kedua mempelai yang baru menikah dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia disertai restu dari orangtua dan sanak keluarga.

Berikut adalah urutan pelaksanaan upacara panggih:

1. Penyerahan Pisang Sanggan

Prosesi dimulai dengan penyerahan pisang Sanggan. Pisang Sanggan merupakan simbol tebusan yang diberikan oleh orangtua mempelai pria kepada orangtua mempelai wanita. Sanggan terdiri dari dua sisir pisang raja matang yang masih berada di pohon, sirih ayu, kembang telon berisi bunga mawar, melati, kenanga, dan benang lawe.

2. Menukar Kembang Mayang

Setelah penyerahan pisang Sanggan, dilakukan prosesi menukar kembang mayang. Kembang mayang terdiri dari anyaman janur, bunga, dan buah yang disusun sedemikian rupa agar terlihat indah. Kembang mayang melambangkan cita-cita, harapan, dan kemauan untuk bersama-sama menciptakan kebahagiaan dan keselamatan.

3. Balangan Gantal atau Lempar Sirih

Prosesi selanjutnya adalah balangan gantal atau lempar sirih. Balangan berarti melempar, sedangkan gantal adalah daun sirih yang diisi dengan bunga pinang, kapur sirih, tembakau, dan gambir yang diikat dengan benang lawe. Upacara ini dilakukan dengan kedua mempelai berhadap-hadapan dengan jarak sekitar dua meter. Mempelai pria melemparkan gantal ke dahi, dada, dan lutut mempelai wanita, sedangkan mempelai wanita juga membalas dengan melemparkan gantal ke dada dan lutut mempelai pria. Prosesi ini memiliki makna untuk saling melemparkan kasih sayang.

4. Menginjak Telur atau Ranupada

Prosesi selanjutnya adalah menginjak telur atau ranupada. Ranupada berasal dari kata “ranu” yang berarti air dan “pada” yang berarti kaki. Perlengkapan yang digunakan dalam prosesi ini terdiri dari gayung, bokor, baki, bunga sritaman, dan telur ayam. Pemaes, orang yang bertugas memimpin prosesi, mengambil telur ayam yang kemudian disentuhkan di dahi mempelai pria dan mempelai wanita. Setelah itu, telur ayam dipecahkan di kaki mempelai pria dan dibasuh dengan air bersih oleh mempelai wanita. Prosesi ini melambangkan bakti istri kepada suami agar rumah tangga bahagia dan harmonis.

Baca Juga:  Mengapa Anak Cenderung Suka Susu Cokelat?

5. Sindur Binayang

Prosesi selanjutnya adalah Sindur Binayang atau Selimut Sindur. Pada prosesi ini, orangtua mempelai wanita menyelimuti kedua mempelai dengan kain sindur. Setelah itu, orangtua mempelai wanita pelan-pelan berjalan bersama dengan kedua mempelai menuju kursi pelaminan.

6. Pangkon atau Bobot Timbang

Setelah tiba di pelaminan, prosesi pangkon atau bobot timbang dilakukan. Ayah mempelai wanita memangku kedua mempelai di pelaminan dan disaksikan oleh ibu mempelai wanita.

7. Tanam Jero

Prosesi selanjutnya adalah tanam jero. Kedua mempelai berdiri di depan kursi mempelai, kemudian ayah mempelai wanita mendudukkan kedua mempelai ke kursi pelaminan sambil memegang dan menepuk-nepuk bahu keduanya. Prosesi ini memiliki makna bahwa kedua mempelai telah “ditanam” bersama agar menjadi pasangan yang mandiri.

8. Kacar Kucur atau Tampa Kaya

Prosesi kacar kucur atau tampa kaya melambangkan kewajiban suami untuk memberikan nafkah kepada istri. Kacar kucur terdiri dari keba atau kantong tikar anyaman yang berisi beras kuning, kacang, kedelai, uang logam, dan kembang telon seperti bunga melati, mawar, dan kenanga.

9. Dahar Klimah

Prosesi dahar klimah adalah saat kedua mempelai saling menyuapi satu sama lain. Makanan yang disajikan adalah nasi kuning yang piringnya dipegang oleh mempelai wanita, kemudian mempelai pria memberikan segelas air putih kepada mempelai wanita. Prosesi ini melambangkan kerukunan suami istri yang akan membawa kebahagiaan dalam rumah tangga.

10. Bubak Kawah atau Ngunjuk Rujak Degan

Prosesi bubak kawah atau ngunjuk rujak degan dilakukan oleh kedua mempelai dan orangtua mempelai wanita. Minuman ini terbuat dari serutan kelapa muda yang dicampur dengan gula merah, sehingga rasanya segar dan manis. Prosesi ini melambangkan kebersamaan dan kerukunan.

Baca Juga:  2 Manfaat Lidah Buaya Bagi Bayi, Bisa Diolah untuk MPASI Lho

11. Mapag Besan atau Besan Datang Berkunjung

Prosesi mapag besan dilakukan ketika orangtua mempelai pria menjemput orangtua mempelai wanita ke pelaminan. Sebelumnya, orangtua mempelai pria tidak diperkenankan hadir di pelaminan selama prosesi panggih sampai ngunjuk rujak degan selesai.

12. Sungkeman atau Pangabekten

Prosesi sungkeman dilakukan oleh kedua mempelai dengan bersembah sujud di pangkuan kedua orangtua. Sungkeman dilakukan sebagai bentuk berbakti dan patuh dari kedua mempelai terhadap kedua orangtua.

13. Rayahan atau Tumplak Punjen

Prosesi tumplak punjen adalah penutup dari rangkaian upacara panggih. Tumplak berarti menuang, sedangkan punjen berarti hasil usaha dan jerih payah yang dikumpulkan orangtua. Prosesi ini melambangkan selesainya kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya. Dalam prosesi ini, orangtua mempelai wanita memberikan bungkusan-bungkusan kepada anak dan menantunya sebagai teladan mengenai nilai kerelaan, hidup hemat, dan tidak suka merebut hak orang lain.

Dalam pernikahan Putri Tanjung dan Guinandra Jatikusumo, upacara panggih dilaksanakan dengan penuh makna dan simbolisme yang kaya. Upacara ini bertujuan untuk memberikan restu dan harapan agar pasangan baru ini dapat menjalani kehidupan rumah tangga dengan bahagia dan sukses. Semua rangkaian upacara adat Jawa Solo tersebut mengandung nilai-nilai kebersamaan, saling melemparkan kasih sayang, saling menghormati, dan saling berbakti antara kedua mempelai, keluarga, dan sanak keluarga.


Subscribe, follow lembarkerjauntukanak.com